Jurnal Penelitian Bidang Ekonomi Pembangunan

Jurnal Penelitian Bidang Ekonomi Pembangunan


ANALISIS PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA, DAN PENDAPATAN PER KAPITA


TERHADAP PENERIMAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI


DI Republic of indonesia

Adapun rumusan masalah yang dibahas penulis adalah apakah variabel inflasi (INF), suku bunga SBI-3 bulan (SBI), dan pendapatan per kapita (PDB) secara parsial dan simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Pajak Pertambahan Nilai (PPN)?



B.



TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN


1.



Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel inflasi (INF), suku bunga SBI-3 bulan (SBI), dan pendapatan per kapita (PDB) secara parsial dan simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Pajak Pertambahan Nilai (PPN).


2.



Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah:

Sebagai masukan bagi pemerintah khususnya DJP dalam menentukan target penerimaan PPN agar memperhatikan pengaruh/elastisitas dari variabel–variabel makro tersebut sehingga lebih wajar dan realistis.

Untuk menambah wawasan dan juga untuk mengembangkan pengetahuan penulis terutama di dalam bidang yang diteliti.

c.

Bagi Peneliti Berikutnya

Sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian lebih jauh terutama yang berkaitan dengan bidang yang diteliti.


C.



VARIABEL PENELITIAN

penelitian ini menggunakan  three (tiga) variabel bebas yaitu : Inflasi, Suku Bunga, dan Pendapatan per Kapita dan menggunakan one (satu) variabel terikat yaitu : Pajak Pertambahan Nilai
.


BAB II


LANDASAN TEORI

Nurmantu (2003, 12) menyitir definisi dari PJ.A. Adriani yang menyatakan bahwa: “Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.” Pajak menurut UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah kontribusi wajib kepada negara yang bersifat memaksa dan terutang oleh orang pribadi atau badan berdasarkan undang-undang, tanpa adanya

imbalan secara langsung yang digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan faktor yang sangat dominan untuk menentukan timbulnya kewajiban pajak atau berdasarkan sifatnya, pajak dibagi menjadi (Sukardji, 2006, three):

a.

Pajak Subjektif, yaitu timbulnya suatu kewajiban perpajakan ditentukan oleh keadaan dari subjek pajak atau kondisi dari wajib pajak. Contohnya adalah Pajak Penghasilan (PPh).

b.

Pajak Objektif, yaitu timbulnya suatu kewajiban perpajakan ditentukan oleh objek pajak, tanpa memperhatikan keadaan subjektif dari wajib pajak. Contohnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Inflasi

merupakan

fenomena ekonomi yang mengakibatkan adanya kenaikan harga barang yang beredar di pasar dan akan selalu dihadapi dalam suatu perekonomian negara. Nopirin (2009) mendefinisikan inflasi sebagai “proses kenaikan harga umum barang-barang secara terus menerus selama suatu periode tertentu.” Sedangkan menurut Boediono (2001) inflasi adalah “kecenderungan” dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat dikatakan sebagai inflasi kecuali kenaikan tersebut mempengaruhi (mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu adanya kenaikan harga, bersifat umum dan terjadi terus menerus sehingga apabila kenaikan harga hanya atas satu atau beberapa barang saja dan terjadi sekali waktu atau menjelang hari-hari besar serta bersifat sementara (tidak mempunyai pengaruh lanjutan) maka belum dapat dikatakan inflasi.


C.



TINGKAT SUKU BUNGA

Tingkat suku bunga merupakan salah satu variabel ekonomi yang sering diperhatikan oleh para pelaku ekonomi. Tingkat suku bunga dianggap berhubungan langsung dengan keadaan perekonomian termasuk dalam pengambilan keputusan mengenai konsumsi, tabungan maupun investasi yaitu keputusan mana yang dianggap paling menguntungkan.

Nopirin (2009) mendefinisikan suku bunga sebagai “biaya yang harus dibayar oleh peminjam atas pinjaman yang diterima dan merupakan imbalan bagi pemberi pinjaman atas investasinya.” Teori keuangan Keynes menyatakan bahwa tingkat bunga merupakan fenomena moneter yang dipengaruhi oleh tingkat penawaran dan permintaan terhadap uang di pasar uang (Mankiw, 2006). Lipsey et.al (1995) mendefinisikan suku bunga sebagai “harga yang harus dibayar untuk meminjam uang selama periode waktu tertentu dan dinyatakan dalam persentase uang yang dipinjam.”

D.

PENDAPATAN PERKAPITA

Pendapatan per kapita (per capita income) adalah rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu, yang biasanya dalam satu tahun. Pendapatan per kapita dianggap sebagai jumlah nilai barang dan jasa rata-rata yang tersedia bagi setiap penduduk suatu negara pada periode tertentu. Pendapatan per kapita juga merefleksikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) karena pendapatan per kapita dihitung dengan cara membagi PDB dengan jumlah penduduk selama satu tahun. PDB diartikan sebagai nilai total barang dan jasa yang diproduksi suatu negara dalam satu tahun tertentu yang berkaitan erat dengan tingkat pertumbuhan perekonomian negara tersebut.

Baca :   Peranan Sektor Pariwisata Dalam Pembangunan Nasional Di Bidang Sosial Ekonomi

Hubungan

antara

masing-masing variabel independen terhadap penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) akan dijelaskan sebagai berikut:



1.

Inflasi (INF) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

2.

 BI
charge per unit
bulan (SBI) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Pajak Pertambahan Nilai (PPN).


BAB 3


METODELOGI PENELITIAN


A.



TEKNIK ANALISIS Data

Data dan informasi yang diperoleh dari penelitian pustaka
(Library Research)
 yang berhubungan dengan penelitian ini di analisis dengan menggunakan Analisis Regresi Berganda agar dapat memecahkan masalah dan membuktikan kebenaran hipotesis yang telah di ajukan sebelumnya dengan menggunakan
software
berupa SPSS.


B.



MODEL ANALISIS REGRESI LINEAR BERGANDA

Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara variabel Inflasi (X1) , Suku Bunga (X2) dan Pendapatan Perkapita (X3) terhadap Pajak Pertambahan Nilai (Y) dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan rumus :


Y = a + b1X1
+ b2Xtwo
+ e

Dimana :

Y         = Pajak Pertambahan Nilai

a          = Konstanta

X1        = Inflasi

10ii        = Suku Bunga

10three        = Pendapatan Perkapita

bi-b2
= Koefisien regresi

east          = Eror


BAB 4


PEMBAHASAN


a.    Uji Asumsi Klasik

            Model regresi linier berganda dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi uji asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini mencakup uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedasitas dan uji autokorelasi.


one)    Uji



Normalitas

            Pengujian tahap awal yang dilakukan dalam metode penelitian analisis data. Melalui pengujian ini, dapat diambil tindak lanjut untuk menggunakan statistik parametrik atau tidak. Menurut Gozali (2005 : 110) “tujuan uji normalitas adalah untuk menguji apakah variabel independen dan variabel dependen berdistribusi normal”. Data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah information yang memiliki distribusi normal.

            Hasil uji normalitas data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel independen dan variabel dependen berdistribusi normal, hal ini dapat dilihat dari gambar di bawah ini :

Gambar Normal P-P of Regression Standardized Balance









Sumber :

Diolah

dengan SPSS 20

Grafik normal probability plot menggambarkan titik-titik yang menyebar mendekati garis diagonal, sehingga information dikatakan normal. Grafik normal probability plot terlihat titik-titik menyebar mengikuti garis diagonal, yang menunjukkan bahwa model regresi layak digunakan karena memenuhi uji normalitas information.


2)    Uji



Multikolinieritas

            Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terdapat korelasi antar variabel independen. Pengujian multikolinieritas dilakukan dengan melihat VIF antar variabel independen. Jika VIF menunjukkan angka > 10 menandakan terdapat gejala multikolinieritas. Hasil uji multikolinieritas dapat dilihat di tabel iv.3.

Tabel  Uji Multikoliniearitas


Coefficientsa




Model

Collinearity Statistics

Tolerance

VIF

ane

(Constant)

Inflasi

.606

1.650

BI Rate

Pendapatan per Kapita

.665

.893

ane.504

1.120

a. Dependent Variable: PPN

            Sumber :

Diolah

dengan SPSS 20

Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa variabel inflasi memiliki nilai VIF 1.650 (< 10) dan nilai
tolerance
0,606 (> 0,i), variabel BI
rate
memiliki VIF 1.504 (< 10) dan nilai
tolerance
0,665 (> 0,1), dan variabel pendapatan per kapita memiliki nilai VIF 1.120 (< 10) dan nilai
tolerance
0,893 (> 0,one). Hasil uji multikoliniearitas menunjukkan bahwa seluruh variabel tidak mengakami multikoliniearitas dan dapat digunakan dalam penelitian.


3)    Uji



Heteroskedastisitas

   Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terdapat ketidaksamaan pengganggu antara suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Hasil uji heteroskedastisitas ditampilkan dalam grafik
scatter plot
gambar 4.six.

Gambar iv.6 Grafik
Scatter plot















Sumber :

Diolah

dengan SPSS 20

Hasil uji grafik
besprinkle plot
menunjukkan tidak terjadinya heteroskedastisitas pada model regresi, hal ini terlihat dari titik-titik yang menyebar secara acak yang terdapat di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas dan atau di bawah saja, dan penyebaran titik-titik information tidak berpola.


four)    Uji Autokorelasi

            Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Deteksi autokorelasi dengan melihat besaran Durbin-Watson. Secara umum bisa diambil patokan :

Baca :   Ppt Pendidikan Dan Kesehatan Tentang Ekonomi Pembangunan

Tabel 4.3 Uji Autokorelasi









Model Summaryb




Model

R

R Square

Adapted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1

,996a

,991

,991

642,17812

i,179

a. Predictors: (Constant), Pendapatan per Kapita, BI Rate, Inflasi

b. Dependent Variable: PPN

Sumber :

Diolah

dengan SPSS 20

Tabel 4.iii memperlihatkan nilai statistik D-Westward sebesar 1,179 yang berarti berada pada angka D-W di antara -2 dan 2, hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara information suatu periode dengan data periode sebelumnya.



b.    Uji hipotesis

Berdasarkan hasil pengujian atas asumsi-asumsi yang telah dilakukan, diketahui bahwa model tidak mengandung penyimpangan terhadap asumsi yang diujikan, sehingga dapat dilanjutkan dengan pengujian hipotesis dari penelitian ini.


1)   Koefisien Determinasi (R2) yang disesuaikan

            Pengujian koefisien determinasi/R
Square
(R2) dilakukan untuk melihat seberapa besar proporsi variabel independen, dalam hal ini inflasi, BI
charge per unit
dan pendapatan per kapita dapat mempengaruhi variabel dependen yaitu penerimaan PPN. Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel 4.3.

Berdasarkan

Tabel

4.3, hasil nilai R sebesar 0,996 sebagai nilai korelasi berganda artinya bahwa inflasi, BI
charge per unit
dan pendapatan per kapita memiliki keeratan hubungan yang kuat dengan penerimaan PPN. Nilai
Adjusted R Foursquare
sebesar 0,991 berarti bahwa variasi dari penerimaan PPN mampu dijelaskan sebesar 99,1% oleh inflasi, BI
charge per unit
dan pendapatan per kapita, sedangkan yang dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak masuk dalam model penelitian hanyalah sebesar 0,9% saja.




2)   Uji Parsial (t)



            Pengambilan keputusan dilakukan jika t hitung > t tabel atau –t hitung < -t tabel atau signifikansi t hitung <

α
, maka berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai t tabel untuk jumlah observasi (north) sebanyak 72 buah dan tingkat

α
=0,05:two=0,025 (uji ii sisi) dengan derajat kebebasan (df)=68 adalah sebesar one,99547.

Tabel iv.4 Uji Statistik t


Coefficientsa




Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

ane

(Constant)

-49310.724

1258.387

-39.186

.000

Inflasi

295.246

54.617

.079

5.406

.000

BI Rate

Pendapatan per Kapita

-1182.555

.093

131.408

.001

-.126

.976

-8.999

fourscore.716

.000

.000

a. Dependent Variable: PPN

Sumber :

Diolah

dengan SPSS 20

Berikut ini penulis mendeskripsikan pengaruh parsial dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen yaitu analisis pengaruh inflasi terhadap penerimaan PPN, analisis pengaruh BI
charge per unit
terhadap penerimaan PPN, dan analisis pengaruh pendapatan per kapita terhadap penerimaan PPN.

1.

Analisis pengaruh nilai inflasi terhadap penerimaan PPN

            Ho : Inflasi tidak berpengaruh terhadap penerimaan PPN.

Ha : Inflasi berpengaruh terhadap penerimaan PPN.

Nilai t hitung yang diperoleh adalah sebesar 5,406 lebih besar dari t tabel

i,99547. Probabilitasnya adalah sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti hipotesis nol ditolak dan menerima hipotesis alternatif bahwa inflasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan PPN dan korelasinya bernilai positif.

ii.

Analisis pengaruh BI rate terhadap penerimaan PPN

Ho : BI
rate
tidak berpengaruh terhadap penerimaan PPN.

Ha : BI
rate
berpengaruh terhadap penerimaan PPN.

Nilai t hitung yang diperoleh adalah sebesar -8,999 lebih kecil dari t tabel –
i,99547. Probabilitasnya adalah sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti hipotesis nol ditolak dan menerima hipotesis alternatif bahwa BI
charge per unit
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan PPN dan korelasinya bernilai negatif.

iii.

Analisis pengaruh pendapatan per kapita terhadap penerimaan PPN

Ho : Pendapatan per kapita tidak berpengaruh terhadap penerimaan PPN.

Ha : Pendapatan per kapita berpengaruh terhadap penerimaan PPN.

Nilai t hitung yang diperoleh adalah sebesar 80,716 lebih besar dari t tabel

i,99547. Probabilitasnya adalah sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti hipotesis nol ditolak dan menerima hipotesis alternatif bahwa pendapatan per kapita mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan PPN dan korelasinya bernilai positif.


3)   Uji Signifikansi Serentak (Uji F)

            Uji F digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Hipotesis yang digunakan dalam uji F ini adalah:

Ho : Inflasi, BI
rate
dan pendapatan per kapita secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan PPN.

Ha : Inflasi, BI
charge per unit
dan pendapatan per kapita secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penerimaan PPN.

Ho ditolak apabila nilai F hitung > F tabel pada α = v%, n = 72, dan k = 4 dengan tingkat probabilitas yang tidak melebihi α penelitian.

Tabel 4.five Uji Statistik F


ANOVAa




Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

3130668199,432

3

1043556066,477

2530,491

,000b

Rest

28042706,583

68

412392,744

Total

3158710906,015

71

a. Dependent Variable: PPN

b. Predictors: (Abiding), Pendapatan per Kapita, BI Charge per unit, Inflasi

Sumber :

Diolah

dengan SPSS twenty

Dari hasil olahan SPSS pada tabel 4.five diketahui bahwa nilai F hitung adalah  2530,491 sementara nilai F tabel (df1=3, df2=68) adalah 2,740. Karena 2530,491 > 2,740 maka Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa inflasi, BI
rate
dan pendapatan per kapita secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penerimaan PPN.

Cara lain yang dapat digunakan untuk menentukan pengujian hipotesis di atas adalah dengan membandingkan probabilitas dengan tingkat signifikansinya (5%). Berdasarkan tabel 4.5 di atas diketahui nilai probabilitas (Sig) adalah 0,000 (< 0,05), yang berarti variabel inflasi, BI rate dan pendapatan per kapita secara simultan berpengaruh terhadap penerimaan PPN.


c.    Analisis regresi pengujian

Berdasarkan hasil analisis regresi menggunakan Aplikasi SPSS, sebagaimana tampak pada tabel 4.4, maka diperoleh persamaan penerimaan PPN berikut:


LnPPNt
= -49310,72 + 295,25LnINFt
– 1182,56LnSBIt
+ 0,09LnYKapt
+
μ

Hasil persamaan regresi PPN tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

β   =    -49310,72 artinya jika segala sesuatu pada variabel-variabel independen dianggap konstan maka penerimaan PPN akan berkurang sebesar Rp 49,31 trilyun.

β1   =    +295,25 artinya jika tingkat inflasi mengalami kenaikan sebesar i% maka penerimaan PPN akan mengalami kenaikan sebesar Rp 295,25 milyar dengan asumsi variabel-variabel lainnya konstan
(ceteris paribus).

β2   =    -1182,56 artinya jika tingkat BI
rate
mengalami kenaikan sebesar 1% maka penerimaan PPN akan mengalami penurunan sebesar Rp 1,18 trilyun dengan asumsi variabel-variabel lainnya konstan
(ceteris paribus).

β3   =    +0,09 artinya jika pendapatan per kapita mengalami kenaikan sebesar Rp i maka penerimaan PPN akan mengalami kenaikan sebesar Rp xc juta dengan asumsi variabel-variabel lainnya konstan
(ceteris paribus).


BAB Five


KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pengujian penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan hasilnya sebagai berikut :

1.    Hubungan antara tingkat inflasi, suku bunga SBI-3 bulan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan pendapatan per kapita terhadap penerimaan PPN adalah hubungan yang terkointegrasi yaitu terdapat hubungan jangka panjang
(long run
equilibrium).

2.    Terdapat suatu hubungan yang signifikan antara tingkat inflasi, BI
rate
dan pendapatan per kapita secara bersama-sama terhadap penerimaan PPN, yaitu 99,1% penerimaan PPN dapat dijelaskan oleh variabel-variabel tersebut sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lainnya.

3.    Hubungan antara variabel tingkat inflasi dengan penerimaan PPN selama periode penelitian bersifat positif dan mempunyai pengaruh yang signifikan dimana kenaikan pada inflasi sebesar i%, akan menyebabkan terjadinya kenaikan pada jumlah penerimaan PPN sebesar Rp 295,25,
ceteris paribus. Hasil ini sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

4.    Hubungan antara variabel tingkat BI
rate
terhadap penerimaan PPN selama periode penelitian bersifat negatif dan mempunyai pengaruh yang signifikan dengan koefisien regresi sebesar -1182,56 yang menyatakan bahwa kenaikan pada BI
rate
sebesar one%, akan menyebabkan terjadinya penurunan pada jumlah penerimaan PPN sebesar Rp one,18 trilyun,
ceteris paribus. Hasil ini sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

5.    Hubungan antara variabel pendapatan per kapita dengan penerimaan PPN selama periode penelitian bersifat positif dan mempunyai pengaruh yang signifikan dengan koefisien regresi sebesar +0,09 yang menyatakan bahwa kenaikan pada pendapatan per kapita sebesar Rp 1, akan menyebabkan terjadinya kenaikan pada jumlah penerimaan PPN sebesar Rp 90 juta,
ceteris paribus. Hasil ini sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya.


B. SARAN

Beberapa saran yang dapat penulis sampaikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

i.    Dalam penelitian-penelitian selanjutnya dapat menggunakan variabel suku bunga deposito karena dampaknya secara langsung dapat berpengaruh terhadap semua golongan masyarakat dan lebih mencerminkan kondisi perekonomian sesungguhnya.

2.    Terkait dengan inflasi diharapkan pemerintah dan Banking company Indonesia (BI) sebagai bank sentral dapat bersama-sama menjaga stabilitas inflasi pada tingkat yang moderat melalui kebijakan-kebijakan yang diambil.

3.    Terkait dengan suku bunga SBI penulis mengharapkan supaya Bank Indonesia (BI) berhati-hati dalam mengambil kebijakan suku bunganya sehingga arus modal yang masuk tidak keluar secara tiba-tiba (capital flying), sehingga menyebabkan terganggunya stabilitas dan kinerja perekonomian.

Jurnal Penelitian Bidang Ekonomi Pembangunan

Source: https://ideriri.blogspot.com/2017/10/jurnal-ekonomi-pembangunan.html

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …