Masalah Dualisme Dalam Ekonomi Pembangunan Docx

Masalah Dualisme Dalam Ekonomi Pembangunan Docx


BAB I


PENDAHULUAN

Dualisme

adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik.



Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berasal setidaknya sejak zaman
Plato
dan
Aristoteles
dan berhubungan dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan
kecerdasan
dan kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa “kecerdasan” seseorang (bagian dari pikiran atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi atau dijelaskan dengan fisik.



Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh
René Descartes
(1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas
pikiran
dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang. Dualisme bertentangan dengan berbagai jenis
monisme, termasuk
fisikalisme
dan
fenomenalisme. Substansi dualisme bertentangan dengan semua jenis
materialisme, tetapi dualisme properti dapat dianggap sejenis materilasme
emergent
sehingga akan hanya bertentangan dengan materialisme
non-emergent.



Selain itu,
 Dualismeast juga merupakan
suatu keadaan di mana “sang superior” hidup berdampingan dengan


“sang inferior” namun tidak memiliki hubungan yang erat, tidak akan mati dengan sendirinya


oleh karena alasan waktu, bahkan jurang pemisah antara “sang superior” dan “sang junior” makin terbuka lebar seiring perkembangan zaman. Dualisme dapat dipandang dari berbagai kasanah, seperti sosial, teknologi, geografi (kawasan), dan ekonomi. Dalam hal ini yang akan dibahas adalah dari sudut pandang ekonomi.

Teori dualisme pertama kalinya dikemukakan oleh seorang ekonom Belanda, J.H. Boeke. Teorinya berasal dari suatu fenomena di mana konsep ekonomi Barat yang dibawa dan diterapkan oleh para penjajah ternyata tidak mampu untuk mensejahterakan rakyat jajahannya (dalam hal ini rakyat Republic of indonesia). Dalam artian mengalami kegagalan.

Negara eks jajahan (sekarang bisa disebut negara sedang berkembang) memiliki pola dan sistem sosial yang berbeda dengan negara Barat. Pada awalnya pola dan sistem sosial Barat memiliki daya penetrasi yang cukup kuat untuk masuk ke dalam sistem sosial negara jajahannya. Keduanya hidup berdampingan antara sistem sosial liberal Barat dengan sistem sosial lokal negara jajahan (dalam hal ini Indonesia). Tetapi memang pada dasarnya adalah berbeda, tidak mungkin untuk disama- samakan Penetrasi yang dilakukan ternyata tidak (bisa dibaca: kurang) bermakna dan menyokong satu dengan lainnya. Semuanya kelihatan semu, cantik di luar namun ada borok di dalamnya. Tidak menyembuhkan penyakit yang sesungguhnya.

Sang superior dan junior yang dimaksud dalam dualisme ekonomi Indonesia adalah industri dan pertanian. Industri diagung-agungkan oleh kebanyakan pihak, dipandang sebagai penggerak utama perekonomian bangsa, sementara sektor pertanian (kerakyatan), sang soko guru ekonomi, hanya dipandang sebelah mata atau mungkin tidak dipandang sama sekali.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi beberapa tujuan sebagai berikut :

i.

Memberikan penjelasan mengenai dualisme dalam perekonomian

two.

Memberikan jenis jenis dualisme yang ada dalam sistem perekonomian

3.

Menjelaskan pengaruh dualisme dalam pembangunan ekonomi di Indonesia

4.

Memenuhi tugas mata kuliah ekonomi pembangunan

one.

Apa definisi dari dualisme dan dualisme pembangunan?

2.

Adakah jenis-jenis dari dualisme tersebut?

3.

Bagaimana pengaruh dualisme dalam pembangunan ekonomi di Republic of indonesia?

d.

Pembatasan Masalah

Pengaruh dualisme dalam perekonomian Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

ii.1

Definisi Dualisme

Dualisme merupakan suatu konsep yang sering di bicarakan dalam ekonomi pembangunan. Konsep dualisme ini memiliki 4 unsur pokok, yaitu :

1.

Dua keadaan yang berbeda dimana satu keadaan bersifat “superior” dan keadaan yang lainnya bersfat “inferior” yang bisa hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama.

2.

Kenyataan hidup berdampingannya dua keadaan yang berbeda tersebut bersifat kronis dan bukan transisional.

three.

Derajat superioritas atau inferioritas itu tidak menunjukkan kecenderungan yang menurun, bahkan terus meningkat.

four.

Keterkaitan antara unsur superior dan unsur inferior tersebut menunjukkan bahwa keberadaa unsur superior tersebut hanya berpengaruh kecil sekali atau bahkan tidak berpengaruh sama sekali dalam mengangkat unsur inferior. Bahkan kenyataannya, unsur yang superior tersebut sering kali justru menyebabkan timbulnya kondisi keterbelakangan (under development).


[i]


Setelah mengetahui konsep konsep dari dualisme, berikut ini adalah beberapa definisi dari para ahli mengenai Dualisme :

·

J.H Boeke (1953)

Dualisme disini berarti dalam waktu yang sama didalam masyarakat terdapat dua gaya sosial yang jelas berbeda satu sama lain, dan masing-masing berkembang secara penuh serta saling mempengaruhi.

·

Bachirawi Sanusi (2004)

Dualisme merupakan himpunan masyarakat yang berbeda yang memungkingkan pihak yang termasuk superior dan inferior hidup berdampingan disuatu tempat yang sama.

Baca :   Perempuan Dalam Pembangunan Sektor Ekonomi

·

Drs. Irawan Thousand.B.A (2002)

Dualisme Ekonomi yaitu kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi serta keadaan yang lain dalam suatu masa tertentu, atau dalam suatu sektor ekonomi tertentu yang memiliki sifat tidak seragam.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa dualisme adalah dua keadaan yang berbeda dimana satu keadaan bersifat superior dan keadaan lainnya bersifat junior yang hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama. Dengan adanya dua keadaan yang berbeda ini tentunya akan memiliki pengaruh tersendiri bagi suatu negara yang secara tidak langsung menganut sistem dualisme ekonomi ini.

2.2

Jenis – Jenis Dualisme

Setelah mengetahui konsep dualisme, maka dualisme sendiri dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Hal ini didasari pada dalam aspek apa dualisme tersebut berkembang. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai jenis-jenis dualisme.

Tahun 1910, seorang ekonom Belanda, J.H Boeke menyatakan bahwa pemikiran ekonomi Barat tidak dapat diterapkan dalam memahami permasalahan perekonomian negara-negara jajahan (tropis) tanpa suatu “modifikasi” teori. Jika ada pembagian secara tajam, mendalam dan luas yang membedakan masyarakat menjadi dua kelompok, maka banyak masalah sosial dan ekonomi yang polanya sangat berbeda dengan teori ekonomi Barat sehingga pada akhirnya teori tersebut akan kehilangan hubungannya dengan realitas dan bahkan kehilangan nilainya. Boeke menganggap bahwa prokondisi dari dualismenya adalah hidup berdampingannya dua sistem sosial yang berinteraksi hanya secara marginal melalui hubugan yang sangat terbatas antara pasar produk dan pasar tenaga kerja.

Prinsip pokok tesis Boeke adalah pembedaan antara tujuan kegiatan ekonomi di Barat dan di timur secara mendasar. Ia mengatakan bahwa kegiatan ekonomi di Barat berdasarkan pada rangsangan kebutuhan ekonomi, sedangkan Indonesia disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan sosial. Suatu masyarakat yang memiliki dua sistem sosial atau lebih disebut masyarakat dualistik atau majemuk. Dalam masyarakat dualistik, ada dua sistem sosial yang hidup secara berdampingan dimana yang satu tidak dapat sepenuhnya menguasai yang lainnya, demikian sebaliknya. Keadaan ini disebabkan oleh adanya sistem sosial yang lebih mod terutama berasal dari negara-negara Barat yang kemudian berkembang di negara lain sebagai akibat dari adanya penjajahan dan perdagangan internasional sejak abad yang lalu.

Menurut Clifford Geertz (1963), dualisme ditandai perbedaan-perbedaan dalam sistem ekologis. Hal ini membentuk pola-pola sosial dan ekonomi tertentu yang menyatu didalamnya dan membentuk suatu keseimbangan internal. Geertz menjelaskan konsepnya tentang dualisme ekologis ini dengan menggunakan kasus Republic of indonesia. Ia menjelaskan adanya perbedaan antara “Indonesia Dalam” dan “Indonesia Luar”. “Indonesia Dalam”, dalam hal ini Jawa, merupakan sistem ekologis padat karya yang ditandai oleh pertanian padi, tebu, dan tanaman lainnya yang membutuhkan iklim tropis dan semi tropis serta membutuhkan banyak air. Sementara “Republic of indonesia Luar” ditandai oleh pertanian yang padat modal, seperti : produk tambang, karet dan kelapa sawit.

Menurut Bachirawi Sanusi (2004), Dualisme merupakan himpunan masyarakat yang berbeda yang memungkinkan pihak yang termasuk superior dan yang junior hidup berdampingan disuatu tempat yang sama.

c.

Dualisme Teknologi

Higgins, merupakan salah satu pakar ekonomi yang menolak gagasan Boeke mengenai dualisme dalam sistem sosial. Menurut Higgins, awal mula dualisme berasal dari perbedaan teknologi antara sektor modern dan sektor tradisional. Menurut Higgins, teknologi impor yang digunakan dalam sektor modern bersifat hemat tenaga kerja (labour saving) sehingga modal lebih banyak digunakan. Keadaan ini berbanding terbalik dengan keadaan sektor tradisional yang ditandai oleh penggunaan metode produksi yang padat tenaga kerja. Kurangnya pembentukan modal pada sektor tradisional menyebabkan perkembangan sektor ini sangat terbatas.

Dualisme teknologi adalah suatu keadaan dimana didalam suatu kegiatan ekonomi tertentu digunakan teknik produksi yang berbeda dengan kegiatan ekonomi lainnya sehingga menyebabkan perbedaan tingkat produktivitas yang sangat besar, dalam hal ini teknologi mod sangat berperan penting.

Teknologi modern yang dimaksud diatas berkisar pada sektor industri pertambangan, industri transportasi dan sebagainya. Sedangkan kegiatan ekonomi yang tingkat teknologinya masih rendah yaitu : pertanian, industri rumah tangga, organisasi produksi tradisional dan lain lain.

d.

Dualisme Finansial

Myint (1967) meneruska studi Higgint mengenai proses terjadinya dualisme. Dalam analisis Myint, beliau mengemukakan mengenai dualisme finansial. Hal ini pun merujuk pada pengertian bahwa pasar uang dalam negara jajahan (NSB) dibedakan menjadi ii kelompok yaitu pasar uang yang terorganisir dengan baik (organized money market) dan pasar uang yang tidak terorganisir (unorganized coin market).

Pasar uang yang terorganisir dengan baik terdiri dari bank-bank komersial dan lembaga-lembaga keuangan non-depository financial institution. Lembaga ini terdapat di pusat-pusat bisnis dan kota-kota besar, serta memiliki tujuan untuk menyediakan pinjaman kepada perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan tanaman ekspor dan pertambangan. Namun setelah NSB mencapai kemerdekaan, pemerintah mengadakan usaha yang sifatnya mendorong lembaga-lembaga keuangan modern untuk memberikan pinjaman kepada sektor ekonomi lainnya, terutama sektor industri dan pertanian rakyat.

Baca :   Pengaruh Add Untuk Pembangunan Fisik Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jurnal

Sedangkan dalam keadaan sebaliknya, tidak ada lembaga keuangan formal seperti bank atau lembaga keuangan non-bank. Contohnya seperti petani kaya atau rentenir. Ciri penting dari pinjaman melalui lembaga keuangan informal ini yaitu tingkat biaya yang sangat tinggi. Namun, karena lembaga breezy ini merupakan satu satunya penyalur dana, para petani menyukainya karena prosedur peminjaman dananya yang tidak terlalu rumit.

east.

Dualisme Regional

Dualisme regional adalah ketidakseimbangan tingkat pembangunan antar berbagai daerah dalam satu negara. Konsep dualisme regional ini tidak hanya terjadi di NSB saja. Perbedaannya, ketidakseimbangan yang terjadi pada negara maju tidaklah separah yang terjadi di NSB.

Dualisme regional ini memusatkan perhatiannya pada masalah kesenjangan yang terjadi pada kesejahteraan antar daerah. Misalnya, di NSB ada beberapa daerah yang berkembang sangat pesat sehingga keadaan ekonomi dan sosialnya sudah hampir menyamai negara maju, sedangkan daerah lainnya mengalami perkembangan yang sebaliknya atau bahkan mengalami kemunduran.

Dualisme regional yang semakin buruk dapat menimbulkan masalah-masalah sosial dan politik yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi di NSB. Berikut ini merupakan jenis dari dualisme regional di NSB :

i.

Dualisme antara daerah perkotaan dan pedesaan

2.

Dualisme antara pusat negara, pusat industri dan perdagangan dengan daerah lain dalam suatu negara.

Dualisme ini merupakan akibat dari investasi yang tidak seimbang antara daerah perkotaan dan pedesaan. Ketidakseimbangan ini akhirnya menyebabkan kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan semakin besar.

2.iii

Pengaruh Dualisme dalam Pembangunan Perekonomian Indonesia

Dualisme terkait sekali dengan adanya dua kekuatan berbeda yang hidup berdampingan dalam waktu yang sama. Dalam uraian diatas telah dijelaskan mengenai beberapa jenis dualisme yang berkembang dalam NSB. Mulai dari sistem sosial, ekologis, teknologi, finansial sampai regional, semuanya di pengaruhi oleh sistem dualisme ini.

Akibat adanya dua unsur yang berbeda, tidak dapat dipungkiri bahwa dualisme ini memberikan efek yang negatif dalam perekonomian yang perkembangannya masih belum begitu tinggi. Seperti halnya pada negara yang sedang berkembang. Sebagian besar kegiatan-kegiatan ekonomi pada negara berkembang masih dilaksanakan dengan menggunakan teknik-teknik yang sederhana dan tradisional. Konsep tradisional ini tentunya akan membawa dua dampak yang mendasar dalam sistem perekonomian serta sistem sosial yang ada pada masyarakat. Pertama, dengan sistem yang masih tradisional produktivitas yang dihasilkan akan rendah. Kedua, terbatasnya usaha yang menuju ke arah pembaharuan atau perubahan. Adanya sikap takut akan pembaharuan, akan mengakibatkan produktivitas yang rendah tidak akan mengalami perubahan dari masa ke masa. Hal ini akan membawa dampak yang kurang baik terhadap mekanisme pasar, atau yang biasa kita sebut dengan ketidak sempurnaan pasar.

Dalam pasar yang sempurna, faktor-faktor produksi memiliki mobilitas yang tinggi dan dapat saling menggantikan satu sama lain. Hal ini tidak terjadi di negara yang memiliki ketidaksempurnaan pasar. Adanya sektor tradisional dan sektor mod menyebabkan adanya perbedaan tingkat upah yang diterima oleh setiap individu. Penguasaan teknologi menjadi dasar dalam menghitung upah setiap orang dan pendidikan serta keterampilan yang dimiliki oleh seseorang dalam bekerja akan menjadi penentu upah bagi masing-masing individu.

Selain itu, ketidaksempurnaan pasar sering kali disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai keadaan pasar. Para pekerja tidak menyadari tentang adanya kesempatan kerja yang lebih baik di sektor atau di daerah lain. Para petani tidak mengetahui adanya cara untuk meningkatkan produksi dan para pengusaha tidak menyadari kemungkinan untuk mengembangkan pasar dalam negeri maupun luar negeri. Adanya kuasa monopoli dalam perdagangan di sektor tradisional merupakan salah satu contoh ketidaksempurnaan pasar di negara miskin.

Dalam suatu pasar yang sempurna, para pelaku ekonomi dianggap rasional. Artinya, setiap orang akan berusaha mencapai tingkat kepuasan maksimum. Pengamatan yang dilakukan di NSB menunjukkan hasil yang sebaliknya, yaitu masyarakat tidak berusaha untuk mencapai tujuan tersebut dan tidak responsif pada rangsangan baik yang terjadi dalam pasar. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa sikap masyarakat terhadap perkembangan pasar merupakan salah satu faktor yang menimbulkan ketidaksempurnaan pasar di NSB.

Pengaruh ketidaksempurnaan pasar terhadap tingkat produksi dalam suatu masyarakat dapat ditunjukkan dengan menggunakan kurva kemungkinan produksi (produstion possibillities curve), yaitu seperti pada gambar i.1


Gambar I.I





Kurva AB adalah kurva kemungkinan produksi negara yang tingkat pembangunannya relatif rendah, sedangkan kurva PQ menggambarkan kurva kemungkinan produksi suatu negara yang sudah maju. Kurva kemungkinan produksi ini menunjukkan kemampuan maksimum suatu negara untuk menghasilkan barang industri, barang pertanian atau kombinasi dari golongan barang tersebut. Apabila gabungan barang industri dan barang pertanian ditunjukkan dalam oleh salah satu titik pada kurva tersebut, maka keadaan itu berarti bahwa sumber daya di negara tersebut digunakan secara penuh (total employment). Negara yang lebih maju kemampuan memproduksinya lebih besar daripada negara yang lebih miskin. Oleh karenanya kurva kemungkinan produksinya (PQ) adalah lebih jauh dari titik O jika dibandingkan dengan kurva kemungkinan produksi dari negara yang lebih miskin (AB).

Baca :   Analisis Mengenai Tolak Ukur Dalam Pembangunan Ekonomi

Walaupun kemampuan negara yang relatif miskin dalam memproduksi barang pertanian dan barang industri lebih terbatas, negara yang seperti itu sering kali tidak mampu mencapai batas produksi maksimalnya. Salah satu sebabnya yang penting adalah karena adanya ketidaksempurnaan pasar. Pada umumnya tingkat produksi yang dicapai dalam negara yang relatif miskin adalah pada titik dibawah kurva kemungkinan produksi AB, misalnya pada titik G. Apabila tingkat produksi seperti yang ditunjukkan oleh titik M, maka keadaan tersebut menunjukka bahwa walaupun tidak dilakukan perbaikan dalam teknologi, akan tetapi apabila dilakukan perbaikan dalam bidang institusional dan organisasi produksi, jumlah produksi dapat diperbesar lagi. Berarti tingkat produksi yang baru akan ditunjukkan oleh titik-titik yang terletak lebih dekat dari kurva AB atau pada kurva itu. Keadaan yang baru ini misalnya adalah seperti yang ditunjukkan oleh titik N1
atau Due north2
yang berarti bahwa tingkat produksi nasional telah bertambah tinggi. Titik N1
meunjukkan bahwa tingkat produksi barang pertanian menjadi lebih tinggi, sedangkan titik N1
menggambarkan bahwa pertambahan produksi yang terjadi di sektor industri.


[ii]




Negara miskin, selain kemampuannya dalam memproduksi produk


pertanian dan produk industri yang masih relatif terbatas, jug
a

seringkali



tidak mampu mencapai batas produksi yang maksimal. Salah satu


penyebabnya


adalah karena


adanya ketidaksempurnaan


pasar.


Di samping adanya beberapa pengaruh negatif dari adanya dualisme


sosial terhadap pembangunan, sela
north
jutnya sering dinyatakan pula bahwa


adanya du
a
lisme dalam tingkat teknologi yang digunakan dapat


menimbulkan dua keadaan yang mungkin mempengaruhi lajunya tingkat


pembangunan


ekonomi.


·

Pertama,


dualisme teknologi terlahir sebagai akibat dari


perusahaan modal asing atas sektor modern, sebagian besar dari


keuntungan yang diperoleh dari modal asing akan dibawah ke luar


negeri.


·

Kedua,


dualisme teknologiakan membawa tiga dampak negatif, yaitu: membatasi kemampuan sektor modern dalam menciptakan


kesempatan kerja, membatasi kemampuan sektor pertanian untuk


berkembang, memperburuk mas
a
lah pengangguran.


Jika hambatan hambatan-hambatan yang ditimbulkannya


terhadap perkembangan kesempatan kerja dan


perkembangan sektor pertanian, dan terdapatnya


kemungkinan untuk mempercepat perkembangan produksi


diposisikan sederajat, kemudian perbandingan efek positif dan negatif yang ditimbulkan, maka dualisme teknolog


itidaklah salah dan tidak memperkukuh kemiskinan yang ada


di NSB

(negara sedang berkembang)

. Tanpa adanya sektor modern, NSB mungkin akan


mengelami pertumbuhan yang lebih lambat daripada yang


telah dicapainya pada masa lalu.


BAB Iii

KESIMPULAN

Dualisme adalah dua keadaan yang berbeda dimana satu keadaan bersifat superior dan keadaan lainnya bersifat inferior yang hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama. Dualisme sendiri terdiri dari berbagai macam aspek, seperti :

ii.

Dualisme Ekologis

3.

Dualisme Teknologi

4.

Dualisme Finansial

5.

Dualisme Regional

Negara miskin, selain kemampuannya dalam memproduksi produk


pertanian dan produk industri yang masih relatif terbatas, jug
a

seringkali



tidak mampu mencapai batas produksi yang maksimal. Salah satu


penyebabnya


adalah karena


adanya ketidaksempurnaan


pasar.


Di samping adanya beberapa pengaruh negatif dari adanya dualisme


sosial terhadap pembangunan, sela
north
jutnya sering dinyatakan pula bahwa


adanya du
a
lisme dalam tingkat teknologi yang digunakan dapat


menimbulkan dua keadaan yang mungkin mempengaruhi lajunya tingkat


pembangunan


ekonomi.


·

Pertama,


dualisme teknologi terlahir sebagai akibat dari


perusahaan modal asing atas sektor modern, sebagian besar dari


keuntungan yang diperoleh dari modal asing akan dibawah ke luar


negeri.


·

Kedua,


dualisme teknologi


akan membawa tiga dampak negatif, yaitu: membatasi kemampuan sektor modernistic dalam menciptakan


kesempatan kerja, membatasi kemampuan sektor pertanian untuk


berkembang, memperburuk mas
a
lah pengangguran.


Jika hambatan hambatan-hambatan yang ditimbulkannya


terhadap perkembangan kesempatan kerja dan


perkembangan sektor pertanian, dan terdapatnya


kemungkinan untuk mempercepat perkembangan produksi


diposisikan sederajat, kemudian perbandingan efek positif dan negatif yang ditimbulkan, maka dualisme teknolog


tidaklah salah dan tidak memperkukuh kemiskinan yang ada


di NSB
(negara sedang berkembang). Tanpa adanya sektor mod, NSB mungkin akan


mengelami pertumbuhan yang lebih lambat daripada yang


telah dicapainya pada masa lalu.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincoln. 1999. Ekonomi Pembangunan. Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN

Drs. Irawan M.B.A. 2002. Pengantar Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: BPEE-YOGYAKARTA.

Masalah Dualisme.

http://id.scribd.com/md/44314508/Masalah-Dualisme
. Di akses tanggal 21-02-2013, jam 11.40

Wiryatullah, Imam. Ekonomi Dualistik.

http://world wide web.slideshare.net/imamwiryatutah/ekonomi-dualistik-pptx
. diakses tanggal 23-03-2013, jam x.53








[one]





Arsyad, Lincoln “Ekonomi Pembangunan”





[2]





Arsyad, Lincoln “Ekonomi Pembangunan”

Masalah Dualisme Dalam Ekonomi Pembangunan Docx

Source: https://kusumarini-endah.blogspot.com/2013/11/dualisme-dalam-perekonomian.html

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …