Model Baju Kerawang Gayo

Upuh Ulen-ulen
Foto:IG Galery_Kerawanggayo

Kerawang adalah hasil kerajinan masyarakat Gayo, disebut kerawang karena yakni hasil terawangan  yang kemudian dituangkan pada selembar karet dan dijahit dengan prinsip dibordir. Istilah bordir terbit dari kata “ker” dalam bahasa Gayo nan berarti “ki akal pikir” dan pembukaan “rawang” yang berjasa paparan mengenai fenomena alam. Bintang sartan kerawang dapat dikatakan sebagai hasil dari inspirasi pengrajin nan muncul dengan menghakimi fenomena alam disekitarnya.

Sebagaimana umumnya tenun dan karet tradisional Nusantara, kain tekat pula menyiratkan banyak pesan m
oral dan menjadi kendaraan penyampaian amanah dan petuah pitarah kepada generasi-generasi berikutnya. Pesan-wanti-wanti tersebut dituangkan dalam motif-motif bordiran kerawang, seperti motif emun berangkat yang menyiratkan tentang awan yang senantiasa hadir tukar bertukar intern lembaga gumpalan yang dinamis nan berubah-silih bentuknya, hal ini anggap sebagai tanda baca ketunggalan, kerukunan dan kesepakatan.

Motif puter tali menggambarkan makao berbelit yang punya pangkal dan ujung nan memvisualkan bahwa setiap kelakuan maupun pekerjaan cinta cak semau sediakala dan akhir. Tali yang terlatih pecah jalinan bahan tertentu juga menggambarkan kepentingan berusul sifat tolong-menolong dan persatuan dalam masyarakat. Sementara itu bagan rayon yang puas dasarnya janjang dan lurus menayangkan kehidupan setiap insan yang seharusnya bertindak verbatim, jujur dan benar dalam bermacam-macam tindakannya.

Motif pucuk rebung merupakan motif berbentuk piramida maupun segitiga yang n domestik falsafah masyarakat Gayo mengandung nilai-nilai teguh intern pendirian, kuat n domestik iman dan taqwa, rendah hati serta bertabiat baik. Seperti rebung yang terus bertaruk dan selalu muncul cikal mentah, motif ini juga mengandung guna belalah terjadi regenerasi nan juga mengemban filosofi dari huruf angka limas tadi.

Motif ulen atau motif bulan, seperti namanya motif ulen menyantirkan bulan sebagai symbol kekuatan dan  penerang. Motif ini biasanya merupakan atak berpunca berbagai motif tak nan menunjukkan kamil memancar seperti binar rembulan. Motif ulen menggambarkan komposisi filosifi nan terkandung kerumahtanggaan motif emun berangkat, puter sutra, pucuk rebung, tapak seleman dan motif cerocok.

Baca :   Cara Mengatasi Lovebird Nyilet

Seperti wastra Nusantara dari daerah-kawasan lain, sulam Gayo memiliki ciri idiosinkratis pada bulan-bulanan, corak yang digunakan atau motifnya. Warna dasar yang digunakan dalam kain kerawang Gayo merupakan warna hitam sedangkan motifnya menggunakan rona bangkang, asli, mentah dan kuning, yang menjadi representasi berasal semangat sosial dan budaya umum Gayo. Setiap warna punya makna istimewa. Warna hitam merupakan representasi dari bumi umpama tempat berpegang dan mengoper hasil keputusan adat. Warna bangkang merepresentasi musidik sasat, yaitu berani intern bermain dan menegakkan kebenaran. Tulus melambangkan kesucian, bersih kerumahtanggaan tindakan lahir dan bathin serta kemampuan internal melepaskan hal yang baik dan buruk. Warna hijau menyimbolkan genap mupakat alias perundingan, juga menjadi simbol kejayaan dan kebulatan hati. Sedangkan dandan kuning menyantirkan sikap musuket sipet (penuh pertimbangan), fon ini mengambarkan pemerintahan (raja) yang mempunyai kewenangan melindungi rakyatnya.

Raja sehari Gayo
Foto: IG Gallery_Kerawanggayo

Kain kerawang yang sudah cak semau sejak ribuan tahun adv amat dan sudah lalu menjadi Peninggalan Budaya Tak Benda sejak  2014, lebih banyak digunakan pada upacara adat, perkawinan dan kesenian. Awalnya motif sulam ini hanya dipakai andai pahatan pada kondominium-apartemen resan Aceh Tengah. Bunyi bahasa-tanda baca nan terpaku pada kerajinan tekat ini kembali menggambarkan kesadaran sosial dan bermasyarakat yang sudah berserat sejak karuhun suku Gayo bermukim di petak Gayo, yang harus dilestarikan bukan saja gambar kerajinan dan motif-motifnya hanya, tetapi kognisi terhadap filosofi yang cak semau di dalamnya. Daerah Gayo ini meliputi Gayo Lues, Aceh Paruh, Bener Meriah dan Lokop Serbajadi (Aceh Timur), kendatipun masing-masing negeri memiliki karakteristik ukiran sendiri, namun pemaknaannya tidak farik. Hal ini juga menjadi bukti bagaimana keragaman yang ada di masyarakat Gayo tidak menjadikan mereka melupakan filosofi mulai sejak kebudayaan yang mempersatukan mereka.

Baca :   Cara Membuat Gantungan Baju Dari Barang Bekas

Ditulis oleh: Pingkan MD

Sendang:

  1. Bpk. Aminullah terbit Gallery Bordir Gayo/Ketua Mahajana Duta Surat sita Institut.

    Supri Ariu, 2016, Menyimak Asal-Usul dan Makna Rekam Gayo Lues, lintasgayo.co





Model Baju Kerawang Gayo

Source: https://wanitanusantara.com/seri-wastra-nusantara-filosofi-dibalik-keindahan-kerawang-gayo/

Check Also

Model Gamis Lengan Rempel

Model Gamis Lengan Rempel Kalau kita wicara bulan puasa dan lebaran sangkil-kira jenis gaun apa …