Makalah Rencana Dan Indikator Pembangunan Ekonomi

Makalah Rencana Dan Indikator Pembangunan Ekonomi

Makalah: Ekonomi Moneter 1


“ INFLASI ”

OLEH

                                                      NAMA              : FAJAR LADIM

                                                                                : ALDI WENNASRI

                                                                                : MUNEFER ADIN

                                                       KELAS            : Three B

                                                      SEMESTER     : 3 (TIGA)


Program STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN



FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS KHAIRUN


TERNATE


2017


KATA PENGANTAR



            Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadiran ALLAH SWT, karena atas berkar,Rahmat, Taufik, dan hidayahnya yang telah memberikan kami nikmat umur panjang, nikmat kesehatan dan nikmat lainnya, sehingga kami dapat menyelasaikan Makalah yang berjudul
“ INFLASI”
dengan baik.

Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi besar kita, Nabi Muhammad Saw dan keluarga,sahabat, beserta pengikutnya yang telah memperjuangkan agama Islam dari jaman jahiliayah yakni mulai dari masa kegelapan, perbudakan, dan lain sebagainya.

Dari Makalah yang kami buat/susun ini masih banyak terdapat kekurangan di sana-sini, oleh karena itu saran dan kritikan yang sifatnya membangun.Maka dari itu kami harapkan dari semua pihak untuk perbaikan Makalah ini di hari-hari berikutnya.

Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua, terutama Fakultas Ekonomi khususnya Jurusan Ekonomi Pembangunan.



Ternate,27 November, 2017



Penulis



DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………… i


DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………….. ii


BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………. 1

ane.ane Latar Belakang…………………………………………………………………………………………. 1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………………………… 3

ane.3 Tujuan Malasah…………………………………………………………………………………………. four


BAB Ii PEMBAHASAN……………………………………………………………………………………….. 5

two.1 Pengertian Inflasi………………………………………………………………………………………. 5

2.2 Definisi Inflasi
………………………………………………………………………………………….. half dozen

2.three Penggolongan Inflasi…………………………………………………………………………………. six

2.4 Teori kuantitas………………………………………………………………………………………….. 9

2.v Teori Keynes tentang Inflasi………………………………………………………………………. 11


BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………………. 14

3.ane Kesimpulan………………………………………………………………………………………………. 14

3.2 Saran……………………………………………………………………………………………………….. xiv


DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………. 15




BAB I


PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Inflasi atau menjaga kestabilan harga merupakan salah satu masalah utama makroekonomi, disamping beberapa masalah makroekonomi penting lainnya seperti mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, mengatasi masalah pengangguran, menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan pendistribusian pendapatan yang adil dan merata. Sebagai indikator perekonomian yang sangat penting, fenomena inflasi telah banyak mendapat perhatian para ahli ekonomi. Setiap kali ada gejolak sosial, politik dan ekonomi di dalam maupun di luar negeri, masyarakat selalu mengaitkan dengan masalah inflasi. Stabilitas ekonomi suatu negara di antaranya tercermin dari adanya stabilitas harga, dalam arti tidak terdapat gejolak harga yang besar yang dapat merugikan masyarakat, baik konsumen maupun produsen yang akan merusak sendi-sendi perekonomian.

Pengendalian  inflasi sangat penting menjadi salah satu perhatian pemerintah karena  beberapa alasan Pertama, inflasi memperburuk distribusi pendapatan (menjadi tidak seimbang). Kedua, inflasi menyebabkan berkurangnya tabungan domestik yang merupakan sumber dana investasi bagi negara-negara berkembang. Ketiga, inflasi mengakibatkan terjadinya defisit neraca perdagangan serta meningkatkan besarnya utang luar negeri. Keempat, inflasi dapat menimbulkan ketidakstabilan politik.

Tingkat inflasi yang rendah dan stabil akan menjadi stimulator bagi pertumbuhan ekonomi.  Laju inflasi yang terkendali akan menambah keuntungan pengusaha, pertambahan keuntungan akan menggalakkan investasi di masa datang dan pada akhirnya akan mempercepat terciptanya pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya tingkat inflasi yang tinggi akan berdampak negatif pada perekonomian yang selanjutnya dapat mengganggu kestabilan sosial dan politik. Dampak negatif pada perekonomian diantaranya mengurangi kegairahan penanam modal, tidak terjadinya pertumbuhan ekonomi, memperburuk distribusi pendapatan dan mengurangi daya beli masyarakat. Oleh karena itu perlu diupayakan jangan sampai penyakit ekonomi itu menjadi penghambat jalannya roda pembangunan.

Menurut (Lerner Gunawan, 1995), inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess need) terhadap barang dan jasa secara keseluruhan. Sedangkan menurut  (Sukirno 1998), inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku secara umum dalam suatu perekonomian. Sementara itu (Manurung dan Raharja 2004:155) Inflasi adalah gejala kenaikan harga barana-barang yang bersifat umum dan terus-menerus.Hampir semua negara, menjaga inflasi agar tetap rendah dan stabil adalah tugas banking company sentral. Tingkat inflasi yang rendah dan stabil, akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, perluasan lapangan kerja, dan ketersediaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sejumlah teori telah dikembangkan untuk menjelaskan gejala inflasi. Menurut pandangan monetaris penyebab utama inflasi adalah kelebihan penawaran uang dibandingkan yang diminta oleh masyarakat. Sedangkan golongan not monetaris, yaitu keynesian, tidak menyangkal pendapat pandangan monetaris tetapi menambahkan bahwa tanpa ekspansi uang beredar, kelebihan permintaan agregat dapat saja terjadi jika terjadi kenaikan pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah atau ekspor netto. Dengan demikian inflasi dapat disebabkan oleh faktor-faktor moneter dan non moneter (Gunawan, 1995). Selanjutnya pandangan tentang inflasi disempurnakan dengan munculnya teori ekspektasi, yang mengungkapkan bahwa para pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional.

Berdasarkan beberapa teori dasar tentang inflasi tersebut berbagai penelitian mengenai inflasi telah dilakukan di banyak negara, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Jika diklasifikasikan secara umum  maka inflasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang berdasarkan faktor penyebabnya, inflasi dapat berasal sisi permintaan (need-side inflation), inflasi yang berasal dari sisi penawaran (supply-side inflation) atau kombinasi dari keduanya (demand-supply aggrandizement). Dari sisi penawaran penyebab inflasi misalnya adalah karena kenaikan upah (wage cost push inflation) dan kenaikan harga barang-barang impor (import toll inflation). Sementara itu, dari sisi permintaan disebabkan oleh kenaikan permintaan yang tidak diimbangi oleh penawaran (demand pull inflation).

Baca :   Pembangunan Kesehatan Dan Perannya Dalam Pembangunan Ekonomi.ppt

Inflasi yang terkendali akan menciptakan kestabilan sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian, walaupun kadang-kadang terjadi
trade off  antara pengendalian inflasi dengan beberapa variabel ekonomi lainnya seperti pertumbuhan ekonomi dan pengangguran. Di sisi lain, dinamisnya perkembangan ekonomi yang terjadi, serta belum konsistennya hasil penelitian mengenai perilaku inflasi, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, menunjukkan bahwa penelitian mengenai variabel yang mempengaruhi inflasi ini tetap penting untuk dilakukan di Indonesia Penelitian ini akan difokuskan pada inflasi dari sisi permintaan (demand side inflation),  yaitu inflasi yang disebabkan oleh faktor-faktor yang menggeser permintaan agregat sehingga tercipta kelebihan permintaan (excess demand), yang merupakan inflationary gap dan dapat menekan harga untuk naik. Peningkatan permintaan agregat pada situasi produksi telah mencapai kapasitas penuh (full employment) dan akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan pada pasar barang dan jasa, sehingga harga barang dan jasa akan meningkat. Dari uraian di atas dapat diambil pokok permasalahannya yaitu: faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi inflasi di Republic of indonesia. Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi inflasi di Republic of indonesia.


1.two Rumusan Masalah

Adapun rumusan dari makalah ini, yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan inflasi..?

2. Bagaimana inflasi dapat mempengaruhi tingkat pendapatan distribusi…?

3. Bagaimana perkembangan inflasi terhadap suatu Negara…?

4. Apa penyebab terjadinya inflasi…?

5. Bagaimana terjadinya efek inflasi terhadap distribusi pendapatan…?


1.three Tujuan masalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu:

1. Mengetahui pengertian dasar dari inflasi itu sendiri

ii. Mengetahui dampak terjadinya inflasi

3. Mengetahui perkembangan inflasi di suatu negara

4. Mengetahui sebab terjadinya inflasi

5. Mengetahui terjadinya inflasi terhadap distribusi pendapatan


BAB II


PEMBAHASAN


2.ane Pengertian Inflasi

Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam menganalisis perekonomian suatu negara,terutama berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap variabel makroekonomi agregat, pertumbuhan ekonomi, keseimbangan eksternal,daya saing, tingkat bunga dan bahkan  distribusi pendapatan. Inflasi juga sangat berperan dalam mempengaruhi mobilisasi dana lewat lembaga keuangan formal. Tingkat harga merupakan
opportunity cost
bagi masyarakat dalam memegang (Holding) asset finansial. Semakin tinggi perubahan tingkat harga maka semakin tinggi pula
opportunity cost
untuk memegang asset fenansial.Artinya masyarakat akan merasa beruntung jika memegang aset dalam bentuk riil dibandingkan aset finansial jika tingkat harga tetap tinggi. Jika aset finansial luar negeri dimasukan sebagai salah satu pilihan aset, maka perbedaan tingkat inflasi dalam negeri dan internasional dapat menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing menjadi
overvalued
dan pada gilirangnya akan menghilangkan daya saing komoditas indonesia.

Sebelum terjadinya krisis keuangan Asia yang melanda perekonomian Indonesia pada tahun 1998, Depository financial institution Iindonesia sebagai institusi yang bertanggung jawab terhadap kestabilan tingkat inflasi telah secara dini memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan moneter yang mempertahankan inflasi yang rendah, demikian juga dalam memelihara dan mengelolah stabilitas nilai tukar.Namun dalam kenyataannya, pencapaian tujuan mempertahankan stabilitas nilai tukar lebih mendominasi sasaran kebijakan moneter, sebaliknya pencapaian pertumbuhan besaran moneter dan inflasi menjadi sering terabaikan. Terlebih lagi, dengan meningkatnya arus modal masuk pada awal 1990-an, sasaran target berupa
money base
menjadi kurang dapat dikendalikan. Seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap rupiah, maka pada bulan agustus 1997 Bank Indonesia melepaskan rentang Intervensi dan pengembangan nilai tukar rupiah.


2.2 Definisi Inflasi


Cukup banyak definisi inflasi yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi, tetapi sampai sekarang belum diperoleh difinisi yang baku, yang disetujui oleh seluruh ahli ekonomi. Definisi yang paling umum adalah menurut
Venieris
dan
Sebold
(Gunawan, 1995) yang mendifinisikan inflasi sebagai
“a sustainned tendency for general price”.
Kenaikan harga umum yang terjadi sekali waktu saja, menurut definisi ini, tidak dapat dikatakan sebagai inflasi.   Di dalam pengertian tersebut tercakup tiga aspek, yaitu:

 ane.
Trend
atau kecenderungan harga-harga untuk meningkat, yang berarti mungkin saja tingkat harga yang terjadi atau aktual pada waktu tertentu turun atau naik dibanding dengan sebelumnya, tetapi secara umum tetap menunjukkan kecenderungan meningkat.

2.
Sustained. Peningkatan harga tersebut tidak hanya terjadi pada waktu tertentu atau sekali waktu saja, melainkan secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama.

3.
Full general level of prices. Tingkat harga yang dimaksud adalah tingkat harga barang-barang secara umum sehingga tidak hanya satu macam barang saja.

2.3 Penggolongan inflasi

Inflasi dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu menurut sifat, penyebab dan asal inflasi.

 a.  Jenis inflasi menurut sifat

1. Inflasi ringan (creeping aggrandizement)

Inflasi ringan ditandai dengan laju inflasi yang rendah, biasanya bernilai satu digit per tahun (kurang dari 10%). Kenaikan harga pada jenis inflasi ini berjalan secara lambat, dengan persentase yang kecil serta dalam jangka yang relatif lama.

 2. Inflasi menengah (galloping inflation)

Inflasi menengah ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (biasanya duoble digit, yaitu diantara 10% – 30% per tahun) dan kadang-kala berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi. Artinya, harga-harga minggu/bulan ini lebih tinggi dari minggu/bulan lalu dan seterusnya.

Baca :   Pengaruh Pajak Terhadap Pembangunan Ekonomi Indonesia

 3. Inflasi tinggi (hyper aggrandizement)

Inflasi tinggi merupakan inflasi yang paling parah akibatnya. Harga-harga naik sampai 5 atau six kali (lebih dari thirty%). Masyarakat tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan uang. Perputaran uang makin cepat, harga naik secara akselerasi (Nopirin, 1990).

b.   Jenis inflasi menurut sebab

 1.
Need-pull inflation




                             Demand pull inflation


adalah inflasi yang terjadi karena adanya kenaikan permintaan agregat (agregate demand
), sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh.

Menurut golongan keynesian, penyebab utama inflasi adalah kelebihan penawaran uang dan kedua, menurut kelompok monetaris disebabkan oleh adanya peningkatan konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah.

 two.
Cost-push button inflation


Price-push inflation


ditandai dengan kenaikan harga serta turunnya produksi. Keadaan ini timbul dimulai dengan adanya penurunan dalam penawaran agregat (aggregate supply, AS) sebagai akibat kenaikan biaya produksi. Beberapa contoh penyebab inflasi dari sudut penawaran adalah kenaikan  upah pekerja, kenaikan BBM dan kenaikan tarif listrik serta kenaikan tarif angkutan.  Kenaikan variabel-bariabel ini akan menyebabkan kenaikan pada biaya produksi.

3. Mixed aggrandizement

Dalam prakteknya, jarang sekali dijumpai inflasi dalam bentuk yang murni, yaitu inflasi karena tarikan permintaan dan inflasi karena penurunan penawaran yang terjadi secara sendiri-sendiri. Inflasi yang terjadi di berbagai negara di dunia ini pada umumnya adalah campuran dari kedua macam inflasi tersebut di atas, atau apa yang biasa disebut sebagai inflasi campuran (mixed inflation).

Inflasi campuran disebabkan karena adanya campuran antara inflasi tarikan permintaan  dengan inflasi dorongan biaya. Sekalipun sering terjadi pada awalnya yang menimbulkan inflasi adalah murni tarikan permintaan atau dorongan biaya, namun dapat terjadi setelah gejala inflasi mulai terasa dampaknya terhadap perekonomian, unsur penyebab timbulnya macam inflasi yang lainnya mulai ikut bergabung bersama memperbesar laju inflasi.

c. Jenis inflasi menurut asal

 i. Inflasi yang berasal dari dalam negeri
(domestic inflation).

Inflasi ini dapat timbul antara lain karena defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru ataupun terjadinya kegagalan panen.

 2. Inflasi yang berasal dari luar negeri
(imported aggrandizement).

Inflasi ini merupakan inflasi yang timbul karena kenaikan harga-harga (inflasi) di luar negeri atau di luar negara tersebut. Dalam hubungan ini pengaruh inflasi dari luar negeri ke dalam negeri dapat terjadi melalui kenaikan harga barang-barang impor maupun kenaikan harga barang-barang ekspor.


2.4 Teori Kuantitas


Teori kuantitas menyoroti proses inflasi dari segi jumlah uang beredar dan psikologi atau harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang
(expectation).
Menurut teori ini, inflasi hanya dapat terjadi bila ada penambahan jumlah uang beredar. Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar dan oleh harapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa mendatang.

Dalam teori kuantitas dikenal dua aliran, yaitu Teori Kuantitas Tradisional dan Teori Kuantitas Modern. Pada dasarnya Teori Kuantitas Tradisional merupakan suatu hipotesa mengenai penyebab utama nilai uang atau tingkat harga. Teori ini menghasilkan suatu kesimpulan bahwa perubahan yang terjadi dalam nilai uang atau tingkat harga merupakan akibat dari adanya perubahan jumlah uang beredar. Bertambahnya jumlah uang beredar dalam masyarakat akan mengakibatkan nilai uang menurun. Karena menurunnya nilai uang mempunyai makna yang sama dengan naiknya tingkat harga, maka kesimpulan teoritik yang dihasilkan oleh teori kuantitas tersebut di atas dapat pula dikatakan bahwa bertambahnya jumlah uang beredar mempunyai tendensi atau kecenderungan mengakibatkan naiknya tingkat harga. Demikian pula sebaliknya, berkurangnya jumlah uang beredar cenderung mengakibatkan turunnya tingkat harga. Dengan demikian, menurut teori kuantitas tradisional inflasi hanya dapat terjadi apabila terdapat penambahan jumlah uang beredar.

Salah satu perkembangan yang paling menarik dalam pemikiran teori kuantitas modernistic adalah teori mengenai harapan-harapan rasional. Teori ini menyatakan bahwa masyarakat umum merumuskan harapan-harapan tentang masa depan atas dasar seluruh informasi relevan yang tersedia sekarang. Sehubungan dengan hal tersebut, maka mengenai pengaruh harapan
(expectation)
masyarakat tentang kenaikan harga-harga pada masa mendatang dalam pembentukan inflasi dapatlah dikemukakan beberapa kemungkinan keadaan.

1.

Keadaan pertama, adalah jika masyarakat tidak mengharapkan harga-harga untuk naik pada bulan-bulan mendatang. Dalam hal ini, sebagian besar dari penambahan jumlah uang beredar akan diterima oleh masyarakat untuk menambah likuiditasnya. Ini berarti bahwa sebagian besar dari jumlah uang tersebut tidak dibelanjakan untuk pembelian barang sehingga tidak ada kenaikan harga-harga barang.

two.

Keadaan kedua, adalah keadaan dimana masyarakat (atas dasar pengalaman dari bulan-bulan sebelumnya) mulai mengetahui adanya inflasi. Hal ini berarti masyarakat mulai mengharapkan kenaikan harga. Penambahan jumlah uang beredar tidak lagi diterima oleh masyarakat untuk menambah likuiditasnya, tetapi akan digunakan untuk membeli barang-barang. Hal ini dilakukan karena berusaha untuk menghindari kerugian yang timbul seandainya memegang uang tunai. Dari sisi masyarakat secara keseluruhan timbul adanya kenaikan permintaan akan barang-barang sehingga harga barang akan menjadi naik. Bila masyarakat mengharapkan harga barang naik di masa mendatang sebesar laju inflasi pada bulan-bulan lalu, maka kenaikan jumlah uang beredar akan sepenuhnya menjadi kenaikan permintaan barang-barang.

Baca :   Teori Ekonomi Pembangunan Menurut Leibenstein

3.

Keadaan ketiga, adalah keadaan yang terjadi pada tahap inflasi yang lebih parah yaitu tahap hiperinflasi. Dalam keadaan ini masyarakat sudah kehilangan kepercayaannya terhadap nilai mata uang. Pertambahan jumlah uang beredar akan dapat menimbulkan kenaikan harga-harga (inflasi) dalam persentase yang lebih besar daripada persentase pertambahan jumlah uang beredar tersebut.

Inti dari teori ini adalah sebagai berikut :

1.

Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang beredar, baik uang kartal maupun giral.

2.

Laju inflasi juga ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar  dan oleh harapan
(ekspektasi)
masyarakat mengenai kenaikan harga di masa mendatang.


2. five Teori Keynes


Teori Keynes mengenai inflasi memandang bahwa inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Dengan kata lain, proses inflasi merupakan proses perebutan bagian output diantara kelompok-kelompok masyarakat yang menginginkan bagian yang lebih besar daripada yang dapat disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses perebutan ini akhirnya diwujudkan sebagai keadaan dimana permintaan masyarakat akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang yang tersedia atau timbulnya apa yang disebut sebagai
inflationary gap. Inflationary gap
tersebut dimungkinkan, karena masyarakat berhasil memperoleh dana untuk mewujudkan rencana pembelian mereka menjadi suatu permintaan yang efektif. Apabila permintaan efektif dari semua golongan masyarakat melebihi jumlah output yang tersedia, maka harga-harga akan naik. Inflasi akan berhenti bila masyarakat tidak lagi memperoleh dana untuk membiayai rencana pembelian mereka pada harga yang berlaku, sehingga permintaan efektif total tidak melebihi jumlah output yang tersedia
(inflationary gap hilang). Proses ini dijelaskan lebih lanjut pada Gambar 1 dan 2.

Gambar 1.1  Kurva Inflasi karena
inflationary gap










P
                                                           s





















P4
   ……………………………………………………

















P3
   ……………………………………………………













P2

D4















P1

D3
















D2

D1








Q1              Q2
       output

Pada gambar 1.one menunjukkan keadaan dimana
inflationary gap
tetap timbul. Dalam hal ini dianggap bahwa semua golongan masyarakat dapat memperoleh dana yang cukup untuk membiayai rencana-rencana pembelian mereka (pada tingkat harga yang berlaku). Dengan timbulnya
inflationary gap, kurva permintaan efektif bergeser dari D1 ke D2.
Inflationary gap
sebesar Q1Q2 timbul dan harga naik dari P1 ke P2. Kenaikan harga ini mengakibatkan rencana-rencana pembelian golongan masyarakat tidak terpenuhi.

Apabila kemudian masyarakat dapat memperoleh dana untuk membiayai rencana-rencana pembelian tersebut pada tingkat harga yang berlaku, maka inflationary gap sebesar Q1Q2 akan timbul lagi  dan harga akan naik lagi dari P2 ke P3. Kalau setiap golongan masyarakat tetap berusaha memperoleh jumlah barang-barang yang sama dan berhasil memperoleh dana untuk membiayai rencana-rencana pembeliannya pada tingkat harga yang berlaku, maka
inflationary gap
akan tetap timbul pada periode selanjutnya, dan harga-harga akan terus naik.

                        Gambar 1.2. Kurva
Inflationary Gap
Berhenti

                          Harga

 S















 P5

 …………………………………………………..















P4

…………………………………………………..



















P3

………………………………………………….

D5















P2

…………………………………………………..

D4














P1

………………………………………………….                            .

D3











D2








                                                                                                                                         D1


                                                                                                            Q1          Q2

output

Pada gambar kurva di atas menjelaskan Proses inflasi akan berhenti apabila
inflationary gap
telah hilang. Gambar.v menunjukkan proses
inflationary gap
yang akhirnya berhenti karena
inflationary gap
makin mengecil dan akhirnya hilang pada periode ke v dan harga menjadi stabil pada P5.


BAB 3


PENUTUP


iii.1  Kesimpulan

Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam menganalisis perekonomian suatu negara, terutama berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap variabel makroekonomi agregat, pertumbuhan ekonomi, keseimbangan eksternal,daya saing, tingkat bunga dan bahkan  distribusi pendapatan. Inflasi juga sangat berperan dalam mempengaruhi mobilisasi dana lewat lembaga keuangan formal.

Inflasi didefinisikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus ( kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Kenaikan harga dari satu atau dua  barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas ( atau mengakibatkan kenaikan ) kepada barang lainnya. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan  moneter terhadap suatu komoditas.


3.2 Saran


Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi Inflasi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Kami banyak berharap para pembaca yang memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penyusun demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Budiono. 1994.
Ekonomi Moneter. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi. No. five. BPFE. Yogyakarta.

 Gunawan, H. A. 1995.
Anggaran Pemerintah Dan Inflasi Di Republic of indonesia. PAN Ekonomi
UI. Gramedia. Jakarta.

Nopirin. 1990.
Ekonomi Moneter. Buku dua. BPFE. Yogyakarta.

Sukirno, Southward. 1998.
Pengantar Teori Makroekonomi
Raja Grafindo Persada. Djakarta.

Reksoprayitno, S. 2000.
Pengantar Ekonomi Makro. BPFE. Yogyakarta.

Manurung, Mandala Dan Prathama Rahardja 2004.
Teori Ekonomi Makro Suatu Pengantar.
 FEUI. Jakarta

Makalah Rencana Dan Indikator Pembangunan Ekonomi

Source: https://fajarladim1998.blogspot.com/2018/01/makalah-inflasi.html

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …