Kumpulan Pertanyaan Tentang Rancang Bangun Ekonomi Islam

Kumpulan Pertanyaan Tentang Rancang Bangun Ekonomi Islam

Assalamualaikum,.
Pertama saya sampaikan permohonan maaf karena baru bisa posting jawaban atas beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta kajian UKMF SEFiS pada 8 September kemarin. Hal ini karena padatnya agenda dan banyaknya tugas yang harus saya selesaikan baik di kantor maupun di luar kantor.
Berikut jawaban dari saya atas beberapa pertanyaan tersebut.

1. Mengapa di Indonesia tidak menggunakan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh, mengingat mayoritas penduduknya Indonesia beragama Islam?

Jika membaca sejarah,
founding begetter
bangsa Indonesia memang tidak menginginkan Republic of indonesia menjadi negara Islam. Karena yang memerdekakan bangsa ini berasal dari berbagai suku dan agama. Namun bukan berarti ajaran Islam tidak mungkin bisa untuk diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat muslim di Indonesia. Ekonomi Islam, meskipun hakikatnya sudah ada sejak zaman Rasulullah, namun setelah runtuhnya daulah Islamiyah terakhir di Turki membuat peradaban Islam hancur lebur dan tertinggal dari peradaban lain. Dan baru muncul kembali di abad ke 20-an ini. Maka tak ayal, hari ini kita lihat, perkembangan ekonomi Islam masih terlihat rendah daripada ekonomi konvensional. Untuk menjadikan ekonomi Islam ini dapat digunakan secara
kaffah,
maka diperlukan kesadaran umat muslim itu sendiri untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari serta ditopang oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung perkembangan ekonomi Islam itu sendiri

ii. Apakah bank-bank konvensional atau banking concern yang bukan berbasis Islam itu halal atau tidak?. Karena setahu saya bank konvensional itu adalah depository financial institution yang menghasilkan bunga dari uang-uang yang dipinjamkan kepada orang-orang. Tetapi banking concern yang berbasis Islam itu mendapat bunga berdasarkan sistem bagi hasil. Jadi apakah bunga/keuntungan dari banking concern konvensional itu halal atau tidak?.

Dari pertanyaan di atas, menunjukkan penanya masih belum paham tentang sistem perbankan itu sendiri. Perbankan konvensional (Non-perbankan Islam) menggunakan bunga dari para peminjam dana sebagai pendapatan bank untuk menopang biaya operasional depository financial institution. Sedangkan perbankan Islam, menggunakan bagi-hasil, margin (selisih harga dalam transaksi jual beli), serta berbagai pendapatan jasa lainnya. Sehingga jelas, perbankan Islam berbeda dengan perbankan konvensional.
Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa bunga banking company haram. Karena dikategorikan sebagai riba. Sebagaimana bisa dilihat dalam Fatwa MUI No. i Tahun 2004 tentang Bunga (Interest/Fa’idah) yang menyatakan bahwa bunga baik yang ada di Bank, Asuransi, Pasar Modal, Koperasi, Pegadaian, atau lembaga keuangan lainnya sama dengan riba nasi’ah dan hukumnya haram. Fatwa ini sangat jelas karena di dalamnya merujuk pada beberapa ayat Al-Qur’an, Hadits, dan pendapat para ulama’.

Baca :   Makalah Tentang Peran Sdm Dan Sda Dalam Pembangunan Ekonomi

iii. Mengapa kebanyakan masyarakat masih enggan menabung / bertransaksi di perbankan syariah?

Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya pangsa para (market share) perbankan syariah di Indonesia antara lain adalah;
pertama,
minimnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang ekonomi Islam. Hal ini terjadi karena konsumsi masyarakat selama bertahun-tahun adalah ekonomi konvensional. Meskipun dipelajari di tempat-tempat pendidikan Islam seperti madrasah atau pondok pesantren, tidak ada integrasi antara teori dan praktik. Sehingga pengetahuan ekonomi Islam (seperti fiqh muamalah) hanya berakhir di bangku-bangku sekolah. Tidak dapat diimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, kurangnya kepercayaan masyarakat. Meskipun sudah sangat gencar sosialisasi tentang ekonomi Islam kepada masyarakat luas, masyarakat masih mempertanyakan kredibilitas lembaga keuangan Islam (syariah) yang baru berdiri. Kebanyakan dari mereka khawatir bahwa dananya akan hilang serta banyak pula yang masih menyamakan ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional. Sikap sinis kalangan ini memperparah paradigma masyarakat yang mayoritas masih tradisional dan tertutup.
Ketiga, sumber permasalahan tersebut tidak hanya berada pada masyarakat Indonesia, pihak lembaga keuangan syariah tersebut patut untuk dikritisi agar menjadi lebih baik. Kurang profesionalnya manajemen perbankan syariah seperti SDM yang kurang kompeten dalam bidang keilmuan ekonomi Islam serta operasional perbankan syariah yang belum melaksanakan secara sempurna peraturan dan kebijakan yang telah ditetapkan membuat citra perbankan syariah menjadi jelek oleh beberapa kalangan masyarakat. Tak hanya itu, belum luasnya jaringan perbankan syariah yang menjangkau daerah-daerah terpencil menjadi penghalang bagi masyarakat yang sudah memiliki kesadaran untuk bertransaksi di perbankan syariah tersebut.
Keempat, pemerintah juga dinilai lamban untuk merespon perkembangan ekonomi syariah ini. Banyak kasus yang tak kunjung menemukan solusinya karena belum adanya payung hukum. Berbeda dengan negara-negara tetangga seperti malaysia dimana pemerintahnya mendukung secara penuh tumbuhnya lembaga-lembaga keuangan syariah dengan mengeluarkan berbagai kebijakan dan peraturan yang berkaitan dengan ekonomi syariah tersebut.

Baca :   5 Bagaimana Pembangunan Ekonomi Yang Berwawasan Lingkungan Hidup

iv. Bagaimana pandangan pemateri tentang prospek atas ekonomi Islam di dunia khususnya di Indonesia?

Setelah runtuhnya sistem kapitalis pada saat krisis moneter 1998 dan krisis global 2008, masyarakat Indonesia dan dunia mulai sadar bahwa ekonomi Islam diharapkan menjadi solusi bagi segala permasalahan perekonomian suatu negara. Terbukti dengan lahirnya berbagai lembaga keuangan Islam di berbagai negara bahkan di negara Eropa seperti Inggris yang mayoritas penduduknya beragama kristen. Perlu diketahui juga, bahwa saat ini di berbagai lembaga keuangan Islam, nasabah mereka bukan hanya orang Islam. Tapi banyak juga nasabah yang beragama not-Islam. Karena mereka menggunakan akal sehat dalam melihat prospek di masa depan. Di Indonesia sendiri, lembaga-lembaga ekonomi yang menerapkan prinsip Islam mulai bermunculan. Mulai dari spa syariah (khusus muslimah), hotel syariah, wisata syariah, dan lain sebagainya.

5. Bagaimana caranya agar ekonomi Islam di Indonesia ini lebih diterapkan?

Pertama,
masyarakat perlu diberi pengetahuan dan pemahaman tentang ekonomi Islam. Sehingga sosialisasi tentang ekonomi Islam perlu digalakkan dengan lebih masiv.
Kedua, semua lembaga keuangan Islam harus menerapkan prinsip-prinsip ekonomi Islam secara menyeluruh dan menjadi prioritas. Karena tak sedikit, lembaga keuangan Islam hanya mementingkan turn a profit dari pada filosofi dasar ekonomi Islam itu sendiri.
Ketiga, pemerintah harus merespon dengan cepat perkembangan ekonomi Islam serta mendukung secara penuh ekonomi Islam. Jika tidak, maka usaha masyarakat untuk mengembangkan ekonomi Islam itu sendiri akan sia-sia. Intinya, kebangkitan ekonomi Islam khususnya di Indonesia harus didukung oleh semua pihak.

half-dozen. Bagaimana caranya supaya krisis yang dialami pada masa dulu seperti krisis moneter pada tahun 1998 dan krisis global pada tahun 2008 itu tidak terulang lagi pada masa yang akan datang?

Tentu saja hal yang harus terlebih dahulu dipahami untuk menyelamatkan suatu negara dari krisis adalah faktor-faktor yang telah membuat krisis itu terjadi. Dari hal tersebut, kita bisa mengambil tindakan-tindakan penyelamatan. Stiglitz, seorang peraih nobel ekonomi menyatakan secara lantang bahwa krisis yang menimpa dunia tersebut disebabkan oleh kesalahan hampir di seluruh kebijakan ekonomi atau yang kerap disebut sebagai
failure system. Senada dengan Stiglitz, Barry Eichengreen, juga menyebutkan bahwa akar dari krisis ini adalah keserakahan pelaku pasar yang menampakkan wajah dari kapitalis sejati. Lebih detil, Ascakarya (Periset Senior Banking concern Indonesia), menyebutkan secara gambalang penyebab-penyebab terjadinya krisis tersebut.
Pertama,
penurunan nilai mata uang dengan mengurangi kadar emas/perak serta peredaran uang kertas di masyarakat kini tidak lagi di
redundancy
oleh persediaan emas dan perak.
Kedua,
terciptanya FRB (Frictional Reserve Cyberbanking) dimana para nasabahnya bisa melipatgandakan uangnya belasan kali tanpa keterlibatan sektor riil di dalamnya.
Ketiga,
Utang luar negeri yang semakin menumpuk dan hampir mustahil untuk dibayar.
Keempat,
Terjadinya
crash
ratusan kali dalam pasar modal karena para pelaku pasar dengan sesuka hati melakukan spekulasi ekonomi (dalam Islam disebut
maysir, dan
maysir
haram dilakukan).
Kelima,
munculnya produk derivatif yang dapat menciptakan uang dari tagihan. Kemudian beliau menyimpulkan bahwa terjadinya krisis akibat perilaku manusia dalam berekonomi telah melanggar banyak sekali aturan dan hukum Allah. Beliau juga menarik benang merah, agar krisis tidak terjadi lagi, maka yang harus dilakukan antara lain; meningkatkan cadangan emas untuk mengurangi dampak riba dari uang kertas, meningkatkan giro wajib minimum pada sistem perbankan untuk mengurangi praktik riba yang ada di dalam dunia perbankan tersebut, meningkatkan
market place share
atau pangsa pasar pebankan syariah dan lembaga keuangan syariah serta sistem bagi-hasilnya (sektor riil), membatasi praktik spekulai (maysir) yang ada pada pasar modal dan produk-produk derivatif, serta meningkatkan peran zakat, infaq, sedekah, dan wakaf dalam sistem pendistribusian pendapatan masyarakat.

Baca :   Materi Tentang Pertumbuhan Ekonomi Dan Pembangunan Ekonomi

Untuk pertanyaan yang lain, mohon bersabar. Insya Allah akan tetap saya jawab semampu saya. Jadi kunjungi terus weblog saya ini ya.

Kumpulan Pertanyaan Tentang Rancang Bangun Ekonomi Islam

Source: https://pejuangrabbani.wordpress.com/2017/09/15/jawaban-dari-pertanyaan-di-kajian-bagian-i/

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …