Ppt Pembangunan Ekonomi Kelas Xi

Ppt Pembangunan Ekonomi Kelas Xi

PERPAJAKAN MATERI EKONOMI KELAS eleven SEMESTER GENAP

Kompetensi Dasar 3. 7. Menganalisis perpajakan dalam pembangunan ekonomi 4. 7. Menyajikan hasil analisis

Kompetensi Dasar 3. 7. Menganalisis perpajakan dalam pembangunan ekonomi 4. vii. Menyajikan hasil analisis fungsi dan peran pajak dalam pembangunan ekonomi Indikator Pertemuan ke 5 3. 7. 1. Menjelaskan pengertian pajak iii. 7. 2. Mengidentifikasi fungsi dan manfaat pajak iii. 7. three. Menjelaskan hubungan antara pajak dengan APBN 3. 7. iv. Menjelaskan perbedaan antara Pajak dengan pungutan resmi lainnya 3. 7. 5. Menjelaskan asas pemungutan pajak iii. vii. half dozen. Menjelaskan pengelompokan pajak Pertemuan ke 6 iii. 7. seven. Menjelaskan cara pemungutan pajak di Indonesia 3. 7. 8. Mengidentifikasi macam-macam tarif pajak 3. 7. 9. Menjelaskan alur pemungutan pajak di Indonesia three. 7. x. Mengidentifikasi Undang-undang perpajakan di Indonesia iii. 7. 11. Menjelaskan UU nomor 28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan Pertemuan ke vii three. 7. 12. Mengidentifikasi objek PPh, PPN dan PBB three. 7. 13. Menghitung PPh dan PBB Pertemuan ke 8 iii. 7. 14. Menjelaskan tantangan pajak di Indonesia 3. seven. 15. Mensimulasikan fungsi dan manfaat pajak iii. 7. 16. Menganalisis peran, fungsi, dan manfaat pajak i. Mempresentasikan hasil evaluasi tentang peran, fungsi, dan manfaat pajak

Materi Pertemuan V dan VI

Materi Pertemuan Five dan Vi

Pengertian Pajak • Pajak adalah Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi

Pengertian Pajak • Pajak adalah Kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pajak : – Kontribusi Wajib Pajak kepada Negara – Bersifat memaksa – Berdasarkan Undang-undang – Tidak mendapatkan imbalan secara langsung – Untuk penyelenggaraan negara dan kemakmuran rakyat – Dasar pemungutan pajak adalah UUD 1945 pasal 23 A: “Pajak dan pengutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. ”

Fungsi dan manfaat pajak serta hubungannya dengan APBN a. Fungsi pajak – Fungsi budgeter,

Fungsi dan manfaat pajak serta hubungannya dengan APBN a. Fungsi pajak – Fungsi budgeter, yaitu Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran‑ pengeluarannya. – Fungsi alokasi, yaitu pajak harus digunakan sebagai sumber dana untuk pembiayaan pembangunan di segala bidang – Fungsi distribusi, yaitu pajak dijadikan sebagai alat pemerataan pendapatan – Fungsi regulasi/stabilisasi, yaitu Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.

b. Manfaat pajak – Pajak merupakan sumber penerimaan negara, tanpa pajak sebagian besar kegiatan

b. Manfaat pajak – Pajak merupakan sumber penerimaan negara, tanpa pajak sebagian besar kegiatan negara sulit untuk dapat dilaksanakan. Penggunaan uang pajak mulai dari belanja pegawai sampai dengan pembiayaan berbagai proyek pembangunan. Pembangunan sarana umum seperti jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit/puskesmas, kantor polisi dibiayai dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak. – Uang pajak juga digunakan untuk pembiayaan dalam rangka memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat, mensubsidi barang-barang yang dibutuhkan masyarakat dan juga membayar utang negara ke luar negeri. , membantu UMKM baik dalam hal pembinaan dan modal. dengan demikian peranan penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi sangat dominan dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan pembangunan.

c. Pajak hubungannya dengan APBN – Penerimaan pajak pusat merupakan sumber penerimaan paling utama

c. Pajak hubungannya dengan APBN – Penerimaan pajak pusat merupakan sumber penerimaan paling utama dalam APBN, penyelenggaraan negara dan pemerintahan baik dalam pembiayaan pengeluaran rutin maupun pembiayaan pembengunan sangat tergantung kesadaran masyarakat akan kewajiban dalam membayar pajak. – Selain pajak pusat, juga terdapat Pajak Daerah antara lain Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Pembangunan I, Pajak Hotel dan Restoran, Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan sumber penerimaan APBD.

Hasil Pajak dialokasikan untuk : 1. Pembangunan infrastruktur, meliputi : Perhubungan, Pemukiman, Irigasi, Energi

Hasil Pajak dialokasikan untuk : one. Pembangunan infrastruktur, meliputi : Perhubungan, Pemukiman, Irigasi, Energi dan lainnya 2. Meringankan Beban dan Menyejahterakan Rakyat , meliputi : Layanan Pendidikan , Penanggulangan Kemiskinan , Layanan kesehatan, Ketahanan pangan dan Subsidi 3. Mewujudkan Suasana Aman Dan Tenteram Dan Kepastian Hukum Bagi Kehidupan Rakyat Dan Dunia Usaha, meliputi : Ketahanan Negara, Keamanan dan Ketertiban

Perbedaan pajak dengan pungutan resmi lainnya Dilihat Dari Imbalan jasa (kompensasi) Pajak diterima Pungutan

Perbedaan pajak dengan pungutan resmi lainnya Dilihat Dari Imbalan jasa (kompensasi) Pajak diterima Pungutan Resmi Lainnya secara Diterima secara langsung Dasar pemungutan Tidak langsung Undang-Undang Cara perhitungan Jatuh tempo Sendiri oleh wajib pajak Sesuai dengan tahun pajak Sanksi Sesuai yang tercantum dalam Sesuai dengan kebijaksanaan UU pemerintah Surat ketetapan pajak (kohir) Ada Tidak ada Sifat pungutan Memaksa Sesuai kebijakan pemerintah Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, dsb. Oleh aparatur negara Sesuai dengan pemakaian

Asas pemungutan pajak Menurut Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations dengan ajaran yang

Asas pemungutan pajak Menurut Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations dengan ajaran yang terkenal “The Four Maxims”, asas pemungutan pajak adalah sebagai berikut. • Asas Equality (asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas keadilan): pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara harus sesuai dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Negara tidak boleh bertindak diskriminatif terhadap wajib pajak. • Asas Certainty (asas kepastian hukum): semua pungutan pajak harus berdasarkan UU, sehingga bagi yang melanggar akan dapat dikenai sanksi hukum. • Asas Convinience of Payment (asas pemungutan pajak yang tepat waktu atau asas kesenangan): pajak harus dipungut pada saat yang tepat bagi wajib pajak (saat yang paling baik), misalnya disaat wajib pajak baru menerima penghasilannya atau disaat wajib pajak menerima hadiah. • Asas Effeciency (asas efesien atau asas ekonomis): biaya pemungutan pajak diusahakan sehemat mungkin, jangan sampai terjadi biaya pemungutan pajak lebih besar dari hasil pemungutan pajak.

Jenis-jenis pajak atau Penggolongan Pajak a. Menurut Lembaga Pemungutnya atau Cara Pemungutannya 1) Pajak

Jenis-jenis pajak atau Penggolongan Pajak a. Menurut Lembaga Pemungutnya atau Cara Pemungutannya 1) Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh: Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Pen-jualan atas Barang Mewah, (PPn. BM) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Bea Materai. two) Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak Daerah terdiri atas: Pajak Provinsi, contoh : Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan dan Pajak Rokok Pajak Kabupaten/Kota, contoh: Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air tanah, Pajak Sarang Burung Walet, PBB Pedesaan dan Perkotaan, dan Pajak Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan (BPHTB)

Baca :   Soal Dan Pembahasan Pembangunan Ekonomi Umkm

b. Menurut sifatnya 1) Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya,

b. Menurut sifatnya i) Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh: Pajak Penghasilan. 2) Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. c. Menurut Golongannya atau Siapa yang Memungut Pajak one) Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak Penghasilan. two) Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibeban-kan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai.

Sistem pemungutan pajak di Indonesia 1. Official Assessment System – Adalah suatu sistem pemungutan

Sistem pemungutan pajak di Indonesia 1. Official Assessment Organization – Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. 2. Cocky Assessment System – Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. 3. With Property Organization – Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang ber-sangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

Tarif Pajak terdiri atas : 1. Tarif pajak proporsional (sebanding) Yaitu tarif pajak dengan

Tarif Pajak terdiri atas : 1. Tarif pajak proporsional (sebanding) Yaitu tarif pajak dengan menggunakan persentase yang tetap untuk setiap dasar pengenaan pajak. two. Tarif pajak degresif (menurun) Yaitu tarif pajak dengan menggunakan presentase yang menurun untuk setiap dasar pengenaan pajak. 3. Tarif pajak konstan (tetap) Yaitu tarif pajak yang tetap untuk setiap dasar pengenaan pajak. 4. Tarif pajak progesif (menaik) Yaitu tarif pajak dengan persentase yang semakin menaik/meningkat untuk dasar setiap pengenaan pajak

Alur administrasi perpajakan di Indonesia secara administratif kewajiban mupun hak wajib pajak antara lain

Alur administrasi perpajakan di Indonesia secara administratif kewajiban mupun hak wajib pajak antara lain : ane. Mendaftarkan diri sebagai wajib pajak dengan memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 2. Menghitung besarnya pajak terutang iii. Memotong atau memungut pajak pihak lain 4. Melakukan pembayaran atas pajak yang terutang atau atas pajak yang telah dipotong/dipungut v. Melaporkan pajak yang terutang half dozen. Menyelenggarakan pembukuan seven. Kewajiban sebagai wajib pajak apabila yang bersangkutang dilakukan pemeriksaan pajak 8. Meminta kembali lebih bayar pembayaran pajak 9. Pengajuan pembetulan ketetapan pajak 10. Mengajukan keberatan atau banding atas ketetapan pajak eleven. Mengajukan pengurangan/penghapusan sanksi administratif 12. Pengajuan pembatalan ketetapan pajak 13. Mengajukan penghapusan NPWP

Materi Pertemuan VII dan VIII

Materi Pertemuan Seven dan VIII

Objek dan cara pengenaan pajak • Subjek pajak adalah pihak – pihak (orang maupun

Objek dan cara pengenaan pajak • Subjek pajak adalah pihak – pihak (orang maupun badan) yang akan dikenakan pajak dan yang dimaksud dengan objek pajak yaitu sesuatu yang dikenakan pajak atau dapat diartikan sebagai sasaran pengenaan pajak. • Sistem perpajakan adalah cara yang digunakan oleh pemerintah untuk memungut atau menarik pajak dari rakyat dalam rangka membiayai pembangunan dan pengeluaran pemerintah lainnya.

Pajak Penghasilan (PPh) • Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak

Pajak Penghasilan (PPh) • Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Sedangkan penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima, baik berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia, yang dapat menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan. • Besarnya Pajak Penghasilan dihitung berdasarkan PKP (Penghasilan Kena Pajak) dan PKP = Penghasilan persih pertahun – Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

Objek Pajak / penghasilan yang dipotong dalam PPh 21: a. b. c. d. e.

Objek Pajak / penghasilan yang dipotong dalam PPh 21: a. b. c. d. e. f. Penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai tetap, baik berupa penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur Penghasilan yang diterima atau diperoleh Penerima pensiun secara teratur berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan sehubungan dengan pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua dan pembayaran lain sejenis Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan Imbalan kepada pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan imbalan sejenisnya dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun.

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Berdasarkan Pasal 7 UU Nomor 36 tahun 2008, besarnya

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Berdasarkan Pasal vii UU Nomor 36 tahun 2008, besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak, yaitu: a. Rp 24. 300. 000, 00 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) untuk diri Wajib Pajak orang pribadi; b. Rp 2. 025. 000, 00 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin; c. Rp 24. 300. 000, 00 (dua puluh empat juta tiga ratus ribu rupiah) tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1); dan d. Rp two. 025. 000, 00 (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga.

Baca :   Makalah Tentang Ekonomi Pembangunan Bab 1 Dan 12

Tarif Pajak Penghasilan Menurut UU Nomor 36 tahun 2008 Pasal 17, Tarif Pajak yang

Tarif Pajak Penghasilan Menurut UU Nomor 36 tahun 2008 Pasal 17, Tarif Pajak yang ditetapkan atas penghasilan sebagai berikut : wajib pajak orang pribadi dalam negeri adalah : Lapisan Penghasilan Kena Pajak sampai dengan Rp 50. 000, 00 (limapuluhjuta rupiah) Tarif Pajak 5% (lima persen) di atas Rp 50. 000, 00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 250. 000, 00(dua ratus lima puluh juta rupiah) 15% (lima belas persen) di atas Rp 250. 000, 00 (dua ratus lima puluh juta 25% rupiah) sampai dengan. Rp 500. 000, 00(lima ratus juta (dua puluh lima persen) rupiah) di atas Rp 500. 000, 00 (lima ratus juta rupiah) 30% (tiga puluh persen)

Contoh 1 : Penghitungan pajak yang terutang untuk Wajib Pajak orang pribadi, Jumlah Penghasilan

Contoh ane : Penghitungan pajak yang terutang untuk Wajib Pajak orang pribadi, Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 600. 000, 00. Maka Pajak Penghasilan yang terutang: v% x Rp l. 000, 00 = Rp two. 500. 000, 00 xv% x Rp 200. 000, 00 = Rp 30. 000, 00 25% ten Rp 250. 000, 00 = Rp 62. 500. 000, 00 30% 10 Rp 100. 000, 00 = Rp 30. 000, 00 (+) Rp 125. 000, 00

Contoh 2 : Pak Chandra sebagai karyawan Primagama, penghasilan neto setiap bulannya Rp 10.

Contoh 2 : Pak Chandra sebagai karyawan Primagama, penghasilan neto setiap bulannya Rp 10. 000, 00. Pak Chandra sudah beristeri tidak bekerja dan mempunyai four anak. Berapakah pajak terutang setiap bulannya ? Jawab: Penghasilan neto 12 bulan x Rp x. 000, 00 = Rp 120. 000, 00 PTKP – wajib pajak Rp 24. 300. 000, 00 – isteri Rp 2. 025. 000, 00 – anak (maks iii) 3 10 Rp 2. 025. 000, Rp 6. 075. 000, 00 + = Rp 32. 400. 000, 00 Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Rp 87. 600. 000, 00 ======== Jadi, PPh terutang five% x Rp 50. 000, 00 = Rp two. 500. 000, 00 xv% 10 Rp 37. 600. 000, 00 = Rp v. 640. 000, 00 + = Rp eight. 140. 000, 00 per tahun ===== Pajak penghasilan perbulan = Rp 8. 140. 000, 00 : 12 = Rp 678. 333, 33

Contoh Cara Menghitung PPH 21 Kasus: Budi sudah menikah dan tanpa memiliki anak dan

Contoh Cara Menghitung PPH 21 Kasus: Budi sudah menikah dan tanpa memiliki anak dan merupakan seorang pegawai PT. Citra dimana ia memperoleh penghasilan sebulan Rp three. 000. PT tersebut telah mengikuti program jamsostek, premi jaminan kecelakaan kerja dan premi jaminan kematian yang telah dibayar pemberi tenaga kerja dengan jumlah masing-masing 0, 50% dan 30% dari upah gaji. Selain itu PT. Citra juga telah menanggung untuk iuran jaminan hari tua sebesar 2, 00% dari upah gaji setiap bulan. Disisi lain, PT Citra pun juga mengikuti program pensiun untuk para karyawannya dimana pembayaran setiap bulan sebesar Rp 100. 000, 00 untuk budi ke dana pensiun, yang pendiriannya juga sudah disahkan oleh Menteri Keuangan. Sedangkan budi telah membayar iuran pensiun sebesar Rp l. 000, 00. Pada bulan juli 2013 , Budi menerima pembayaran yang hanya berupa gaji.

Perhitungan PPH 21 Juli 2013 adalah Gaji Rp 3. 000, 00 Premi Jaminan Kecelakaan

Perhitungan PPH 21 Juli 2013 adalah Gaji Rp 3. 000, 00 Premi Jaminan Kecelakaan Kerja xv. 000, 00 Premi Jaminan Kematian Penghasilan Bruto Pengurangan 1. Biaya Jabatan v%ten 3. 024. 000, 00 one. Iuran Pensiun 1. Iuran Jaminan Hari Tua nine. 000, 00 three. 024. 000, 00 151. 200, 00 50. 000, 00 lx. 000, 00 Penghasilan neto sebulan Penghasilan neto satu tahun 12 ten two. 762. 800, 00 PTKP: – Untuk WP sendiri – Tambahan WP kawin (261. 200, 00) 2. 762. 800, 00 33. 152. 600, 00 24. 300. 000, 00 2. 025. 000, 00 (26. 325. 000, 00) Penghasilan Kena Pajak Setahun 6. 828. 600, 00 Pembulatan PPh terutang 5%x 6. 828. 000, 00 PPh Pasal 21 bulan Juli 341. 400, 00 : 12 341. 400, 00 Rp 28. 452, 00

Keterangan : • Biaya jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara sebuah penghasilan

Keterangan : • Biaya jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara sebuah penghasilan yang bisa dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang telah bekerja sebagai karyawan tetap tanpa harus memandang memiliki jabatan atau tidak. • Contoh tersebut diberlakukan bagi karyawan yang telah mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Jika karyawan yang bersangkutan belum memiliki NPWP, maka jumlah Pph 21 yang wajib dipotong pada bulan juli sebesar : 120% ten Rp 28. 452, 00 = Rp 34. 140, 00.

 • Wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah : 28%

• Wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah : 28% (dua puluh delapan persen) pada tahun 2009 dan 25% (dua puluh lima persen) yang mulai berlaku sejak tahun pajak 2010 • Contoh penghitungan pajak yang terutang untuk Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap: – Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 1. 250. 000, 00 pada tahun 2012 – Maka Pajak Penghasilan yang terutang: 25% 10 Rp i. 250. 000, 00 = Rp 312. 500. 000, 00

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Tarif PPN dan PPn BM Menurut Pasal 7 UU nomor 42 tahun 2009, tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah : Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen). Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas: • ekspor Barang Kena Pajak Berwujud; • ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud; dan • ekspor Jasa Kena Pajak. Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima persen) dan paling tinggi fifteen% (lima belas persen) yang perubahan tarifnya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Baca :   Program Pembangunan Koridor Ekonomi Perkotaan

Sedangkan Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM), menurut Pasal 8, adalah: •

Sedangkan Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM), menurut Pasal 8, adalah: • Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah serendahnya x% (sepuluh persen) dan setinggi-tingginya 200% (dua ratus persen). • Ekspor barang kena pajak yang tergolong mewah dikenai pajak dengan tarif 0% (nol persen). • Ketentuan mengenai kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah • Ketentuan mengenai jenis barang yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud pada ayat (iii) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Pengertian Pajak Bumi dan

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak yang dikenakan atas kepemilikan atau pemanfaatan tanah dan bangunan. Mulai tanggal ane Januari 2014 PBB Pedesaan dan Perkotaan merupakan Pajak Daerah. Untuk PBB Perkebunan, Pertambangan masih tetap merupakan Pajak Pusat. Objek pajak PBB adalah bumi dan bangunan menurut nilai jualnya Objek pajak yang tidak dikenakan PBB adalah: • objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum (masjid, gereja, wihara, rumah sakit, pesantren/madrasah, panti asuhan, museum, candi) • objek pajak yang digunakan kuburan, peninggalan purbakala, hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah desa • objek pajak untuk perwakilan diplomatik, konsulat • objek pajak yang digunakan oleh badan perwakilan organisasi internasional (PBB, ASEAN, dan lain-lain)

Tarif PBB yang dikenakan pada obyek pajak adalah 0, 5% dari nilai jual obyek

Tarif PBB yang dikenakan pada obyek pajak adalah 0, 5% dari nilai jual obyek kena pajak. Dan besarnya Nilai Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp. half-dozen. 000, 00 dan paling tinggi Rp 12. 000, 00 untuk setiap wajib pajak atau sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sedangkan Dasar pengenaan PBB antara lain : • Dasarnya adalah nilai jual obyek pajak. • Besarnya nilai jual obyek pajak ditetapkan iii tahun sekali oleh Menteri Keuangan, kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan daerahnya. • Dasar perhitungan pajak adalah Nilai Jual Obyek Pajak Kena Pajak (NJOPKP) yang ditetapkan serendah-rendahnya xx% dan setinggi -tingginya 100% dari Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP). • Besarnya Nilai jual kena pajak ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional. • Objek PBB yang NJOP lebih dari Rp i milyar, Dasar perhitungannya 40%

Peraturan pemerintah RI Nomor 24 tahun 2000 Tentang Bea Meterai adalah pajak yang dikenakan

Peraturan pemerintah RI Nomor 24 tahun 2000 Tentang Bea Meterai adalah pajak yang dikenakan atas pemanfaatan dokumen, seperti surat perjanjian, akta notaris, serta kuitansi pembayaran, surat berharga dan efek, yang memuat jumlah uang atau nominal diatas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan. Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut, besarnya bea meterai sebagai berikut: • Surat perjanjian, akta notaris, akta PPAT, surat lamaran sebesar Rp 6. 000, 00 • Dokumen nominal Rp 250. 000, 00 – Rp i. 000, 00 sebesar Rp 3. 000, 00 • Lebih dari Rp 1. 000, 00 sebesar Rp 6. 000, 00 • Cek dan bilyet giro sebesar Rp 3. 000, 00

Tantangan pemungutan pajak Peran vital Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai instansi yang diamanahi tugas

Tantangan pemungutan pajak Peran vital Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai instansi yang diamanahi tugas penghimpun penerimaan negara harus berhadapan dengan realita masih rendahnya kesadaran partisipasi masyarakat mengenai perpajakan, artinya belum sebanding antara besarnya jumlah penduduk dengan Wajib Pajak yang masih rendah. Padahal penerimaan pajak banyak dialokasikan untuk fasilitas umum yang banyak dinikmati oleh seluruh jumlah penduduk. Terkadang, masyarakat banyak yang belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bukan karena mereka enggan berurusan dengan pajak, tapi justru karena mereka belum paham dan kebingungan ihwal apa yang harus mereka lakukan terkait kewajiban perpajakan. Dan ada banyak sekali masyarakat yang berpenghasilan diatas Panghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Rp. 24, 3 Juta/ Tahun yang dapat menjadi target sosialisasi. Menilik kepada situasi ini, sosialiasi dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) harus kian gencar dijalankan hingga ke jajaran yang terdekat dengan masyarakat serta dengan melibatkan unsur pemerintahan lokal sebagai pendukung. Sosialisasi secara umum dapat dibedakan menjadi sosialisasi langsung kepada sasaran dan ada juga dengan cara yang koersif positif. Cara yang kedua ini adalah dengan menjadikan NPWP sebagai unsur pokok setiap pemenuhan kewajiban administratif publik yang dilakukan masyarakat. Sehingga masyarakat akan tergerak untuk mendaftarkan diri mendapatkan NPWP. Khususnya mereka yang berpenghasilan bersih di atas PTKP.

Simulasi fungsi dan manfaat pajak Untuk menjadi bangsa yang mandiri, pajak mengajak peran serta

Simulasi fungsi dan manfaat pajak Untuk menjadi bangsa yang mandiri, pajak mengajak peran serta rakyat Indonesia untuk membiayai negaranya sendiri, untuk itulah pajak memiliki fungsi dan manfaat yang sangat penting dalam pembangunan negara. Terdapat aspek-aspek yang terkait dengan Perpajakan : a. Aspek Ekonomi, artinya penerimaan negara yang digunakan untuk mengarahkan kehidupan masyarakat menuju kesejahteraan dengan melakukan pembangunan. b. Aspek Sosial, artinya pemerataan pembangunan dan keadilan dalam membayar pajak. c. Aspek Politik, artinya secara politis masyarakat/pembayar pajak mempunyai posisi yang semakin baik dalam melakukan “tawar menawar” dengan pemerintah. d. Aspek Hukum, artinya Sebagai negara hukum semua pemungutan pajak yang dilakukan berdasarkan hukum. e. Aspek Agama, artinya Tuhan memerintahkan bahwa manusia, selain harus beribadat yaitu taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan juga harus dapat berhubungan baik dengan sesamanya, saling berkomunikasi, bersilaturahmi dan saling membantu.

Alur penerimaan dan penggunaan dana APBN/APBD Kas Negara melalui Bank dan Kantor Pos DJP

Alur penerimaan dan penggunaan dana APBN/APBD Kas Negara melalui Banking concern dan Kantor Pos DJP mengadministrasikan Kementerian/ Lembaga Masyarakat Fasilitas publik

Ppt Pembangunan Ekonomi Kelas Xi

Source: https://slidetodoc.com/perpajakan-materi-ekonomi-kelas-11-semester-genap-kompetensi/

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …