Globalisasi Dan Pembangunan Ekonomi Dalam Kajian Perdamaian

Globalisasi Dan Pembangunan Ekonomi Dalam Kajian Perdamaian

Konsensus dalam Forum R20 dan tercapainya hasil konkret KTT G20, mengantarkan Indonesia sebagai katalisator dalam mewujudkan perdamaian dunia melalui mitigasi konflik agama dan ketimpangan ekonomi.

Agama dan ekonomi merupakan satu kesatuan yang seyogiyanya berjalan seirama. Secara filosofis, agama merupakan serangkaian, keyakinan, peraturan , serta tuntutan moral bagi setiap aspek kehidupan manusia, termasuk ketika manusia berinteraksi dengan sesama manusia atau dengan alam. Sementara, ekonomi adalah pengetahuan tentang peristiwa dan persoalan yang berkaitan dengan upaya manusia secara perorangan atau pribadi, organisasi, negara dalam memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas yang di hadapkan pada sumber daya pemuas yang terbatas. Sehingga, sejatinya agama dan ilmu ekonomi memang perlu berjalan beriringan sebagai suatu ekuilibrium kehidupan manusia.

Maka, tepat bila Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan Muslim World League/Rabithah `Alam Al- Islami (Liga Muslim Dunia) menginisiasi Forum G20 Faith Forum atau Religion 20 (R20) bertajuk
Revealing and Nurtuling Organized religion as a Sources of Global Solution: A Global Motion for Shared Moral and Spiritual Values. R20 yang memanfaatkan petemuan G20 bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam agenda perdamaian, pembangunan ekonomi, dan stabilitas dunia dengan melibatkan para pemuka agama dari berbagai agama, terutama dari negara-negara anggota G20. Dengan demikian, R20 dapat dijadikan moral sekaligus landasan bagi Konferensi Tingkat Tinggi G20 dalam mencapai konsensus dan upaya pengimplementasiannya.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Besar NU KH. Yahya Cholil Staquf fokus mengungkapkan, pentingnya seluruh pemuka agama di dunia menjalin hubungan baik antar agama, sehingga mampu mendorong perdamaian dunia. Kehidupan yang rukun dan tenteram sudah menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukan, dirawat, dan ditunjukkan oleh seluruh elemen bangsa dengan latar belakang apapun, baik dari sisi etnis, budaya, suku, maupun agamanya. Maka, perlu berpikir tentang nilai-nilai yang perlu menjadi fondasi bersama supaya semua bisa meneruskan hidup saling berdampingan secara damai tanpa terus[1]menerus dibayang-bayangi oleh potensi konflik.

Baca :   Jelaskan Pengaruh Pajak Dalam Pembangunan Ekonomi

Pemimpin agama dari Inggris The Association of British Muslims/British Muslim (AoBM) Mohammed Abbasi juga memuji Indonesia dan menekankan seluruh umat beragama di dunia dapat belajar dari pengalaman NU, sebagai organisasi Islam terbesar yang berhaluan moderat, inklusif serta mampu mengartikulasikan nilai-nilai kemanusiaan. Maka, Prof Greg Barton dari Universitas Deakin Commonwealth of australia juga menekankan, betapa indahnya agama dan kesalingan serta keharmonisan yang dijalinnya. Dengan demikian, Forum R20 tidak hanya sekadar pertemuan melainkan sebuah jembatan mencapai perdamaian. Ketua PP Lakpesdam PBNU KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil menyampaikan, Forum R20 telah membahas nilai bersama seluruh agama disepakati, maka akan terbangun koneksi antara pemuka agama seluruh dunia, sehingga dapat dengan mudah menyelesaikan bila ada konflik agama di suatu negara yang justru menghambat kemajuan ekonomi yang bermuara pada tak tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Agama sebagai fondasi kehidupan, seyogiyanya dapat menjadi karpet merah untuk memutus ketimpangan ekonomi global yang terjadi saat ini. Dana Moneter Internasional/Imf (IMF) menyebut, sejumlah perkembangan global telah mendorong meningkatnya ketimpangan pendapatan di dunia. Perkembangan global yang dimaksud adalah celah di dalam kelas menengah, meningkatnya tensi sosial dan politik, akses ke pendidikan yang masih rendah, globalisasi, hingga perkembangan teknologi yang begitu cepat. Ketimpangan juga telah meningkat secara dramatis di sejumlah negara.

Buktinya, satu persen populasi yang memiliki sekitar setengah dari kekayaan dunia. Menurut Gus Yaqut, sapaan akrab Menteri Agama RI, dalam paparannya di forum R20 bahwa globalisasi telah melahirkan dua sisi kelompok manusia, dengan nasib yang sama sekali berbeda, yaitu turis dan gelandangan. Keduanya sama sama bergerak, bermigrasi dalam globalisasi, tetapi dalam pengalaman yang sama sekali berbeda bahkan bertentangan. Diperparah dengan pandemi COVID-19 membuat ketimpangan di dalam suatu negara atau antarnegara semakin melebar. Hal itu dipicu oleh melambatnya perekonomian dan menurunnya permintaan barang dan jasa selama diberlakukannya pembatasan kegiatan masyarakat di banyak negara.

Baca :   Fungsi Hutan Dalam Pembangunan Ekonomi

Berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai lembaga keuangan internasional memperingatkan akan terjadinya kesenjangan pemulihan ekonomi antarnegara. Sekitar 90 persen negara maju diproyeksikan dapat mencapai level pendapatan per kapita seperti sebelum pandemi pada 2022. Sementara negara-negara miskin dan berkembang memerlukan waktu jauh lebih lama. Sayangya, pandemi yang berangsur pulih justru diwarnai dengan masalah baru, yaitu konflik Rusia-Ukraina menjadi ganjalan baru bagi dunia.

Maka, sejatinya, konsensus global pada Forum R20 mengenai perdamaian dunia menjadi relevan dalam menghadapi situasi saat ini. Hal itu seirama dengan hasil konkret Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, berupa G20 Bali Leaders’ Declaration, Presidensi G20 Indonesia dan menghasilkan
Concrete Deliverables. Hasil konkret itu, meliputi pertama, negara-negara G20 untuk mendorong penciptaan situasi global yang kondusif bagi masa depan dunia. Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa perang harus segera dihentikan.

Finish the war. I repeat, stop the state of war. Lot is at stake. Banyak hal yang dipertaruhkan. Perang hanya akan menyengsarakan rakyat. Pemulihan ekonomi dunia tidak akan terjadi jika situasi tidak membaik. Sebagai pemimpin, kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan situasi global yang kondusif bagi masa depan dunia,” ujar Presiden.

Salah satu poin penting
Leaders’ Declaration
adalah kritik terhadap perang Rusia dan Ukraina. Negara-negara G20 menuntut Rusia segera menarik pasukannya dari wilayah Ukraina. Perang Rusia-Ukraina juga memperburuk kerapuhan ekonomi global, menghambat pertumbuhan, meningkatkan inflasi, mengganggu rantai pasokan, meningkatkan kerawanan energi dan pangan, serta meningkatkan risiko stabilitas keuangan. Para pemimpin negara sadar bahwa G20 bukanlah forum untuk menyelesaikan masalah keamanan. Namun, masalah keamanan yang ditimbulkan dari perang Rusia-Ukraina berdampak signifikan bagi ekonomi global. Seluruh negara di dunia juga harusnya mematuhi hukum humaniter internasional, termasuk yang berkaitan dengan perlindungan warga sipil dan infrastruktur dalam konflik bersenjata.

Baca :   Visi Misi Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Trunojoyo Madura

“Kami menyesalkan dengan sedalam-dalamnya agresi oleh Federasi Rusia terhadap Ukraina dan menuntut penarikan penuh dan tanpa syarat dari wilayah Ukraina. Penggunaan atau ancaman penggunaan senjata nuklir tidak dapat diterima. Resolusi damai konflik, upaya untuk mengatasi krisis, serta diplomasi dan dialog sangat penting. Zaman sekarang seharusnya tidak berperang,” demikian bunyi petikan
Leaders’ Proclamation.

Kedua, KTT G20 juga menghasilkan kesepakatan konkret dengan terbentuknya
Pandemic Fund
yang terkumpul sebesar Usa$ i,5 miliar.
Pandemic Fund
perlu dibentuk karena dalam tiga tahun terakhir seluruh dunia menghadapi disrupsi terberat akibat pandemi COVID-nineteen. Kedua, pembentukan dan operasionalisasi
Resilient and Sustainability Trust

di bawah Imf (International monetary fund) sebesar United states$ 81,half-dozen miliar untuk membantu negara-negara yang menghadapi krisis. Ketiga, negara anggota G20 berkomitmen mempromosikan ketahanan pangan dan energi, mendukung stabilitas pasar, serta menyediakan dukungan sementara dan terarah untuk meredam dampak kenaikan harga. Seluruh hasil konkret KTT G20 dapat terlaksana bila perdaiaman dunia mampu tercipta.

*)
Bendahara Umum PP GP Ansor

Editor :
Theresa Sandra Desfika
([email protected])

Sumber : Investor Daily

Globalisasi Dan Pembangunan Ekonomi Dalam Kajian Perdamaian

Source: https://investor.id/opinion/313638/spirit-r20-dalam-orkestrasi-ktt-g20-untuk-perdamaian-dunia

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …