Koridor Pembangunan Ekonomi Hina Dengan Negara Mitra

Koridor Pembangunan Ekonomi Hina Dengan Negara Mitra

Percepatan Pembangunan Enam Koridor Ekonomi Bentengi Serbuan Produk Impor

Kamis, 24 Februari 2011

Apalagi, pemerintah mendapat dukungan dari investor dalam dan luar negeri serta badan usaha milik negara (BUMN)Paradigma baru dalam mempercepat pembangunan perekonomian nasional dibagi berdasarkan enam koridor, meliputi koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Bali-Nusa Tenggara. Pembangunan ekonomi akan disesuaikan dengan kelebihan dan keunggulan di setiap wilayah.

Pemerintah akan mempercepat pengembangan kawasan industri unggulan di masing-masing wilayah, seperti produksi dan pengolahan hasil pertanian-perkebunan, perikanan, pertambangan, dan energi serta industri lainnya. Upaya ini juga bisa dijadikan benteng bagi perekonomian lokal dari serbuan produk impor, sekaligus mengurangi jumlah penganggur.

“Angka rekapitulasi investasi dari investor swasta dari dalam dan luar negeri hingga 2014 bisa mencapai ribuan triliun rupiah. Ini dengan perkiraan serapan jumlah tenaga kerja mencapai 6,6 juta orang,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta kemarin.

Menurut dia, pembangunan koridor ekonomi tidak menekankan konsep perencanaan dari pemerintah pusat. Namun, lebih ditekankan pada upaya sinergi pembangunan sektoral dan wilayah untuk meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif secara nasional maupun global. Pembangunan koridor ekonomi dilakukan untuk menciptakan nilai tambah, bukan eksploitasi sumber daya alam.

Selain itu, pengembangan kawasan industri di daerah juga diimbangi dengan percepatan pembangunan infrastruktur pendukung. Sebab, pembangunan koridor ekonomi juga dilakukan seiring dengan penyiapan infrastruktur utama.

Pada koridor Sumatera, diupayakan pengembangan kawasan industri Semangke yang menelan investasi Rp 6,viii triliun di atas area 104 hektare.

Potensinya menyerap tenaga kerja 1.205 orang. Dijadwalkan akan dilaksanakan pada 2011 melibatkan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Three dan PTPN Iv serta PT Kereta Api.

Baca :   Soal Uas Essay Ekonomi Pembangunan Pertanian

Ada juga proyek pengembangan klaster pupuk majemuk di Tanjung Api-api, proyek pembangunan rel ganda Tanjung Enim-Lampung, proyek pembangunan rel kereta api Tanjung Enim ke Tanjung Api-Api, dan pembangunan PLTU Banjar Sari 2×100 megawatt. Proyek ini juga melibatkan BUMN seperti PT Bukit Asam.

Sementara koridor Jawa meliputi proyek perluasan Pelabuhan Tanjung Priok, proyek jalur kereta api dan jalan tol ke terminal peti kemas JICT, serta proyek pembangunan Jakarta Circle Line dan KRL di Jakarta. Selain itu juga proyek revitalisasi pabrik pupuk dengan memanfaatkan gas dari Exxon-Pertamina Blok Cepu di Gresik dan Cepu serta proyek jalan tol koridor trans-Jawa dan lingkar Jakarta.

Selanjutnya, koridor Borneo yang meliputi peningkatan produksi bahan bakar minyak dan produksi minyak mentah di Kaltim serta pembangunan pabrik V PT Pupuk Kaltim. Selain itu juga pembangunan smelter gride alumina di Kalbar. Sedangkan di Sulawesi ada proyek pengembangan bahan bakar minyak dan gas hulu di Sulawesi Tengah. Juga ada proyek pembangunan pabrik feronikel Halmahera Timur.

Sementara koridor Bali meliputi pembangunan Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai, Bali, dan untuk koridor Papua-Maluku mencakup proyek jaringan optik Sorong-Merauke.

Kapet

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pemerintah akan mendorong BUMN untuk berperan dalam membangun infrastruktur, sehingga dapat mengundang minat investor untuk mengembangkan kawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet). Ini juga terintegrasi dengan enam koridor ekonomi. “Pemerintah mengarahkan untuk lebih membangun infrastruktur, sehingga ASDP, Angkasa Pura, dan lain-lain bisa berperan,” katanya.

Menurut dia, insentif yang diberikan pemerintah untuk mengundang investasi belum menarik para investor. Umumnya karena infrastruktur belum mendukung perkembangan ekonomi yang diinginkan investor.

Seperti transportasi, energi, listrik, tenaga kerja, dan bahan baku, pasar, kemudahan perizinan usaha yang kondusif, dan kepastian hukum. Untuk itu, diharapkan pembangunan Kapet dapat menyediakan lahan sehingga bisa dibangun infrastruktur pabrik, gudang, dan sebagainya.

Baca :   Sebutkan Tiga Hal Penting Dalam Pembangunan Ekonomi

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pelaksanaan program pengembangan kawasan ekonomi memang perlu disesuaikan agar tepat sasaran dan membawa manfaat maksimal.

“Sekarang ada koridor ekonomi, jadi perlu ada penyesuaian, revitalisasi, reformulasi, dan reorganisasi. Saya rasa perlu dilakukan pembahasan intensif di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Perekonomian,” katanya.

Terkait hal ini, Ketua Komisi Half-dozen DPR Airlangga Hartarto minta pemerintah melakukan revisi dan menyelaraskan regulasi yang mengatur pemberlakuan Kapet atau pengembangan kawasan ekonomi khusus ataupun yang terakhir koridor ekonomi. “DPR meminta pemerintah melakukan revisi dan harmonisasi peraturan,” katanya.

Selain melakukan harmonisasi regulasi, pemerintah juga harus segera menyelesaikan regulasi turunannya, seperti yang diamanatkan UU No 39/2009, serta mengintegrasikan kebijakan pengembangan kawasan di daerah-daerah yang telah siap. Pemerintah juga diminta menyelaraskan plan revitalisasi dengan rencana pengembangan enam koridor ekonomi, agar bisa sebagai katalisator pembangunan ekonomi dan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

 Sumber: Suarakarya-online.com


Share:


Koridor Pembangunan Ekonomi Hina Dengan Negara Mitra

Source: https://kemenperin.go.id/artikel/1233/Percepatan-Pembangunan-Enam-Koridor-Ekonomi-Bentengi-Serbuan-Produk-Impor

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …