Pembangunan Sosial Ekonomi Di Indonesia

Pembangunan Sosial Ekonomi Di Indonesia


Penulis : Slamet Trijendra/Jabatan Fungsional Penilai Pemerintah Ahli Muda


Latar Belakang


Tujuan Pembangunan pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan membangun berbagai sarana dan aset penunjang dalam kehidupan bermasyarakat. Seiring dengan kemajuan zaman, pembangunan dalam berbagai bidang pun harus sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.. Proses pembangunan terutama bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, baik






secara spiritual, maupun material (Soekanto, 2012). Indikator keberhasilan Pembangunan ditandai dengan pendapatan perkapita yang meningkat dan tingkat pengangguran yang menurun.

Pemerintah saat ini sedang fokus melakukan pembangunan berbagai infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia diantaranya adalah jalan tol, bandara, pelabuhan, bendungan, bendung dan lain sebagainya. Bendung sebagai salah satu infrastruktur dibidang sumber daya air mempunyai peranan penting dalam mendukung program ketahanan pangan nasional karena selain fungsinya meninggikan permukaan air sungai juga berfungsi sebagai tempat pengambilan air
(intake)
untuk sistem irigasi persawahan.

Pembangunan bendung untuk irigasi dilakukan sebagai perlakuan (handling) agar sawah pertanian mendapatkan cukup pasokan air dengan mudah. Sebagai penunjang pembangunan di bidang pertanian, tujuan utama pembangunan bendung adalah memperluas areal irigasi sehingga dapat meningkatkan intensitas tanam. Keberadaan fasilitas irigasi yang memadai ini selanjutnya akan memberikan tambahan manfaat yang akan meningkatkan hasil produksi pertanian, mengurangi biaya produksi pertanian, dan meningkatkan perekonomian masyarakat secara keseluruhan (Dumairy, 1992: 56). Pembangunan proyek infrastruktur seperti irigasi pertanian, selain memberikan manfaat utama juga ada tambahan manfaat berupa pendapatan selama waktu tertentu di masa mendatang, penghematan maupun perbaikan atau peningkatan efisiensi. Sehingga Pembangunan itu menjadi
multiplier issue
terhadap perekonomian (Reksohadiprodjo, 2001: 47).



Bendung Kamijoro adalah bendung yang membentang di sungai progo yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo tepatnya Dusun Plambongan Desa Triwidadi, Kec. Pajangan, Kab. Bantul dengan Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono Kec. Kaliwiru, Kab. Klonprogo. Bendung ini dibangun tahun 2016 s.d. 2018 dan diresmikan pada tanggal 31 Desember 2019 dengan nilai kontrak 229.134.581.000,00 dan biaya konsultan supervisinya 7,8 Miliar. Bendung Kamijoro selain mengairi Daerah Irigasi Pijenan seluas 2370 Hektar di Kab. Bantul yang meliputi 4 kecamatan yaitu kecamatan Pandak, Sanden, Srandakan, dan Kretek juga berfungsi memenuhi kebutuhan air baku sebesar 24 liter/detik untuk kabupaten bantul dan 475 liter/detik untuk Bandara Internasional Yogyakarta kawasan Industri Sentolo di Kabupaten Kulonprogo. Namun penyediaan air baku tersebut belum berfungsi dikarenakan belum selesainya pembangunan jaringan pipa dari penampungan ke tujuan.

Di atas bendungan tersebut dibangun juga jembatan sepanjang 161 meter dengan lebar 3 meter dengan dilengkapi pengaman dan lampu penerang. Jembatan tersebut sebagai penghubung antara Dusun Plambongan di Kabupaten Bantul dan Dusun Kaliwiru di Kabupaten Kulonprogo. Keberadaan jembatan tersebut mempermudah dan mempers
i
ngkat waktu perjalanan masyarakat sehingga tidak memutar jauh. Pada Bendung Kamijoro juga dibangun taman sebagai ruang terbuka publik untuk beragam aktivitas yang dilengkapi  dengan berbagai fasilitas seperti taman bermain anak, panggung terbuka, mushola, toilet dan fasilitas pelengkap lainnya sehingga setiap hari terutama pada akhir pekan banyak pengunjung yang datang untuk berwisata menikmati keindahan Bendung  Kamijoro. Keberadaan Bendung Kamijoro selain menciptakan manfaat ekonomi bagi juga membuat dampak ekonomi dan sosial yang positif bagi penduduk sekitar.


Landasan Teori/Tinjauan Pustaka


a.



Manfaat Ekonomi dan Dampak Ekonomi Sosial

Manfaat Ekonomi Menurut Kepdirjen No. 438/KN/2020 adalah manfaat yang diperoleh secara langsung bagi negara dan masyarakat dari objek analisis yang dapat diukur dalam bentuk uang. Reksohadiprodjo (2001: 22), menyebutkan bahwa dampak suatu kegiatan dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung atau dampak primer merupakan dampak yang timbul sebagai akibat dari tujuan utama kegiatan atau kebijakan tersebut baik berupa biaya ataupun manfaat. Mengkaji dampak primer kegiatan atau kebijakan pembangunan suatu proyek bendung dapat berupa menghitung hasil langsung proyek misalnya bertambahnya lahan, hasil pertanian serta hasil lainya seperti perikanan, pengendalian banjir dan pariwisata.

 Suparmoko (2009: 9), menjelaskan bahwa identifikasi dampak secara fisik akan memberikan manfaat analisis yang lebih tinggi apabila dampak tersebut dapat dinyatakan dalam nilai uang. Lebih lanjut penilaian atau valuasi ekonomi dapat dilakukan setelah evaluasi dampak suatu kebijakan atau kegiatan dilakukan. Penilaian ini menghasilkan indikasi nilai atau rasio yang digunakan untuk menyatakan apakah suatu kebijakan atau kegiatan itu layak atau tidak layak. Hal ini menjadi alasan penting untuk melakukan penilaian karena berkaitan dengan kebijakan ekonomi makro, dan bagi keputusan alokasi faktor produksi demi efisiensi pada tingkat mikro.

Menurut Kepdirjen 438/KN/2020  pengertian Dampak Ekonomi adalah pengaruh tidak langsung dari objek analisis terhadap jumlah dan jenis kegiatan ekonomi disuatu wilayah yang berfokus pada indikator makroekonomi dan prakiraan pengaruh proyek pada indikator indikator tersebut bagi negara dan masyarakat. Dampak sosial adalah pengaruh tidak langsung dari objek analisis yang terjadi pada masyarakat, dalam berbagai aspek kehidupan.


b.



Tingkat diskonto and so
s
ial

Menurut Buletin Teknis Analisis DJKN Nomor BTA-02/KN.6/2021 diskonto sosial adalah besaran yang mencerminkan penilaian relatif dari masyarakat terhadap nilai kini dibandingkan dengan nilainya di masa depan. Beberapa lembaga rujukan untuk menentukan tingkat diskonto sosial antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Banking concern Dunia
(World Bank), atau Bank Pembangunan Asia
(Asian Evolution Depository financial institution). Tingkat diskonto yang digunakan Berdasarkan data tingkat diskonto sosial negara Indonesia yang dikeluarkan oleh Asian Development Bank
(Guidelines for the economic analysis of project 2017) adalah 9 persen.


c.



Pendekatan Pendapatan dengan Metode Kapitalisasi Langsung

Pendekatan pendapatan adalah suatu pendekatan penilaian properti yang  didasarkan pada pendapatan bersih per tahun, yang diterima dari pengusahaan properti tersebut (Harjanto dan Hidayati, 2014). Pendapatan bersih ini kemudian dikapitalisasikan   dengan   suautu   faktor   tingkat   kapitalisasi   tertentu untuk mendapatkan nilai pasar wajar.

Metode ini disebut dengan metode “kapitalisasi” karena nilai suatu properti diperoleh dari pengkapitalisasian pendapatan bersih properti per tahun
(cyberspace operating income per annum)
dengan suatu tingkat kapitalisasi tertentu.


Pendekatan pendapatan tersebut dirumuskan sebagai berikut :



V = I : R


Dimana:


V     : estimasi nilai properti


I      : Pendapatan bersih operasi selama setahun


R    : tingkat kapitalisasi


Dalam metode ini pendapatan bersih per tahun dianggap tetap dan lamanya investasi tak terhingga atau terus menerus
(perpetuity). Jika lamanya investasi ditentukan selama n tahun maka untuk menentukan nilianya menggunakan
years purchase
yang dirumuskan sebagai berikut :











V     : estimasi nilai properti


I      : Pendapatan bersih operasi selama setahun


R    : tingkat kapitalisasi


northward     : jumlah tahun

Salah satu metode untuk mendapatkan indikasi nilai ekonomi bendung dalam penilaian adalah metode kapitalisasi langsung (directly capitalization method). Metode ini mengubah suatu estimasi pendapatan tahunan tunggal menjadi indikasi nilai. Pengubahan ini dilakukan dengan membagi estimasi pendapatan dengan tingkat kapitalisasi yang pantas dan tepat (Prawoto, 2003:427).

Baca :   Birokrasi Pemerintah Yang Berperan Dalam Pembangunan Di Bidang Ekonomi


Metodologi


a.



Analisis manfaat ekonomi menggunakan metode deskriptip kuantitatif yang berisi penjelasan secara kuantitatif manfaat yang diterima oleh masyarakat dan pemerintah. Dilakukan dengan cara sebagai berikut :


1.



Mengidentifikasi semua manfaat ekonomi yang akan dihasilkan oleh Bendung Kamijoro;


2.



Menghitung besaran manfaat ekonomi yang dihasilkan atas Bendung Kamijoro selama 1 Tahun dengan


3.



Menentukan tingkat diskonto sosial


4.



Menghitung nilai sekarang dari manfaat ekonomi Bendung Kamijoro dengan Pendekatan Pendapatan metode Kapitalisasi Langsung dengan tingkat diskonto sosial. Metode Kapitalisasi Langsung digunakan karena bendung tersebut merupakan bangunan infrustruktur vital yang akan digunakan untuk selamanya.


b.



Analisi Dampak Ekonomi dilakukan dengan metode input-output yang digunakan untuk menyajikan gambaran tentang hubungan timbal balik dan saling keterkaitan antar satuan kegiatan (sektor) dalam perekonomian secara menyeluruh. Metode dalam perhitungan dampak ekonomi menggunakan data tabel input-output yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).


c.



Analisis manfaat dan dampak sosial dilakukan dengan metode deskriptip kualitatif yang berisi penjelasan secara naratif manfaat dan dampak sosial yang diterima oleh pemerintah dan masyarakat. Adapun langkah-langkahnya nya adalah :


1.



Mengidentifikasi manfaat dan dampak sosial. Identifikasi dilakukan untuk menghitung manfaat lain yang tidak termasuk dalam manfaat dan dampak ekonomi.


ii.



Mendeskripsikan manfaat dan dampak sosial. Deskripsi dilakukan untuk memperoleh gambaran manfaat dan dampak sosial berdasarkan sumber data dari penelitian pasar dan sumber information lainnya.


Analisis


a.



Gambaran umum Kabupaten Bantul

Kabupaten Bantul merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Apabila dilihat dari bentang alamnya, wilayah Kabupaten Bantul terdiri dari daerah dataran yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak pada bagian timur dan barat, serta kawasan pantai di sebelah selatan. Kondisi bentang alam tersebut relatif membujur dari utara ke selatan. Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 14º04’l” – 27º50’50” Lintang Selatan dan 110º10’41” – 110º34’40” Bujur Timur. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, di sebelah utara berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia


Luas wilayah Kabupaten Bantul adalah 506,85 Km2, terdiri dari 17 Kecamatan yang dibagi menjadi 75 desa dan 933 pedukuhan. Dlingo adalah Kecamatan yang mempunyai wilayah paling luas, yaitu 55,87 Km2, sementara Srandakan adalah Kecamatan dengan wilayah paling sempit, yaitu 18,32 Km2. Wilayah Kabupaten Bantul memiliki tinggi rata-rata 58 mdpl dengan wilayah paling rendah berada di Kecamatan Srandakan yang berbatasan langsung dengan laut dengan rata-rata tinggi wilayah 12 mdpl. Sementara Kecamatan Dlingo dengan rata-rata tinggi wilayah 200 mdpl merupakan wilayah tertinggi di Kabupaten Bantul.




https://bantulkab.go.id/resource/temp/gambar_profil/satu.jpg




Gambar ane

Peta Kab. Bantul

Kondisi Topografi Kabupaten Bantul antara lain sebagian dataran rendah twoscore persen dan lebih dari separuhnya yaitu 60 persen merupakan daerah perbukitan yang kurang subur. Secara garis besar kondisi topologi terdiri dari:

a. Bagian Barat, adalah daerah landai yang kurang serta perbukitan yang membujur dari Utara ke Selatan seluas 89,86 km2 (17,73 persen dari seluruh wilayah).

b. Bagian Tengah, adalah daerah datar dan landau merupakan daerah pertanian yang subur seluas 210.94 km2 (41,62 persen).

c. Bagian Timur, adalah daerah yang landai, miring dan terjal yang keadaannya masih lebih baik dari daerah bagian Barat, seluas 206,05 km2 (40,65 persen).

d. Bagian Selatan, adalah sebenarnya merupakan bagian dari daerah bagian Tengah dengan keadaan alamnya yang berpasir dan sedikit berlaguna, terbentang di Pantai Selatan dari Kecamatan Srandakan, Sanden dan Kretek

Sesuai informasi dari BPS Kab. Bantul disebutkan  laju pertumbuhan ekonomi kabupaten Bantul tahun 2020 sebesar -1,66

persen

, mengalami penurunan sangat drastis dari tahun sebelumnya 5,53

persen

, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kab. Bantul tahunan sebesar  26,sixteen Triliun Rupiah atau PDRB Perkapita kab. Bantul sebesar 25 juta rupiah.

PDRB seri 2010 Kabupaten Bantul menurut Lapangan Usaha berdasarkan Harga Berlaku (Juta Rupiah)

Lapangan Usaha [Seri 2010]

2018

2019

2020

A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

3.331.341,24

3.442.614,38

3.693.409,eighty

B. Pertambangan dan Penggalian

133.022,54

135.244,88

123.201,twenty

C. Industri Pengolahan

3.721.096,29

3.999.979,22

3.881.613,80

D. Pengadaan Listrik dan Gas

35.203,22

37.927,32

37.050,twoscore

E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

19.081,78

20.715,67

20.985,00

F. Konstruksi

2.374.858,88

2.569.857,15

2.225.058,twenty

G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

ii.123.780,xiii

2.277.891,28

two.212.691,90

H. Transportasi dan Pergudangan

1.153.281,43

1.278.987,86

one.164.898,eighty

I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

2.856.632,33

3.140.309,fifteen

2.808.522,80

J. Informasi dan Komunikasi

1.789.599,87

191.528.477,00

2.287.780,70

K. Jasa Keuangan dan Asuransi

692.766,43

775.317,02

752.406,50

Fifty. Real Estate

1.604.525,06

i.767.422,21

ane.806.414,ninety

M,N. Jasa Perusahaan

116.052,78

128.328,54

112.007,30

O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

one.888.560,94

two.010.644,28

ii.020.546,60

P. Jasa Pendidikan

1.661.756,74

1.816.959,71

1.932.996,90

Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

443.273,92

488.347,34

596.734,30

R,South,T,U. Jasa lainnya

498.440,36

539.646,63

486.217,70

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

24.443.273,94

26.345.477,twoscore

26.162.536,seventy

Tabel ane

PDRB Kab. Bantul tahun 2018 – 2020

Dari tabel tersebut diketahui terdapat hanya half-dozen bidang usaha yang mengalami pertumbuhan positip yaitu bidang Informasi dan Komunikasi, Jasa Kesehatan, Pertanian Kehutanan dan Perikanan, Jasa Pendidikan, Real Estate, Pengadaan Air Bersih Pengelolaan Limbah dan Daur Ulang. Bidang usaha lainnya mengalami pertumbuhan negatip.


b.



Gambaran Umum Bendung Kamijoro

Bendung Kamijoro merupakan Barang Milik Negara yang tercatat di satker SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Serayu Opak dibawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Bendung kamijoro mulai dibangun oleh Waskita Karya – PP KSO selama 860 hari kalender dengan nilai kontrak Rp229.134.581.000,00. Data Teknis Bendung Kamijoro sebagai berikut :


a.



Tinggi mercu dari hulu                             : two,iv m


b.



Lebar bendung efektif                              : 153 yard


c.



Lebar bendung dengan pilar                    : 161 1000


d.



Jumlah pilar                                              : 8 buah @ 1m


e.



Lebar bendung dengan pembilas            : 171 thousand


f.



Panjang lantai upron                                : 18,seven 1000


g.



Panjanf lantai kolam olak                         : 34,5 yard


h.



Jumlah pintu pembilas                             : 3 buah


i.



Jum;ah pintu pengambilan                       : ii buah


j.



Dimensi kolam penampung sedimen      : 150 k x 5,iii chiliad x i,35 thousand


k.



Panjang terowongan air baku                  : 188 m (1m x 1,7m)