Makalah Tentang Pembangunan Ekonomi Di Negara Berkembang

Makalah Tentang Pembangunan Ekonomi Di Negara Berkembang

Sumatra
Nama lokal:


سومترا

(Jawi)

Topografi Pulau Sumatra

LocationSumatra.svg

Pulau Sumatra di Indonesia

Geografi
Lokasi Asia Tenggara
Koordinat


0°00′N
102°00′Due east


 / 

0.000°North 102.000°E
 /
0.000; 102.000


Kepulauan Kepulauan Sunda Besar
Luas 473.481 kmii
Peringkat luas ke-6
Titik tertinggi Gunung Kerinci (3.805 thousand)
Pemerintahan
Negara

 Indonesia
Provinsi
Aceh

Sumatra Utara

Sumatra Barat

Riau

Jambi

Bengkulu

Sumatra Selatan

Kepulauan Bangka Belitung

Lampung

Kepulauan Riau
Kota terbesar Logo Kota Medan (Seal of Medan).svg
Medan (2.479.560 (2018) jiwa)
Kependudukan
Penduduk 57.940.351 jiwa (2018)
Kepadatan 96 jiwa/kmtwo
Kelompok etnis Melayu, Batak, Minangkabau, Aceh, Lampung, Karo, Nias, Rejang, Komering, Gayo, dan lain-lain
Info lainnya
Zona waktu
  • Waktu Republic of indonesia Barat (UTC+07:00)

Sumatra
(bentuk tidak baku:
Sumatera)[1]
adalah pulau keenam terbesar di dunia yang terletak di Indonesia, dengan luas 473.481 km². Penduduk pulau ini sekitar 57.940.351 (sensus 2018). Pulau ini dikenal pula dengan nama lain yaitu
Pulau Percha,
Andalas, atau
Suwarnadwipa
(bahasa Sanskerta, berarti “pulau emas”). Kemudian pada Prasasti Padang Roco tahun 1286 dipahatkan
swarnnabhūmi
(bahasa Sanskerta, berarti “tanah emas”) dan
bhūmi mālayu
(“Tanah Melayu”) untuk menyebut pulau ini. Selanjutnya dalam naskah Negarakertagama dari abad ke-fourteen juga kembali menyebut “Bumi Malayu” (Melayu) untuk pulau ini.

Etimologi

Asal nama Sumatra berawal dari keberadaaan Kerajaan Samudra (terletak di pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata
Samudra
menjadi
Shumathra,[2]
dan kemudian menjadi
Sumatra, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang.[three]

Nama asli Sumatra, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah
Pulau Ameh
(bahasa Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam cerita Cindua Mato dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau Sumatra. Seorang musafir dari Tiongkok yang bernama I-tsing (634-713) yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut Sumatra dengan nama
chin-chou
yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, Sumatra disebut dalam bahasa Sanskerta dengan istilah:
Suwarnadwipa
(“pulau emas”) atau
Suwarnabhumi
(“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut Sumatra dengan nama “Serendib” (tepatnya: “Suwarandib”), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Namun ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilangka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa.

Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatra sudah dikenal dengan nama
Taprobana. Nama
Taprobana Insula
telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya
Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatra, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun seventy, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Nusantara, terutama Sumatra. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatra. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditas mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah
Historia Naturalis
karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.due south. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan dia. Emas itu didapatkan dari negeri Ofir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha 50-lati barak-Na fiha).

Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatra (Gunung Ophir di Pasaman Barat, Sumatra Barat yang sekarang bernama Gunung Talamau?). Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis
Geographike Hyphegesis
berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-fifteen dan ke-16 mencari emas ke Sumatra dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ofir Nabi Sulaiman a.s.

Samudra menjadi Sumatra

Kata yang pertama kali menyebutkan nama
Sumatra
berasal dari gelar seorang raja Sriwijaya
Haji Sumatrabhumi
(“Raja tanah Sumatra”),[4]
berdasarkan berita China ia mengirimkan utusan ke China pada tahun 1017. Pendapat lain menyebutkan nama Sumatra berasal dari nama Samudra, kerajaan di Aceh pada Abad ke-13 dan Abad ke-14. Para musafir Eropa sejak Abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang disebut
Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis.

Peralihan Samudra (nama kerajaan) menjadi Sumatra (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pordenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila fifty-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudra Hindia dan di sana tertulis pulau “Samatrah”. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama “Camatarra”. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama “Samatara”, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama “Samatra”. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu “Camatra”, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya “Camatora”. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: “Somatra”. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: “Samoterra”, “Samotra”, “Sumotra”, bahkan “Zamatra” dan “Zamatora”.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake Abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah Republic of indonesia: Sumatra

Sejarah

Kerajaan maritim dan komersial Sriwijaya mengalami keruntuhan pada tahun 688 Hijriyah[5]. Penyebutan Bupati di pergunakan untuk menyebut Raja Sriwijaya yang bernama Haji Yuwa Rajya Syri Haridewa tertulis dalam Prasasti Hujung Langit Yuwaraja pada Abad ke-nine Masehi, Sriwijaya berkembang di Indonesia[5]. Kerajaan ini berasal dari Sumatra Selatan menguasai Selat Malaka, kekuasaan Kedatuan Sriwijaya berlandaskan International Perdagangan Cina dan India[v]. Para Raja Sriwijaya mendirikan biara-biara di Negapattam tenggara India. Chola kerajaan India yang pada Abad ke-10 Masehi Sriwijaya berkembang menguasai sebagian besar pulau Jawa[5]. Kedatuan Sriwijaya sebagai penghalang Kerajaan Chola India di jalur laut antara Asia Selatan dan Timur, pada tahun 1025 Kerajaan Chola merebut Kerajaan yang berada di Palembang, menangkap raja dan seluruh anggota keluarganya termasuk pejabat-pejabat kerajaan, pembantu serta membawa hartanya, pada awal Abad ke-12 Masehi Kedatuan Sriwijaya telah direduksi menjadi kerajaan kecil dengan raja terahir seorang laki-laki bernama Ratu Sekerummong yang pada Abad ke-thirteen Thousand telah ditaklukkan ditumbangkan oleh keturunan dari Ratu Ngegalang Paksi tetesan darah dari Sultan Iskandar Zulkarnain[v]. Seorang bawahan. Kerajaan Majapahit di Jawa segera mendominasi panggung Politik Indonesia[5]
[half dozen], di daerah Jawa ketika konflik internal kerajaan Majapahit, berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik tersebut, hal ini dimanfaatkan oleh keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam di pulau jawa yaitu kerajaan Demak walaupun masih bersipat lokal[vii].

Kemudian bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam lainnya dari pulau Sumatra[7]. Tertinggi bahkan bisa menkerucut menjadi Piramida kerajaan yang berdiri pada abad ke-7 Hijriyah tahun 688 Mujarrad rasulullah sallallahu alayhi wasallam, pada tahun 1601 nusantara di jajah oleh kerajaan Belanda yang datang ke Indonesia[7].

Penduduk

Secara umum, pulau Sumatra didiami oleh bangsa Melayu, yang terbagi ke dalam beberapa suku/subsuku. Suku-suku besar lainnya selain Melayu ialah Batak, Jawa, Minangkabau, Aceh, Lampung, Karo, Nias, Rejang, Komering, Gayo, dan suku-suku lainnya. Di wilayah pesisir timur Sumatra dan di beberapa kota-kota besar seperti Medan, Batam, Palembang, Pekanbaru, dan Bandar Lampung, banyak bermukim etnis Tionghoa dan Republic of india. Mata pencaharian penduduk Sumatra sebagian besar sebagai petani, nelayan, dan pedagang.

Penduduk Sumatra mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil merupakan penganut ajaran Kristen Protestan, terutama di wilayah Tapanuli dan Toba-Samosir, Sumatra Utara. Di wilayah perkotaan, seperti Medan, Pekanbaru, Batam, Pangkal Pinang, Palembang, dan Bandar Lampung dijumpai beberapa penganut Buddha.

Berikut adalah 11 suku bangsa terbesar yang ada di Sumatera menurut sensus BPS 2010 (termasuk Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Nias, Mentawai, Simeulue dan pulau-pulau di sekitarnya)[8]

No Suku Bangsa Jumlah
1 Suku Jawa 15.239.275
2 Suku Batak 7.302.330
3 Suku Minangkabau 5.799.001
4 Suku Asal Sumatera Selatan four.826.272
5 Suku Melayu 4.016.182
half-dozen Suku Asal Aceh three.991.883
7 Suku Asal Sumatera Lainnya 2.086.804
viii Suku Asal Jambi ane.379.351
ix Suku Sunda 1.231.888
10 Suku Asal Lampung 1.109.601
11 Suku Nias 1.021.267

Transportasi

Kota-kota di pulau Sumatra dihubungkan oleh empat ruas jalan lintas, yakni lintas tengah, lintas timur, lintas barat dan lintas pantai timur yang melintang dari barat laut – tenggara Sumatra. Selain itu terdapat pula ruas jalan yang melintang dari barat – timur, seperti ruas Bengkulu – Palembang, Padang – Jambi, serta Padang – Dumai – Medan.

Di beberapa bagian pulau Sumatra, kereta api merupakan sarana transportasi alternatif. Di bagian selatan, jalur kereta api bermula dari Pelabuhan Panjang (Lampung) hingga Lubuk Linggau dan Palembang (Sumatra Selatan). Di tengah pulau Sumatra, jalur kereta api hanya terdapat di Sumatra Barat. Jalur ini menghubungkan antara kota Padang dengan Sawah Lunto dan kota Padang dengan kota Pariaman. Semasa kolonial Belanda hingga tahun 2001, jalur Padang – Sawah Lunto dipergunakan untuk pengangkutan batu bara. Tetapi semenjak cadangan batu bara di Ombilin mulai menipis, maka jalur ini tidak berfungsi lagi. Sejak akhir tahun 2006, pemerintah provinsi Sumatra Barat, kembali mengaktifkan jalur ini sebagai jalur kereta wisata.

Di utara Sumatra, jalur kereta api membentang dari kota Medan sampai ke kota Rantau Prapat. Pada jalur ini, kereta api dipergunakan sebagai sarana pengangkutan kelapa sawit dan penumpang.

Penerbangan internasional dilayani dari Banda Aceh (Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda), Medan (Bandar Udara Internasional Kuala Namu), Padang (Bandara Internasional Minangkabau, Batam (Bandar Udara Internasional Hang Nadim), Tanjungpinang (Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah) dan Palembang (Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin Ii). Sedangkan pelabuhan kapal laut ada di Belawan (Medan), Teluk Bayur (Padang), Batam Middle (Batam), Bulang Linggi (Bintan), Sri Bintan Pura (Tanjungpinang) dan Bakauheni (Lampung).

Ekonomi

Pulau Sumatra merupakan pulau yang kaya dengan hasil bumi. Dari lima provinsi kaya di Indonesia, tiga provinsi terdapat di pulau Sumatra, yaitu provinsi Aceh, Riau dan Sumatra Selatan. Hasil-hasil utama pulau Sumatra ialah kelapa sawit, tembakau, minyak bumi, timah, bauksit, batu bara dan gas alam. Hasil-hasil bumi tersebut sebagian besar diolah oleh perusahaan-perusahaan asing.

Tempat-tempat penghasil barang tambang ialah:

  • Arun (Aceh), menghasilkan gas alam.
  • Pangkalan Brandan (Sumatra Utara), menghasilkan minyak bumi
  • Duri, Dumai, dan Bengkalis (Riau), menghasilkan minyak bumi.
  • Tanjung Enim (Sumatra Selatan), menghasilkan batu bara.
  • Lahat (Sumatra Selatan), menghasilkan batu bara.
  • Plaju dan Sungai Gerong (Sumatra Selatan), menghasilkan minyak bumi.
  • Tanjungpinang (Kepulauan Riau), menghasilkan bauksit.
  • Natuna dan Kepulauan Anambas (Kepulauan Riau), menghasilkan minyak bumi dan gas alam.
  • Singkep (Kepulauan Riau), menghasilkan timah.
  • Karimun (Kepulauan Riau), menghasilkan granit.
  • Indarung (Sumatra Barat), menghasilkan semen.
  • Sawahlunto (Sumatra Barat), menghasilkan batubara.

Beberapa kota di pulau Sumatra, juga merupakan kota perniagaan yang cukup penting. Medan kota terbesar di pulau Sumatra, merupakan kota perniagaan utama di pulau ini. Banyak perusahaan-perusahaan besar nasional yang berkantor pusat di sini.

Selain kota Medan, kota-kota besar lain di pulau Sumatra adalah:

  1. Palembang, Sumatra Selatan
  2. Bandar Lampung, Lampung
  3. Pekanbaru, Riau
  4. Batam, Kepulauan Riau
  5. Padang, Sumatra Barat

Geografis

Pulau Sumatra terletak di bagian barat gugusan kepulauan Nusantara. Di sebelah utara berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di sebelah selatan dengan Selat Sunda dan di sebelah barat dengan Samudra Hindia. Di sebelah timur pulau, banyak dijumpai rawa yang dialiri oleh sungai-sungai besar yang bermuara di sana, antara lain Asahan (Sumatra Utara), Sungai Siak (Riau), Kampar, Inderagiri (Sumatra Barat, Riau), Batang Hari (Sumatra Barat, Jambi), Musi, Ogan, Lematang, Komering (Sumatra Selatan), Way Semaka, Style Sekampung, Mode Tulangbawang, Fashion Seputih dan Way Mesuji (Lampung). Sementara beberapa sungai yang bermuara ke pesisir barat pulau Sumatra di antaranya Batang Tarusan (Sumatra Barat) dan Ketahun (Bengkulu).

Di bagian barat pulau, terbentang pegunungan Bukit Barisan yang membujur dari barat laut ke arah tenggara dengan panjang lebih kurang 1500 km. Sepanjang bukit barisan tersebut terdapat puluhan gunung, baik yang tidak aktif Gunung Pesagi, maupun gunung berapi yang masih aktif, seperti Geureudong (Aceh), Sinabung (Sumatra Utara), Marapi dan Talang (Sumatra Barat), Gunung Dempo (Sumatra Selatan), Gunung Kaba (Bengkulu), dan Kerinci (Sumatra Barat, Jambi). Di pulau Sumatra juga terdapat beberapa danau, di antaranya Danau Laut Tawar (Aceh), Danau Toba (Sumatra Utara), Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, Danau Dibawah, Danau Talang (Sumatra Barat), Danau Kerinci (Jambi) Danau Suoh dan Danau Ranau (Lampung dan Sumatra Selatan).

Gunung-gunung di Sumatra yang berketinggian di atas 2.500 meter dpl

  • Gunung Bandahara, Aceh (iii.030 m)
  • Gunung Dempo, Sumatra Selatan (3.159 m)
  • Gunung Geureudong, Aceh (2.885 g)
  • Gunung Kerinci, Jambi (three.805 thou)
  • Gunung Leuser, Aceh (3.172 m)
  • Gunung Marapi, Sumatra Barat (ii.891 m)
  • Gunung Perkison, Aceh (2.828 1000)
  • Gunung Singgalang, Sumatra Barat (2.877 m)
  • Gunung Talamau, Sumatra Barat (2.912 chiliad)
  • Gunung Talang, Sumatra Barat (2.597 m)

Administrasi

Provinsi

Pemerintahan di Sumatra dibagi menjadi 10 provinsi.

Provinsi Ibu kota Gubernur Luas Wilayah

(km2)
Populasi

(2018)
Kabupaten/

Kota
Logo Peta
Aceh Banda Aceh Achmad Marzuki 57.956 five.184.003 23

Coat of arms of Aceh.svg

Locator Aceh final.png
Sumatra Utara Medan Edy Rahmayadi 72.981 fourteen.753.286 33

Coat of arms of North Sumatra.svg

Locator north sumatra.png
Sumatra Barat Padang Mahyeldi Ansharullah 42.012 5.511.246 19

Coat of arms of West Sumatra.svg

Locator west sumatra.png
Riau Pekanbaru Syamsuar 87.024 6.013.651 12

Coat of arms of Riau.svg

Locator riau final.png
Kepulauan Riau Tanjung Pinang Ansar Ahmad eight.256 1.896.103 7

Coat of arms of Riau Islands.svg

Locator archriau.png
Jambi Jambi Al Haris fifty.058 3.477.124 11

Coat of arms of Jambi.svg

Locator jambi.png
Bengkulu Bengkulu Rohidin Mersyah 19.919 1.975.845 10

Coat of arms of Bengkulu.svg

Locator bengkulu final.png
Sumatra Selatan Palembang Herman Deru 91.592 8.182.597 17

Coat of arms of South Sumatra.svg

Locator sumsel final.png
Kepulauan Bangka Belitung Pangkal Pinang Erzaldi Rosman Djohan 16.424 1.349.121 7

Coat of arms of Bangka Belitung Islands.svg

Locator babel final.png
Lampung Bandar Lampung Arinal Djunaidi 34.632 9.597.375 fifteen

Coat of arms of Lampung.svg

Locator lampung final.png

Kota besar

Berikut 15 kota besar di Sumatra berdasarkan jumlah populasi tahun 2019 (Kemendagri) .

No. Kota Provinsi Populasi

(2019)
Tanggal peresmian
1 Medan Sumatra Utara two.949.830 one Juli 1590; 432 tahun lalu
 (1590-07-01)
two Palembang Sumatra Selatan 1.573.898 17 Juni 683; 1339 tahun lalu
 (683-06-17)
three Batam Kepulauan Riau 1.192.941 eighteen Desember 1829; 192 tahun lalu
 (1829-12-18)
4 Bandar Lampung Lampung 1.176.677 17 Juni 1682; 340 tahun lalu
 (1682-06-17)
5 Pekanbaru Riau 1.074.989 23 Juni 1784; 238 tahun lalu
 (1784-06-23)
6 Padang Sumatra Barat 887.675 vii Agustus 1669; 353 tahun lalu
 (1669-08-07)
7 Jambi Jambi 610.854 17 Mei 1946; 76 tahun lalu
 (1946-05-17)
8 Bengkulu Bengkulu 366.435 xviii Maret 1719; 303 tahun lalu
 (1719-03-18)
nine Dumai Riau 350,678 20 April 1999; 23 tahun lalu
 (1999-04-20)
10 Pematangsiantar Sumatra Utara 282.885 24 Apr 1871; 151 tahun lalu
 (1871-04-24)
eleven Binjai Sumatra Utara 282.415 17 Mei 1872; 150 tahun lalu
 (1872-05-17)
12 Banda Aceh Aceh 240.462 22 April 1205; 817 tahun lalu
 (1205-04-22)
thirteen Lubuklinggau Sumatra Selatan 226,002 21 Juni 2001; 21 tahun lalu
 (2001-06-21)
14 Tanjungbalai Sumatra Utara 167.012 27 Desember 1620; 401 tahun lalu
 (1620-12-27)
fifteen Tebing Tinggi Sumatra Utara 156.815 1 Juli 1917; 105 tahun lalu
 (1917-07-01)

Urutan Kota Kawasan Metropolitan Sensus 2018
BPS
Information 2018
Kemendagri
1. Medan Mebidangro 2.297.610 2.479.560
two. Palembang Patungraya Agung ane.455.284 1.548.064
3. Batam Batam-Bintan-Karimun (BBK) 1.329.773 one.192.808
4. Bandar Lampung No 881.801 ane.166.761
5. Pekanbaru No 1.091.088 959.830
6. Padang Palapa 833.562 872.271

Bahasa

Budaya

Lihat pula

  • Daftar bahasa di Sumatra
  • Daftar gunung di Sumatra
  • Kerajaan-kerajaan di Sumatra

Referensi


  1. ^


    “Hasil Pencarian – KBBI Daring”.
    kbbi.kemdikbud.go.id.





  2. ^

    Hamka (1950)
    Sedjarah Islam di Sumatera
    Medan : Pustaka Nasional. hal 7

  3. ^

    Nicholaas Johannes Krom,
    De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941.

  4. ^


    Munoz.
    Early on Kingdoms. hlm. 175.




  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f



    https://world wide web.britannica.com/place/Srivijaya-empire

  6. ^

    http://digilib.ubl.air conditioning.id/alphabetize.php?p=show_detail&id=17297&keywords=
  7. ^


    a




    b




    c



    https://indosmartschool.com/2018/12/09/makalah-sejarah-masuknya-agama-isla/

  8. ^


    “Badan Pusat Statistik”.
    world wide web.bps.go.id
    . Diakses tanggal
    2021-12-xix
    .




Pranala luar

  • (Inggris)
    Sejarah tentang Sumatra



Makalah Tentang Pembangunan Ekonomi Di Negara Berkembang

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Sumatra

Baca :   Bagaimana Peranan Masyarakat Dalam Pembangunan Ekonomi

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …