Ekonomi Pembangunan Pengantar Arthur Lewis

Ekonomi Pembangunan Pengantar Arthur Lewis


BAB I


PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Bicara tentang
Pertumbuhan dan
Pembangunan Ekonomi  takkan pernah ada habisnya  , Ekonomi sebagai instrument penting dalam kehidupan manusia menjadi suatu pokok permasalahan ummat manusia dimuka bumi ini yang dibahas dari masa ke masa .
 Pembicaraan seputar ekonomi yang tidak ada habisnya membuat Ilmu Ekonomi menjadi salah satu ilmu yang sangat menarik perhatian masyarakat dunia.  .
Sejak zaman dahulu  samapai zaman mod ini dunia telah menghadirkan berjuta – juta ahli
ilmu
ekonomi dari segala belahan dunia diantaranya yang paling popular
A
dam Smith , Karl Marx , Jhon Mayne Keynes , Due west.W Rostow
,

Arthur Lewis
,
 Hollis Chenery
,
 Theotonio Dos Santos
 dan lain – lain yang masing – masing memiliki presepsi yang berbeda – beda seputar  ilmu ekonomi.

Seperti halnya permasalahan ekonomi lainnya , masalah seputar Pertumbuhan dan Pembangunan  Ekonomi menjaadi issu yang paling menarik untuk dibahas , apalagi sejak berakhirnya Perang Dunia II yang banyak menghadirkan Negara – Negara baru merdeka yang menghadami masalah – masalah seputar pembangunan ekonomi .

Sejak zaman Adam Smith hingga sampai saat ini telah menghadirkan banyak Teori – teori seputar Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi , Teori – teori itupun berbeda – beda  dan bahkan ada yang bertentangan . Hal ini terjadi dikarenakan adanya  perbedaan presepsi dari para ahli ekonomi seputar pertumbuhan dan pembangunan ekonomi . Perbedaan presepsi itu sendiri sebenarnya hadir dikarenakan adanya perbedaan idiologi , kondisi masyarakat, kondisi alam serta struktur ekonomi dari Negara masing – masing ahli ekonomi atau yang menjadi studi kasus dari teori – teori yang dikemukakan. Sehingga status kebenaran akan suatu teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi itu tidak mutlak namun tidak pula keliru atau terbantahkan ketika hadir teori – teori baru . karena setiap teori itu benar pada masanya dan efektif pada kondisinya.

Hadirnya teori – teori pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang beragam ini menjadi manivesto besar bagi ilmu ekonomi yang memeberikan manfaat yang besar pula bagi Negara – Negara sedang berkembang  dalam hal pembangunn ekonomi .  Teori – teori ini tentunya akan menjadi referensi bagi setip negara berkembang dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi yang sesuai dengan negaranya.

B.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu

·
Apa yang dimaksud dengan Teori Pertumbuhan dan Pembangunan ?

·
Bagaimanakah Teori Pertumbuhan Linear ( Klasik) ?

·
Bagaimanakah Teori Pertumbuhan struktur ?

·
Bagaimanakah Teori Defensia (ketergantungan) ?

·
Bagaimanakah Teori Baru ?

C.

Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah

·
Untuk mengerahui apa yang  dimaksud dengan Teori Pertumbuhan dan Pembangunan

·
Untuk memahami Teori Pertumbuhan Linear ( Klasik)

·
Untuk memahami Teori Pertumbuhan struktur

·
Untuk memahamiTeori Defensia (ketergantungan)

·
Untuk memahami  Teori Baru


BAB II


PEMBAHASAN

TEORI PERTUMBUHAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI

Teori tentang pertumbuhan dan pembanguan ekonomi telah banyak dikemukan oleh para ahli ekonomi disetiap masanya . teori – teori itu beraneka ragam , berbeda –beda  dan bahkan bertentangan .Adelmen (196) mengidentifikasikan ada tiga faktor utama yang mendorong perbedaan  teori dan paradigma pembangunan ekonomi dari masa kemasa. Pertama adanya perubahan idiologi, Setiap generasi pemikir ekonomi mempunyai footing ideology sendiri – sendiri serta memiliki rujukan teoretis dan rekomendasi kebijakan ( policy prescription) yang berlainan. Bila terjadi perubahan basis ideology, maka kerangka teori dan rekomendasi kebijakan pun akan berubah

Kedua adanya revolusi dan inovasi teknologi . Aktivitas ekonomi kini mengalami perubahan yang sangat central akibat sukses besar revolusi teknologi informasi dan komunikasi .Revolusi teknologi yang berlangsung spektakuler ini membawa implementasi luas dari pengaruh kuat pada perkembangan teori ddan paradigma pembangunan.  Contoh lahirnya paradigm perekonomian berbasis pengetahuan ( noesis based economy) adalah produk revolusi teknologi tersebut. Ketiga adanya perubahan lingkungan internasional sebagai dampak globalisasi ekonomi yang berlangsung sangat intensif, yang tercermin pada semakin terintegrasinya kegiatan ekonomi . Gejala integrasi ekonomi yang lazim disebut perekonomian tanpa batas ( borderless economy).

Ada beberapa teori yang telah hadir dari sebuah masalah pertumbuhan perekonomian diantaranya Teori pertumbuhan Ekonomi Linear / Klasik , Teori pertubuhan   Tori pertumbuhan dan perubahan stuktural ekonomi , Teori ketergantungan ( Diferency) dan teori Pertumbuhan Baru.

A.

Teori Pertumbuhan EkonomI Linear / Klasik

Dalam sejarah pemikiran ekonomi, ahli-ahli ekonomi yang membahas tentang proses pertumbuhan ekonomi dapat dikelompokkan menjadi empat aliran yaitu aliran klasik, neo-klasik, Schumpeter, dan post Keynesian. Ahli ekonomi yang lahir antara abad delapan belas dan permulaan abad kedua puluh ini, lazim digolongkan sebagai aliran/kaum Klasik. Aliran/kaum klasik ini dibedakan ke dalam dua golongan, yaitu: aliran Klasik dan aliran Neo-Klasik. Dari kedua golongan ahli-ahli ekonomi Klasik dan Neo-Klasik, sebagian besar menumpahkan perhatiannya pada analisis sifat-sifat kegiatan masyarakat dalam jangka pendek, hanya sedikit sekali yang menganalisis mengenai masalah pertumbuhan ekonomi. Kurangnya perhatian kedua golongan tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi disebabkan terutama oleh pandangan mereka yang diwarisi dari pendapat Adam Smith, yang berkeyakinan bahwa mekanisme pasar akan menciptakan suatu perekonomian berfungsi secara efisien.

Menurut Schumpeter, perkembangan ekonomi bukan merupakan proses yang harmonis ataupun gradual, melainkan merupakan perubahan yang spontan dan terputus-putus. Selanjutnya menurut Schumpeter, perkembangan selanjutnya itu tidak bersifat gradual, tetapi mengandung ketidaktentuan dan risiko yang besar, sehingga tidak dapat diperhitungkan terlebih dahulu dan ini menyebabkan timbulnya keragu-raguan dalam mengembangkan usaha lebih lanjut. Menurut Schumpeter, faktor terpenting untuk perkembangan ekonomi adalah wiraswasta (entrepreneur). Karena mereka adalah orang-orang yang mengambil inisiatif untuk berkembangnya produksi nasional.

Ahli-ahli Mail-Keynesian mencoba mengembangkan teori pertumbuhan Keynes. Pada hakikatnya teori tersebut dikembangkan oleh dua ahli ekonomi secara sendiri-sendiri, namun karena inti dari teori tersebut adalah sama, maka sekarang dikenal sebagai teori Harrod-Domar. Teori Harrod-Domar pada hakikatnya menganalisis mengenai persoalan-persoalan tentang: syarat-syarat apakah atau keadaan yang bagaimanakah yang harus tercipta dalam perekonomian untuk menjamin agar dari masa ke masa kesanggupan memproduksi yang selalu bertambah, sebagai akibat dari penanaman modal akan selalu sepenuhnya digunakan.

Baca :   Esai Tentang Peran Mahasiswa Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional


1.



Tahap-tahap Pembangunan Ekonomi

Ada beberapa ahli yang memaparkan teori tentang tahap-tahap pembangunan ekonomi yaitu Fredrich List, Bruno Hilderbrand, Karl Bucher dan W.W Rostow. Fredrich List adalah seorang penganut paham Laissez faire. Ia berpendapat bahwa paham Laissez faire dapat menjamin alokasi sumber-sumber secara optimal, meskipun ia menghendaki adanya proteksi bagi industri-industri yang masih lemah. Menurut List, perkembangan ekonomi hanya akan terjadi apabila dalam masyarakat terdapat kebebasan dalam organisasi politik dan kebebasan perseorangan. Ia menyusun tahap-tahap perkembangan ekonomi di mulai dari: fase primitif biadab, fase pertanian, fase pertanian dan pabrik, pabrik dan perdagangan.

Bruno Hilderbrand mengemukakan bahwa tahap-tahap pembangunan ekonomi itu menjadi three tahap yaitu: perekonomian castling atau perekonomian natural, perekonomian uang, dan perekonomian kredit.

Menurut Karl Bucher, perkembangan ekonomi melalui tiga tingkat atau tahap yaitu: produksi untuk kebutuhan sendiri, perekonomian kota dan perekonomian nasional, di mana peranan pedagang-pedagang tampak makin penting. Menurut tahap ketiga ini, bahwa barang-barang itu diproduksi untuk pasar bukan untuk kepentingan sendiri.

Tahap-tahap pembangunan ekonomi menurut Rostow dikelompok-kan menjadi: masyarakat tradisional, prasyarat lepas landas, lepas landas, menuju kematangan dan konsumsi berlebih.

2.

Teori Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi Walt Whitman Rostow

Teori Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi ini diklasifikan sebagai teori modernisasi. Artikel Walt Whitman Rostow yang dimuat dalam

Economics Periodical

pada Maret 1956 berjudul

The Take-Off Into Cocky-Sustained Growth





pada awalnya memuat ide sederhana bahwa transformasi ekonomi setiap negara dapat ditelisik dari aspek sejarah pertumbuhan ekonominya hanya dalam tiga tahap: tahap prekondisi tinggal landas (yang membutuhkan waktu berabad-abad lamanya), tahap tinggal landas (20-30 tahun), dan tahap kemandirian ekonomi yang terjadi secara terus-menerus.

Walt Whitman Rostow kemudian mengembangkan ide tentang perspektif identifikasi dimensi ekonomi tersebut menjadi lima tahap kategori dalam bukunya
The



Stages of Economical Growth: A Non-Communist Manifesto

yang diterbitkan pada tahun 1960. Ia meluncurkan teorinya sebagai ‘sebuah manifesto anti-komunis’ sebagaimana tertulis dalam bentuk subjudul. Rostow menjadikan teorinya sebagai alternatif bagi teori Karl Marx mengenai sejarah modern. Fokusnya pada peningkatan pendapatan per kapita, Buku itu kemudian mengalami pengembangan dan variasi pada tahun 1978 dan 1980.

Rostow pulalah yang membuat distingsi antara sektor tradisional dan sektor kapitalis modern. Frasa-frasa ini terkenal denganterminologi ‘
less developed
’, untuk menyebut kondisi suatu negara yang masih mengandalkan sektor tradisional, dan terminologi ’
more developed
’ untuk menyebut kondisi suatu negara yang sudah mencapai tahap industrialisasi dengan mengandalkan sektor kapitalis modern.

Dalam hal prekondisi untuk meningkatkan ekonomi suatu negara, penekanannya terdapat pada keseluruhan proses di mana masyarakat berkembang dari suatu tahap ke tahap yang lain. Tahap-tahap yang berbeda ini ditujukan untuk mengidentifikasi variabel-variabel kritis atau strategis yang dianggap mengangkat kondisi-kondisi yang cukup dan perlu untuk perubahan dan transisi menuju tahapan baru yang berkualitas. Teori ini secara mendasar bersifat unilinear dan universal, serta dianggap bersifat permanen.

Pembangunan, dalam arti proses, diartikan sebagai modernisasi yakni pergerakan dari masyarakat pertanian berbudaya tradisional ke arah ekonomi yang berfokus pada rasional, industri, dan jasa. Untuk menekankan sifat alami ‘pembangunan’ sebagai sebuah proses, Rostow menggunakan analogi dari sebuah pesawat terbang yang bergerak sepanjang lintasan terbang hingga pesawat itu dapat lepas landas dan kemudian melayang di angkasa.
Pembangunan, dalam arti tujuan, dianggap sebagai kondisi suatu negara yang ditandai dengan adanya: a) kemampuan konsumsi yang besar pada sebagian besar masyarakat, b) sebagian besar not-pertanian, dan c) sangat berbasis perkotaan.
Sebagai bagian teori modernisasi, teori ini mengkonsepsikan pembangunan sebagai modernisasi yang dicapai dengan mengikuti model kesuksesan Barat. Para pakar ekonomi menganggap bahwa teori tahap-tahap pertumbuhan ekonomi ini merupakan contoh terbaik dari apa yang diistilahkan sebagai ‘teori modernisasi’.


Tahap-Tahap Linear Pertumbuhan Ekonomi menurut Walt Whitman Rostow





1.Tahap masyarakat tradisional

(the traditional order)
, dengan karakteristiknya:

  • Pertanian padat tenaga kerja;

§
Belum mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi (era Newton);

  • Ekonomi mata pencaharian;
  • Hasil-hasil tidak disimpan atau diperdagangkan; dan
  • Adanya sistem castling.

2.Tahap pembentukan prasyarat tinggal landas

(the preconditions for takeoff)
,
yang ditandai dengan:

  • Pendirian industri-industri pertambangan;
  • Peningkatan penggunaan modal dalam pertanian;
  • Perlunya pendanaan asing;
  • Tabungan dan investasi meningkat;
  • Terdapat lembaga dan organisasi tingkat nasional;
  • Adanya elit-elit baru;
  • Perubahan seringkali dipicu oleh gangguan dari luar.

iii.Tahap tinggal landas

(the take-off)
, yaitu ditandai dengan:

  • Industrialisasi meningkat;
  • Tabungan dan investasi semakin meningkat;
  • Peningkatan pertumbuhan regional;
  • Tenaga kerja di sektor pertanian menurun;
  • Stimulus ekonomi berupa revolusi politik,
  • Inovasi teknologi,
  • Perubahan ekonomi internasional,
  • Laju investasi dan tabungan meningkat five – x persen dari
  • Pendapatan nasional,
  • Sektor usaha pengolahan (manufaktur),
  • Pengaturan kelembagaan (misalnya sistem perbankan).

4.Tahap pergerakan menuju kematangan ekonomi

(the drive to maturity)
, ciri-cirinya:

  • Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan;
  • Diversifikasi industri;
  • Penggunaan teknologi secara meluas;
  • Pembangunan di sektor-sektor baru;
  • Investasi dan tabungan meningkat x – 20 persen dari pendapatan nasional.

5.Tahap era konsumsi-massal tingkat tinggi

(the age of high mass-consumption)

dengan:

  • Proporsi ketenagakerjaan yang tinggi di bidang jasa;
  • Meluasnya konsumsi atas barang-barang yang tahan lama dan jasa;
  • Peningkatan atas belanja jasa-jasa kemakmuran

B.


Teori


P


ertumbuhan dan Perubahan Struktur Ekonomi



Teori ini biasanya diterapkan oleh negara-negara berkembang atau pada negara dunia ketiga. Misalnya di negara bagian Asia Timur. Dibandingkan di negara maju, negara berkembang masih menerapkan standard ekonomi tradisional. Dimana penduduknya masih bermata pencaharian sebagai petani sebagian besarnya.


Untuk itu, bagaimana negara berkembang dapat menyesuaikan diri di perkembangan zaman, hanya terletak bagimana negara tersebut menuntun dan mengarahkan kemajuan negaranya (khususnya dalam hal ini di bidang ekonomi) untuk dapat bersaing dan menjadi negara maju.


Diperlukan berbagai macam metode dan cara untuk menjalankannya. Di sini kita akan membahas mengenai bagaimana cara menerapkan salah satu metode yang dapat dijalankan untuk melakukan suatu perubahan tersebut, yaitu Teori Perubahan Struktural (Structural Change Theory).

                  Teori perubahan struktural => bagaimana suatu negara merubah struktur mode ekonominya dari sektor ekonomi tradisional menjadi ekonomi modern. Ekonomi modern yang disesuaikan dengan perkembangan zaman globalisasi pada saat ini.



Baca :   Pengaruh Pembangunan Ekonomi Terhadap Nilai Sosisl Budaya

Pembangunan ekonomi dalam jangka panjang, mengikuti pertumbuhan pendapatan nasional, akan membawa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi tradisional dengan pertanian sebagai sector utama ke ekonomi modern yang didominasi sector non primer, khususnya industri manufaktur denganincreasing return to calibration (relasi positif antara pertumbuhan output dan pertumbuhan produktivitas) yang dinamis sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi (Weiss, 1988).

Meminjam istilah Kuznets, perubahan struktur ekonomi umum disebut transformasi structural dan dapat didefinisikan sebagai rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dalam komposisi permintan agregat, perdagangan luar negeri (ekspor dan impor), dan penawaran agregat (produksi dan penggunaan factor-faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal) yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Chenery, 1979).


Teori perubahan structural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transformasi ekonomi yang dialami oleh negara-negara sedang berkembang, yang semula bersifat subsisten (pertanian tradisional) dan menitikberatkan sector pertanian menuju struktur perekonomian yang lebih modern yang didominasi sector non primer, khususnya industri dan jasa.  Ada ii teori utama yang umum digunakan dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi yakni dari Arthur Lewis (teori migrasi) dan Hollis Chenery (teori transformasi structural).

Teori Arthur Lewis pada dasarnya membahas proses pembangunan ekonomi yang terjadi di pedesaan dan perkotaan (urban).  Dalam teorinya, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sector utama.  Di pedesaan, karena pertumbuhan penduduknya tinggi, maka kelebihan suplai tenaga kerja dan tingkat hidup masyarakatnya berada pada kondisi subsisten akibat perekonomian yang sifatnya juga subsisten.Over supply tenaga kerja ini ditandai dengan nilai produk marjinalnya nol dan tingkat upah riil yang rendah.

Di dalam kelompok negara-negara berkembang, banyak negara yang juga mengalami transisi ekonomi yang pesat dalam tiga decade terakhir ini, walaupun pola dan prosesnya berbeda antar negara.  Hal ini disebabkan oleh perbedaan antar negara dalam sejumlah factor-faktor internal berikut:

i)      Kondisi dan struktur awal dalam negeri (economical base of operations)

2)      Besarnya pasar dalam negeri

3)      Pola distribusi pendapatan

4)      Karakteristik industrialisasi

five)      Keberadaan SDA

half dozen)      Kebijakan perdagangan LN



C. Teori Ketergantungan (Defendency)

Menurut Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan dimana kehidupan ekonomi negara – negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara – negara lain, di mana negara – negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Negara – negara pinggiran yang pra-kapitalis merupakan Negara – negara yang tidak dinamis, yang memakai cara produksi Asia yang berlainan dengan cara produksi feodal Eropa yang menghasilkan kapitalisme. Negara – negara pinggiran ini, setelah disentuh oleh kapitalis maju, akan bangun dan berkembang mengikuti jejak Negara – negara kapitalis maju. Namun terdapat kritikan mengenai teori tersebut, bahwa negara-negara pinggiran yang pra-kapitalis mempunyai dinamika sendiri yang bila disentuh oleh Negara – negara kapitalis maju, akan berkembang secara mandiri. Justru karena Negara – negara kapitalis maju ini perkembangan Negara – negara pinggiran menjadi terhambat.


Dos Santos menguraikan 3 bentuk ketergantungan:
.



ane. Ketergantungan Kolonial






Terjadi penjajahan dari negara pusat ke negara pinggiran. Kegiatan ekonominya adalah ekspor barang-barang yang dibutuhkan negara pusat. Hubungan penjajah – penduduk sekitar bersifat eksploitatif.




2. Ketergantungan Finansial-Industrial:








Negara pinggiran merdeka tetapi kekuatan finansialnya masih dikuasai oleh negara-negara pusat. Ekspor masih berupa barang – barang yang dibutuhkan negara pusat. Negara pusat menanamkan modalnya baik langsung maupun melalui kerjasama dengan pengusaha lokal.
.


3.Ketergantungan Teknologis-Industrial:






Bentuk ketergantungan baru. Kegiatan ekonomi di negara pinggiran tidak lagi berupa ekspor bahan mentah untuk negara pusat. Perusahaan multinasional mulai menanamkan modalnya di negara pinggiran dengan tujuan untuk kepentingan negara pinggiran.


Meskipun demikian teknologi dan patennya masih dikuasai oleh negara pusat. Dos Santos membahas juga struktur produksi dari sebuah proses industrialis, bahwa:


·

Upah yang dibayarkan kepada buruh rendah sehingga daya beli buruh rendah.


·

Teknologi padat modal memunculkan industri modern, sehingga: Menghilangkan lapangan kerja yang sudah ada. Menciptakan lapangan kerja baru yang jumlahnya lebih sedikit. Larinya keuntungan ke luar negeri membuat ketiadaan modal untuk membentuk industri nasional sendiri. Oleh sebab itu, kapitalisme bukan kunci pemecahan masalah melainkan penyebab munculnya masalah ini.


Henrique Cardoso dengan gagasannya “Associated-Dependent Development” menyatakan bahwa produksi dapat dilakukan di Negara – negara pinggiran karena adanya perlindungan sistem paten. Selain itu kebijakan proteksi dan bea masuk mendorong perusahaan multinasional untuk membangun perusahaan di negara pinggiran. Meskipun demikian, industrialisasi di negara pusat dan pinggiran tetap berbeda. Sifat – sifat industrialisasi di negara pinggiran adalah sebagai berikut:


·

Ketimpangan pendapatan yang makin besar.


·

Menekankan pada produksi barang – barang konsumsi mewah dan bukan barang – barang yang dibutuhkan rakyat.


·

Mengakibatkan utang yang semakin tinggi jumlahnya dan menghasilkan kemiskinan.


·

Kurang terserapnya tenaga kerja.


Peter Evans dengan gagasannya “Dependent Development” menyatakan bahwa produksi sudah diserahkan ke negara pinggiran karena adanya kemajuan teknologi dan menguatnya rasa nasionalisme negara pinggiran.


Dalam dependent development terjadi pembangunan industrialisasi di negara pinggiran dengan kerjasama borjuis lokal, muncul perusahaan multinasional raksasa, otak perusahaan tersebut berada di negara pusat dan cabang – cabang yg ada di negara pinggiran hanya boleh mengambil keputusan operasional di cabang tersebut.


Kerjasama antara pemerintah lokal dan modal asing bersifat kerjasama ekonomi sehingga mendorong terjadinya proses industrialisasi. Sedangkan kerjasama antara pemerintah dengan borjuis local bersifat politis untuk mendapatkan legitimasi politik, kaitannya dengan nasionalisme negara tersebut. Nasionalisme yg ada di negara pinggiran tidak dimaksudkan untuk membuat negara tersebut menjadi mandiri tetapi sebagai alat untuk memeras perusahaan multinasional tersebut.


Baca :   Nomor Telepon Ekonomi Pembangunan Unpatti Maluku

Robert A. Packenham (1974), mengajukan kritik atas teori ketergantungan dengan menyebutkan kekuatan teori ketergantungan dan kelemahan teori ketergantungan.
 Menurut Packenham,

Ø
 kekuatan teori ketergantungan antara lain:


·

Menekankan pada aspek internasional.


·

Mempersoalkan akibat dari politik luar negeri (industri terhadap pinggiran).


·

Mengkaitkan perubahan internal negara pinggiran dengan politik luar negeri negara maju.


·

Mengaitkan antara analisis ekonomi dengan analisis politik.


·

Membahas antarkelas dalam negeri dan hubungan kelas antarnegara dalam konteks internasional.


·

Memberikan definisi yang berbeda tentang pembangunan ekonomi (tentang kelas – kelas sosial, antardaerah dan antarnegara).


Sedangkan kelemahan teori dependensi antara lain:
Ø


·

Hanya menyalahkan kapitalisme.


·

Konsep kunci yang kurang jelas termasuk istilah “ketergantungan”.


·

Ketergantungan dianggap sebagai konsep yang dikotomis.


·

Tidak ada kemungkinan lepas dari ketergantungan.


·

Ketergantungan dianggap sebagai sesuatu yang negatif.


·

Ketergantungan tidak melihat aspek psikologis.


·

Ketergantungan menyepelekan konsep nasionalisme.


·

Teori Ketergantungan sangat normatif dan subyektif.


·

Hubungan antarnegara dalam teori ketergantungan bersifat zero-sum game (kalau yang satu untung, yang lain rugi), padahal kenyataannya tidak ada hubungan yang bersifat seperti itu.


·

Karena konsepnya tidak jelas maka tidak dapat diuji kebenarannya, sehingga teori ini menjadi tautologies (selalu benar).


·

Menganggap aktor politik sebagai boneka dari kepentingan modal asing.


·

Kajian yang kurang rinci dan tajam akibatnya teori ini kurang dapat dipergunakan untuk menganalisis dengan tajam.


Teori ketergantungan dari John A Hobson. menjelaskan imperialisme dan kolonialisme melalui motivasi keuntungan ekonomi. Teori ini merupakan kelompok teori Gold, yang menjelaskan, bahwa terjadinya imperialisme karena adanya dorongan untuk mencari pasar dan investasi yang lebih menguntungkan. Ketika pasar dalam negeri telah jenuh atau pasar dalam negeri terbatas, maka mereka mencari pasar baru di Negara – negara lain. Menurut Vladimir Ilich Lenin, imperialisme merupakan puncak kapitalisme. Kapitalisme yang semula berkembang dari kompetisi pasar bebas, mematikan perusahaan – perusahaan lain dan memunculkan kapitalisme yang menguasai pasar. Walaupun bentuknya pada jaman sekarang ini tidak menggunakan armada militer, namun dampaknya tetap saja merugikan negara yang menjadi objek penanaman investasi mereka.
Teori ketergantungan pada dasarnya menyetujui, bahwa yang menjadi penyebab ketergantungan adalah kekurangan modal dan kurangnya tenaga ahli. Tetapi faktor penyebabnya adalah proses imperialisme dan neo imperialisme yang menyedot surplus modal yang terjadi di negara pinggiran ke negara pusat. Akibat pengalihan surplus ini, negara pinggiran kehilangan surplus utama yang dibutuhkan untuk membangun negerinya. Maka, pembangunan dan keterbelakangan merupakan dua aspek dari sebuah proses global yang sama. Proses global ini merupakan proses kapitalisme dunia. Di kawasan yang satu, proses itu melahirkan pembangunan, di kawasan yang lain, menyebabkan lahirnya keterbelakangan.



Keterbelakangan yang dialami oleh negara-negara berkembang yang telah secara intensif mendapat bantuan dari negara-negara maju menyebabkan ketidakpuasan terhadap asumsi – asumsi yang dikemukakan oleh teori modernisasi. Keadaan ini menimbulkan reaksi keras dari para pemerhati masalah – masalah sosial yang kemudian mendorong timbulnya teori dependensi. Teori ini menyatakan bahwa karena sentuhan modernisasi itulah Negara – negara dunia ke-tiga kemudian mengalami kemunduran (keterbelakangan), secara ekstrim dikatakan bahwa kemajuan atau kemakmuran dari negara-negara maju pada kenyataannya menyebabkan keterbelakangan dari Negara – negara lainnya (the development of underdevelopment); siapa sebenarnya yang menolong dan siapa yang ditolong ?.



D.



Teori Pertumbuhan Baru

Dalam teori pertumbuhan baru terdapat beberapa teori diantaranya


1.



Teori Pertumbuhan Baru (NGT)

Teori pertumbuhan baru, yang pada dasarnya merupakan teori pertumbuhanendogen, memberikan kerangka teoritis untuk menganalisis pertumbuhan endogen karena menganggap pertumbuhan GNP lebih ditentukan oleh sistem proses produksi dan bukan berasal dari luar sistem. Berbeda dengan teori tradisional neoklasik yang menganggap pertumbuhan GNP sebagai akibat dari keseimbangan jangka panjang. Motivasi dasar dari teori NGT adalah menjelaskan perbedaan tingkat pertumbuhan antarnegara dan proporsi yang lebih besar dari pertumbuhan yang diamati.

2.


Teori Geografi Ekonomi Baru (NEG)



Salah satu sumbangan yang paling penting teori neo klasik adalah pengenalan terhadap keuntungan-keuntungan aglomerasi (Preer, 1992:34). Pelopor teori neo klasik mengajukan argumentasi bahwa aglomerasi muncul dari perilaku para pelaku ekonomi dalam mencari penghematan aglomerasi, baik penghematan lokalisasi maupun urbanisasi.

Sebagaimana diidentifikasi oleh Krugman :Pertama, lokasi kegiatan ekonomi dalam suatu negara merupakan topik yang penting dengan sendirinya….kedua, garis antara ilmu ekonomi internasional dengan ilmu ekonomi regional menjadi semakin kabur…ketiga, alasan yang paling penting untuk melihat kembali geografi ekonomi adalah laboratorium intelektual dan empiris yang disediakannya (Krugman, 1991:8).

three.


Teori Perdagangan Baru (NTT)



Teori keunggulan komparatif mengajukan dalil bahwa : (i) negara berdagang untuk memperoleh keuntungan dari perbedaan sumber daya alam yang mereka miliki; (2) daerah akan berspesialisasi berdasarkan keunggulan komparatif yang mereka

milik
i.


BAB III


PENUTUP


A.



Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa setipa teori itu benar pada masanya dan efektif pada kondisinya , adanya perbedaan presepsi dari setiap teori tentang pertumbuhan dan pembangunan ekonomi bukanlah sebuah masalah yang mesti dibesar – besarkan melainkan menjadi sebuah manivesto besar ilmu ekonomi yang dapat menjadi sebuah referensi yang bermanfaat dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi di Negara – Negara sedang berkembang.


B.



Saran

Penerapan atas teori dari materi diatas baiknya memperhatikan \terlebih kondisi kondisi perekonomian di Negara sedang berkembang yang akan menerapkan teori, sebelum memilih penerapan yang mana yang sesuai karena setiap teori di atas hadir bedasarkan kondisi yang berbeda – beda dengan paradigm pembangunan yang berbeda pula.

TOKOH – TOKOH YANG BERPENGARUH DIDALAMNYA :

one. ADAM SMITH

2. DAVID RICHARDO

three. MALTHUS

Ekonomi Pembangunan Pengantar Arthur Lewis

Source: https://ukkybarru.blogspot.com/2013/11/teori-teori-pertumbuhan-dan-pembangunan.html

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …