Makalah Teori-teori Pembangunan Dalam Pandangan Para Tokoh Ekonomi Islam

Makalah Teori-teori Pembangunan Dalam Pandangan Para Tokoh Ekonomi Islam


TEORI PEMBANGUNAN














DISUSUN OLEH :


NAMA           : NUR ASNIH SAMAD


NIM                : 1363042003


PRODI           : PENDIDIKAN SOSILOGI (A)


FAKULTAS ILMU SOSIAL


UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia_Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Teori-teori Pembangunan”.

Makalah ini berisikan tentang subtansi teori yang ditulis dan kaitannya dengan fenomena pembangunan di Indonesia serta kritikan terhadap teori yang dibahas, dan diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang hal-hal tersebut.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyususnan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin

Makassar, September 2014

Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II PEMBAHASAN

B.

Pengaruh Teori Pembangunan Terhadap Pembangunan di Indonesia

BAB Iii PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA


BAB I


PENDAHULUAN

Teori-teori pembangunan adalah teori yang usianya masih cukup mudah. Teori ini muncul sebagai imbas berbagai masalah pembangunan yang dihadapi negara Dunia Ketiga yang dikenal dengan kelompok negara berkembang atau terbelakang. Faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya kemiskinan di negara Dunia Ketiga salah satunya adalah negara Dunia Ketiga dalam proses pembangunannya banyak melakukan kontak dengan negara maju (negara Barat). Akibatnya banyak ilmuwan sosial yang berpendapat mengenai mengapa negara Dunia Ketiga tidak mampu menandingi kekuatan Barat, misalnya kemajuan ekonomi, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Sehingga muncullah teori-teori mengenai pembangunan diantaranya teori mainstream, teori dependensia, dan teori sistem dunia. Akan tetapi, dimakalah ini saya akan menjelaskan mengenai teori-toeri mainstream dan teori dependensia.

ane.

Bagaimana mengetahui isi dari teori pembangunan?

2.

Bagaimana pengaruh teori pembangunan terhadap pembangunan di Republic of indonesia?


BAB Two


PEMBAHASAN


1.



Teori Pembangunan Mainstream (Modernisasi)

v


Sejarah Teori Pembangunan Mainstream

Teori mainstream merupakan teori modernisasi. Teori modernisasi lahir pada abad ke-xx, sekitar tahun 1950-an di Amerika Serikat, sebagai reaksi atas terjadinya pertentangan dua ideologi yang berkembang pada saat itu, dan merupakan renspon kaum intelektual terhadap Perang Dunia yang begi penganut evolusi dianggap sebagai jalan aptimis menuju perubahan. Modernisasi menjadi penemuan teori yang penting dari pernjalanan kapitalisme yang penjang dibawah kepemimpinan Amerika Serikat. Teori ini lahir dalam suasana ketika dunia memasuki “perang dingin” antara Negara-negara komunis dibawah pimpinan Negara Sosialis Uni Sovyet Rusia (USSR). Perang dingin merupakan bentuk peperangan credo dan teori antara kapitalisme dan sosialisme. Sementara itu gerakan sosialisme Rusia mulai mengembangkan pengaruhnya bukan hanya di Eropa Timur, melainkan juga di negara-negara yang baru merdeka. Sehingga teori modernisasi terlibat dalam peperangan ideology di dalam perang dingin.

Teori modernisasi dan pembagunan  yang pada dasarnya merupakan sebuah gagasan tentang perubahan sosial dalam perjalannya telah menjadi sebuah ideologi. Perkembangan ini adalah akibat dari dukungan dana dan politik yang luar biasa besarnya dari pemerintah dan organisasi maupun perusahaan swasta di Amerika Serikat serta Negara-negara liberal lainnya. Sehingga menjadikan modernisasi dan pembangunan sebagai suatu gerakan ilmuwan yang antar disiplin ilmu-ilmu sosial yang memfokuskan kajian terhadap perubahan sosial di Dunia Ketiga sangat berpengaruh.

Modernisasi sebagai gerakan sosial sesungguhnya bersipat revolusioner (perubahan cepat dari tradisi ke modern). Selain itu modernisasi juga berwatak kompleks (melalui banyak cara dan disiplin ilmu), sistematik, menjadi gerakan global yang akan mempengaruhi semua manusia, melalui proses yang bertahap untuk munuju suatu homogenisasi (convergency) dan bersipat progesif. Teori modernisasi digunakan dikalangan interdisipin, sehingga lahirlah aliran modernisasi dalam sosilogi, fsikologi, pendidikan, ekonomi, antopologi, dan bahkan agama.

v


Pngertian Teori Pembangunan Mainstream

Teori mainstream adalah teori modernisasi dan teori pembangunan pertumbuhan model Rostow dan para pengikutnya. Teori mainstream atau teori modernisasi adalah teori-teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor yang terdapat di dalam negera yang bersangkutan. Teori modernisasi secara umum dapat diungkap sebagai cara pandang (visi) yang menjadi modus utama analisisnya kepada faktor manusia dalam suatu masyarakat.

Teori modernisasi berlatar belakang penetrasi kebudayaan asing yang padat modal dan teknologi untuk dijadikan acuan bagi kemajuan masyarakat di Negara berkembang. Teori modernisasi melihat tradisi masyarakat sebagai faktor penghambat yang harus dieleminir oleh pola pikir rasional. Kematangan masyarakat menuju masyarakat industri, memiliki bentuk transisi yang cukup panjang dan lama dalam bentuk orientasi sekarang (present oriented). Arief budiman pernah menyatakan bahwa teori modernisasi berkembang di banyak Negara berkembang dengan tidak mempertimbangkan akar budaya lokal sebagai potensi pembangunan, oleh karena itu bersifat a-historis.

Menurut teori modernisasi, ukuran masyarakat mod atau masyarakat yang berbudaya maju adalah pada nilai-nilai dan sikap hidup serta sistem ekonomi yang menghidupinya. Sedangkan yang membedakan manusi modern dengan manusia tradisional adalah pada orientasi masa depannya (future oriented). Teori-teori modernisasi bertolak dari landasan textile yang kuat, suatu bentuk eksploitasi manusia dan alam lingkungan yang berorientasi pada kejerahan material.

Teori modernisasi merupakan teori pembangunan yang intinya adalah usaha pembangunan institusional (perekayasaan struktur sosial melalui pembentukan institusi-institusi baru) dan pembangunan mentalitas manusia (perekayasaan kultural).

v


Kritik Terhadap Teori Mainstream

Semua strategi pembangunan ekonomi setelah perang dunia selalu dikritik karena ternyata semua pendekatan pembangunan dalam kenyataannya telah gagal memenuhi janji mereka mensejahterakan rakyat di Dunia ketiga: yang terjadi sebaliknya, pembangunan telah membawa dampak negative, di antaranya, pembangunan telah melanggengkan pengangguran, menumbuhkan ketidak merataan, dan menaikkan kemiskinan absolut. Manfaat pembangunan setelah perang tidak mampu menjangkau orang miskin didunia, dan hal itu dianggap tidak adil karena orang miskin yang menghadapi masalah hidup-mati itu justru tidak terjangkau.

Baca :   Analisis Regulasi Dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia

Sebagai respons, telah muncul culling dalam mencapai pembangunan ekonomi di Dunia Ketiga, yang dinamaka “pertumbuhan dan pemerataan”. Konsep itu belum dikembangkan secara penuh. Seluruh pendekatan “pertumbuhan dan pemerataan” mempunyai aspek umum, yakni semuanya berkembang dari kepercayaan bahwa modelpembangunan tradisional yng mempercayakan pada pertumbuhan GNP tidak akan memberi keuntungan kepada kaum miskin di Negara berkembang, dan juga tidak memberi keuntungan segera kepada mereka. Mereka sependapat bahwa dalam waktu dekat revolusi sosial tidak terjadi di sebagaian besar Negara miskin, tetapi mereka mencari cara untuk mencapai tingkat keadilan seperti revolusi sosial. Taiwan, Korea, Hong Kong, Israel, Jepang, Singapore dan Sri Langka sebagai negara yang berhasil.

Pendekatan pertumbuhan dan pemerataan mendapat berbagai kritikan, baik dari yang mempertahankan pendekatan model tradisional maupun dari penganut pendekatan revolusioner. Pertama, kritik dari dalam atau kritik tradisional. Ada tiga komponen utama yang mempertahankan pendekatan tradisional. Pertama mereka menentang karena menganggap data yang menyerang model tradisional kurang valid. Tidak ada satu data pun yang dapat dipercaya yang menunjukkan secara absolute semakin memburuknya kehidupan orang miskin. Komponen kedua adalah penganut pendekatan tradisional yang berpendapat bahwa mencoba membangun pedesaan dan menahan agar orang desa tetap hidup di desa adalah suatu tindakan reaksioner. Ketiga dan yang terpenting adalah bahwa pendekatan pembangunan tradisional bisa jalan, tetapi hanya karena terlalu cepat diadili. Masalah pembangunan di Eropa Barat dulu identic dengan masalah yang dihadapi Brazil yang dikritik saat ini, tingginya pengangguran, karena memang tidak hanya orang terserap akibat mekanisasi dan memburuknya distribusi pendapatan yang bersifat sementara. Akan tetapi, dalam jangka panjang, industrilisasi akan membawa keuntungan bagi seluru rakyat melalui kerja dan naiknya penghasilan.

v


Asumsi Teori Mainstream



Berdasarkan teori evolusi, maka teori mainstream atau teori modernisasi memiliki beberapa asumsi teoretis dan metodologis. Beberapa asumsi tersebut adalah:

a)

Modernisasi dianggap sebagai proses bertahap.

b)

Modernisasi merupakan proses homogenisasi, maksudnya adalah melalaui modernisasi akan terbentuk berbagai masyarakat dengan karakter serta struktur serupa.

c)

Modernisasi kadang kala terwujud dalam bentuk lahirnya sebagai proses Eropanisasi atau Amerikanisasi atau yang lebih dikenal dengan westernisasi, modernisasi sama dengan Barat. Akhir-akhir ini, negara Timur sudah mengadopsi berbagai sistem atau ideology yang dianut negara Barat, misalnya ideology, kapitalisme serta paham politik demokrasi. Negara Barat sudah menjadi kiblat bagi negara-negara di wilayah Timur karena negara Barat menjadi simbol kemajuan, simbol keberhasilan, simbol kesejahteraan ekonomi, dan simbol kestabilan politiknya.

d)

Modernisasi merupakan proses yang tidak bergerak mundur. Proses modernisasi tidak bisa dihentikan. Jika Negara Dunia ketiga sudah melakukan kontak dengan negara maju (dalam hal ini adalah negara Barat), maka negara Dunia Ketiaga tidak akan mampu untuk menolak melakukan upaya modernisasi.

due east)

Modernisasi merupakan perubahan yang progresif. Modernisasi dalam jangka panjang, bukan hanya diposisikan sebagai proses yang pasti terjadi, namun modernisasi dipandang sebagai sesuatu yang dibutuhkan.

f)

Modernisasi memerlukan waktu yang panjang. Modernisasi adalah sebuah proses perubahan yang bersifat evolusioner, bukan revolusioner. Untuk diperlukan waktu yang sangat panjang untuk dapat menikmati hasil serta mengetahui dampak modernisasi ini.

chiliad)

Modernisasi merupakan proses sistemik. Modernisasi melibatkan perubahan pada hamper segala aspek tingkah laku sosial, termasuk didalamnya adalah proses industrialisasi, urbanisasi, diferensiasi, sekularisasi, sentralisasi, dan sebagainya.

h)

Modernisasi diartikan sebagai proses transformasi. Untuk mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional secara total harus diganti dengan seperangkat struktur dan nilai-nilai modern.

i)

Modernisasi melibatkan proses-proses yang terus menerus (imanen), hal ini dikarenakan modernisasi melibatkan perubahan sosial yang terus-menerus dalam sistem sosial. Sekali terjadi perubahan pada satu aspek yang lain.

v


Sejarah Teori Dependensi

Secara historis, teori dependensi lahir atas ketidak mampuan teori modernisasi membangkitkan ekonomi Negara terbelakang, terutama Negara di bagian Amerika Latin. Secara teoriti, teori modernisasi melihat bahwa kemiskinan dan keterbelakangan yang terjadi di Negara Dunia Ketiga terjadi karena faktor internal di Negara tersebut. Karena faktor internal itulah kemudian  Negara Dunia Ketiga tidak mampu mencapai kemajuan dan tetap berada dalam keterbelakangan. Teori ini muncul di Amerila Latin, menjadi kekuatan reaktif dari suatu kegagalan teori modernisasi dalam pembangunan yang sedang dijalankan. Tradisi berfikir kritis ini timbul akibat fenomena yang terjadi dalam varians ekonomi, yaitu pada awal tahun 1960-an.

Paradigma inilah yang kemudian dibantah oleh teori dependensi. Teori ini berpendapat bahwa kemiskinan dan keterbelakangan yang terjadi di Negara-negra Dunia Ketiga bukan disebabkan oleh faktor internal di Negara tersebut, namun lebih banyak ditentukan oleh faktro eksternal dari luar Negara Dunia Ketiga itu. Faktor luar yang paling menentukan ketrbelkangan dunia ketiga adalah adnaya campur tangan dan dominasi Negara maju pada laju pembangunan Negara dunia ketiga. Dengan campur tangan tersebut maka pembangunan di Nedara Dunia Ketiga tidak berjalan dan berguna untuk menghilangkan keterbelakangan yang sedang terjadi, namun semakin membawa kesengsaraan dan keterbelakangan. Keterbelakangan jilid dua di Negara Dunia Ketiga ini disebabkan oleh ketergantungan yang diciptakan oleh campur tangan Negara maju kepada Negara Dunia Ketiga. Jika pembangunan ini berhasil, maka ketergantungan ini harus diputus dan dibiarkan Negara Dunia Ketiga melakukan roda pembangunannya secara mandiri.

Baca :   Pembentukan Modal Dalam Pembangunan Ekonomi

Lahirnya teori dependensi ini juga dipengaruhi dan merupakan jawaban atas kerisis teori Marxis Ortodoks di Amerika Latin. Menurut pndangan Marxis Ortodoks, Amerika Latin harus mempunyai tahapan revolusi industry “borjuis” sebelum melampaui revolusi sosialis proletar. Namun demikan Refolusi Republik Rakyat Cina (RRC) tahun 1949 dan refolusi kuba pada akhir tahun 1950-an mengajarkan pada kaum cendikiawan, bahwa Negara Dunia Ketiga tidak harus mengikuti tahapan-tahapan perkembangan tersebut. Tertarik pada model pembangunan RRC dan kuba, banyak intelektual radikal di Amerika Latin berpendapat, bahwa Negara-negara Amerik Latin dapat saja langsung menuju dan berada pada tahapan revolusi sosialis.

v


Pengertian Teori Dependensiasi

Secara garis besar, teori dependensi adalah suatu keadaan dimana keputusan-keputusan utama yang memengaruhi kemajuan ekonomi di Negara berkembang seperti keputusan mengenai harga komoditi, pola investasi, hubungan moneter, dibuat oleh individu atau institusi di luar negeri yang bersangkutan.

Menurut Servaes(1986), teori-teori Dependensi dan keterbelakangan lahir sebagai hasil “revolusi intelektual” secara umum pada pertengahan tahun 60-an sebagai tantangan para ilmuan Amerika Latin terhadap pandangan Barat mengenai pembangunan. Meskipun paradigma Dipendensi dapat dikatakan asli Amerika Latin, namun “bapak pendiri” perpektif ini adalah Baran, yang bersama Magdoff dan Sweezy merupakan juru bicara kelompok
North American Monthly Review.

Baran merupakan orang pertama dalam mengemukakan bahwa pembangunan dan keterbelakangan harus dilihat sebagai suatu proses yang: (a) saling berhubungan dan berkesinambungan (interrelated and continuous procces), dan (b) merupakan dua aspek dari satu proses yang sama, daripada suatu keadaan eksistensi yang orisinil.

Teori-teori yang mengenai ketergantungan dan keterbelakangan telah digambarkan dalam studi-studi yang dilakukan Celso Furtado, Andre Gunder Frank, Theotonio Dos Santos, Fernando Henrique Cardoso. Pada umumnya mereka itu membahas secara serius masalah colonial yang secara historis membekas pada pertumbuhan di Negara-negara Amerika Latin, Afrika dan Asia. Menurut mereka, kecuali dengan suatu pengenalan yang eksplisit akan konsekuensi hubungan tersebut. Dengan kata lain bahwa keterbelakangan yang ada sekarang ini merupakan kosekuensi masa penjajahan yang telah dialami oleh Negara-negara baru.

Baran dan Hobsbauw (1961) menegaskan bahwa untuk menanggulangi masalah keterbelakangan, harus dipahami lebih dulu mengapa Negara-negara tersebut menjadi terbelakang? Dalam teori tahapan pertumbuhan ekonomi dan model-model pembangunan yang dipengaruhinya tampak seakan-akan Negara-negara yang disebut terbelakang itu muncul begitu saja entah dari mana.

Dalam teori semacam itu, Negara-negara yang belum berkembang itu digambarkan seolah-olah tidak punya riwayat sejarah, dan mereka begitu saja dikelompokkan bersama di bawah satu label masyarakat tradisional.

Padahal sekarang ini, bahkan suatu pengenalan yang sederhana mengenai sejarah menunjukkan bahwa keterbelakangan bukan sesuatu yang orisinal atau tradisional, dan tidak pula bahwa masa lalu atau masa kini dari Negara terbelakang mengingatkan pada aspek mana pun dari Negara-negara yang kini telah maju.hubungan ketergantungan tersebut bukan semata-mata dibidang ekonomi saja. Para penulis seperti Freire(1968) dan Rayan (1971)menunjukkan bahwa disebarluaskannya ideology-ideologi, sistem-sistem keyakinan, konlomerasi nilai-nilai, dan lain-lain dari Negara maju di Negara-negara satelit merupakan suatu cara untuk melegitimasikan struktur-struktur kekuasaan yang ada sekarang, berikut keadaan ketergantungan tadi.

five


Kritik Terhadap Teori Dependensi

Setelah menghadapi sekian banyak tudingan dari teorisi Dependensi, banyak juga para analisis pembangunan yang berpegangan pada teori awal tadi yang merasa bahwa hal-hal yang dikemukakan dalam teori Dependensi itu sesuatu yang dilebih-lebihkan. Adapun yang menuduh kaum pendista telah mendistorsikan sejarah dalam kupasan mereka, terutama yang menyangkut hubungan antara Negara-negara maju dengan Negara-negara terbelakang. Namun, nyatanya teori Dependensi dan keterbelakangan tersebut memang mendapat pengaruh yang besar di tengah Negara-negara sedang berkembang.

Menurut Servaes (1986), hal-hal yang dikritik pada teori Dependensi dan keterbelakangan itu pada pokoknya adalah:

a)

Bahwa pandangan kaum dependensia tentang kontradiksi yang fundamental di dunia antara pusat dan periferi ternyata tidak berhasil memperhitungkan struktur-struktur kelas yang bersifat internal dan kelas produksi di periferi yang menghambat terbentuknya tenaga produktif.

b)

Bahwa teori dependensi cenderung untuk berfokus kepada masalah pusat dan modal internasional karena kedua hal itu “dipersalahkan” sebagai penyebab kemiskinan dan keterbelakangan, ketimbang masalah pembentukan kelas-kelas lokal.

c)

Teori dependensi telah gagal dalam memperbedakan kapitalis dengan feodalis; atau bentuk-bentuk pengadilan produser masa prakapitalis lainnya dan apropriasi surpul.

d)

Teori dependensi mengabaikan produktifitas tenaga kerja sebagai titik sentral dalam pembangunan ekonomi nasional, dan meletakkan tenaga penggerak (motor force) dari pembangunan kapitalis dan masalah keterbelakangan pada transfer surpul ekonomi pusat ke periferi.

e)

Teori dependensi juga diilai menggalakan suatu ideology berorientasi ke Dunia Ketiga yang meruntuhkan potensi solidaritas kelas internasional dengan menyatukan semuanya sebagai “musuh”, yakni baik elit maupun massa yang berada di bangsa-bangsa pusat.

f)

Teori dependensi dinilai statis karena ia tidak mampu menjelaskan dan memperhitungkan perubahan-perubahan ekonomi di Negara-negara terbelakang menurut waktunya.

v

Asumsi Teori Dependensi

Ada beberapa asumsi teori yang dikembangkan teori dependensi. Asumsi teoretis tersebut, yaitu
pertama, keadaan ketergantungan dilihat dari satu gejala yang sangat umum, berlaku bagi seluruh negara Dunia Ketiga teori dependensi berusaha menggambarkan watak-watak umum keadaan ketergantungan di Dunia Ketiga sepanjang perkembangan kapitalisme dari Abad ke-16 sampai sekarang.


Kedua

, ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang diakibatkan oleh “faktor luar” sebab terpeting yang menghambat pembangunan karena tidak terletak pada persoalan kekurangan modal atau kekurangan tenaga dan semangat wiraswasta, melainkan terletak pada diluar jangkauan politik ekonomi dalam negeri suatu negara. Warisan sejarah colonial dan pembagian kerja internasional yang timpang bertanggung jawab terhadap kemerdekaan pembangunan negara Dunia Ketiga.

Baca :   Dampak Yang Dirasakan Dalam Pembangunan Ekonomi


Ketiga

, permasalah ketergantungan lebih dilihatnya sebagai masalah ekonomi, yang terjadi akibat mengalir surplus ekonomi dari negara Dunia Ketiga ke negara maju. Ini diperburuk lagi karena negara Dunia Ketiga mengalami kemerosotan nilai tukar perdagangan relatifnya.


Keempat

, situaisi ketergantungan merupakan bagian yang terpisahkan dari proses polarisasi regional ekonomi global. Disatu pihak, mengalirnya surplus ekonomi dari Dunia Ketiga menyebabkan keterbelakangannya, satu faktor yang mendorong lajunya pembangunan di negara maju.


Kelima

, keadaan ketergantungan dilihtnya sebagai suatu hal yng mutlak bertolak belakang dengan pembangunan. Bagi teori dependensi, pembangunan di negara pinggiran mustahil terlaksana sekalipun sedikit perkembangan dapat saja terjadi di negara pinggiran ketika misalnya sedang terjadi depresi ekonomi dunia atau perang dunia. Teori dependensi berkeyakinan bahwa pebangunan yang otonom dan berkelanjutan hamper dapat dikatakan tidak mungkin dalam situasi yang terus menerus terjadi pemindahan surplus ekonomi ke negara maju.

Teori dependensi juga lahir atas respon ilmiah terhadap pendapat kaum Marxis Klasik tentang pembangunan yang dijalankan di negara maju dan berkembang. Aliran neo-marxisme yang kemudian menopang keberadaan teori dependensi ini.


B.



Pengaruh Teori Pembangunan Terhadap Pembangunan di Indonesia

Pembangunan Indonesia, atau pembangunan masyarakat dan manusia Indonesia sampai kejatuhan pemerintahan Soeharto 1998, garis besarnya ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) setiap lima tahun dalam apa yang disebut Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). GBHN ini kemudian diperinci kedalam rencana pembangunan lima tahun (REPELITA). Peleksanaan dari rencana ini terwujud dalam kebijakan, program, dan proyek-proyek Departemen. Semua kebijakan dan implementasinya ini harus didasarkan kepada pancasila dan UUD 1945.

Bagi Indonesia pengaruh teori pembangunan dunia merupakan suatu alasan yang strategis dan memaksa bagi pemerintah untuk memilih dan melaksanakan salah satu diantaranya. Nampaknya dari pengalaman sejarah nasional, Republic of indonesia pernah mengalami dan mempraktekkan tiga teori pembangunan yang pada dasarnya berpijak pada teori perubahan sosial dalam ilmu-ilmu sosial. Mulai dari teori kapitalisme Klasik di zaman penjajahan, kemudian teori Sosialis di zaman pemerintahan Orde Lama, dan sampai pada pelaksanaan teori dependensia (ketergantungan). Pada masing-masing zaman yang menerapkan teori pembangunan tersebut menunjukkan, bahwa perkembangan teori pembangunan dunia sangat mempengaruhi penerapan pola dan strategi kebijakan pembangunan nasional Indonesia. Khususnya pada zaman pemerintahan Orde Baru sampai sekarang ini, banyak pengalaman pemerintah yang memberikan gambaran tentang betapa tergantungnya bangsa dan negara ini terhadap sistem dunia.

Di dalam khasanah ilmu-ilmu sosial di Indonesia sendiri,ampai 1980-an, dikuasai oleh teori modernisasi.selama lebih dari tiga decade itu, teori modernisasi yakni teori yang mengatakan bahwa kemiskinan suatu negara berpangkal terhadap persoalan internal negara bersangkutan, sehingga solusinya adalah memodernkan negara tersebut menjadi pilihan utama untuk menjalankan dan menyelenggarakan pembangunan negara. Sebagaian besar kaum berdidik yang berperan dalam wacana pembangunan Indonesia adalah para lulusan barat yang berkiblat pada paradigma modernisasi.


BAB Iii


PENUTUP

Teori Pembangunan adalah serangkaian teori yang digunakan sebagai acuan untuk membangun sebuah masyarakat. Ide tentang pentingnya perhatian terhadap teori pembangunan pada awalnya muncul ketika adanya keinginan dari negara-negara maju untuk mengubah kondisi masyarakat dunia ketiga yang baru merdeka yang menurut negara maju masih miskin dan terbelakang. Ada tiga Teori Pembangunan antara lain; Teori Modernisasi, Teori Ketergantungan (Dependensi), dan Teori Sistem Dunia (World System Theory).


Teori mainstream merupakan teori modernisasi yang lahir pada abad ke-20, sekitar tahun 1950-an di Amerika Serikat. Teori mainstream atau teori modernisasi adalah teori-teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor yang terdapat di dalam negara yang bersangkutan. Sedangkan, teori dependensi secara gasir besar adalah suatu keadaan dimana keputusan-keputusan utama yang mempengaruhi kenajuan ekonomi di negara berkembang seperti keputusan mengenai harga komoditi, pola investasi, hubungan moneter, dibuat oleh individu atau institusi di luar negara yang bersangkutan.teori ini muncul di Amerika Latin.


Sistem ekonomi di Republic of indonesia pada masa sebelum orde baru menunjukkan pembangunan dalam segala bidang, namun dalam kenyataannya perekonomian Indonesia malah semakin parah karena KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme). Ditinjau pada masa sekarang Republic of indonesia sistem pembangunan di Indonesia tidak bisa terlepas dari ketergantungan dari negara lain. Seperti bahan bakar minyak bumi yang mana Indonesia masih belum bisa mengelolah minyak bumi sendiri. Sehingga Indonesia masih perlu bantuan negara lain untuk mengelolah bahan bakar minyak. Bisa dicontohkan lagi impor tempe.


DAFTAR PUSTAKA

Salim, Agus. 2002.
Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Marzali, Amir. 2007.
Antropologi dan Pembangunan Indonesia.
Jakarta:
Kencana.

Fakih, Mansour. 2003.
Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kuncoro, Mudrajad. 2006.
Ekonomika Pembangunan Teori, Masalah, dan Kebijakan. Yogyakarta: UUP STIM YKPM

Martono, Nanang. 2012. Sosiologi Perubahan Sosil. Dki jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Zulkarimen, Nusation. 2007.
Komunikasi Pembangunan Pengenalan Teori dan Penerapanya Edisi Revisi.
Djakarta: PT RajaGrafindo Persada,

Jurnal Internasional. Ema Khotima.
Pembagunan Dalam Perspektif Ekofeminisme (Analisis Kritis Paradigma Teori Pembangunan dan Urgensi Pembangunan Perspektif Deokratis Kulturis dalam upaya Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia).
Volume No. 3 Juli-September 2006: 333-354

Jurnal Internasional. Rahayu Southward.
Globalisasi Teori Pembabgunan
dan
Pengaruhnya Terhadap Strategi Pembangunan.
Vol.2, No.5, Juli-Desember 2008

Makalah Teori-teori Pembangunan Dalam Pandangan Para Tokoh Ekonomi Islam

Source: https://asnhien.blogspot.com/2014/10/contoh-makalah-teori-pembangunan.html

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …