Resume Dari Buku Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam Perspektif Pembangunan

Resume Dari Buku Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam Perspektif Pembangunan



RESUME BUKU EKONOMI PEMBANGUNAN,
Oleh: ISMI SALIMAH

BAB I
Ilmu Ekonomi Institusi dan Pembangunan:
Sebuah Perspektif Global

Ilmu ekonomi pembangunan adalah sebuah ilmu ekonomi khusus mengenai negara-negara dunia ketiga yang rata-rata masih miskin dan terbelakang, yang memiliki aneka orientasi ideologi latar belakang budaya yang beragam, dan masalah-masalah ekonomi yang sangat komplek yang semuanya menuntut suatu pemikiran dan pendekatan baru.

Hakekat Ilmu Ekonomi Pembangunan
Ilmu ekonomi tradisional merupakan suatu ilmu yang memusatkan perhatiannya pada alokasi termurah dan paling efisien atas segenap sumber daya yang langka, serta upaya-upaya untuk memanfaatkan pertumbuhan optimal sumber-sumber daya tersebut dari waktu ke waktu agar dapat menghasilkan sebanyak mungkin barang dan jasa.
Ilmu ekonomi politik merupakan ilmu yang jangkauannya lebih luas dari ilmu ekonomi tradisional, fokus khususnya adalah proses-proses sosial dan institusional, dengan perhatian utama, pada peranan kekuasaan politik dalam pembuatan keputusan-keputusan ekonomi.
Sedangkan ilmu ekonomi pembangunan memiliki cakupan lebih luas dibandingkan kedua ilmu di atas.

Mengapa Ilmu Ekonomi Pembangunan Penting Dipelajari
Tujuan akhir dari ilmu ekonomi pembangunan adalah untuk membantu agar dapat berpikir secara sistematis tentang aneka masalah dan isu perekonomian, serta merumuskan sendiri berbagai pertimbangan dan kesimpulan atas dasar prinsip analitis yang relevan dan data atau informasi statistik yang dapat dipercaya.

Arti Penting Nilai-Nilai dalam Ilmu Ekonomi Pembangunan
Ilmu ini menyoroti manusia serta sistem-sitem sosial yang mengorganisasikan aktivitas-aktivitasnya yang dilakukan manusia, dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhannya yang mendasar (pangan, papan, sandang) dan untuk memenuhi keinginan-keinginan yang bersifat not-material (pendidikan, pengetahuan, dan pemuasan spritual).

Pembangunan
Istilah pembangunan diartikan sebagai kapasitas dari sebuah perekonomian nasional untuk menciptakan dan mempertahankan kenaikan pendapatan nasional bruto atau GNP (Gross National Production) tahunan. Indeks ekonomi yang juga digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan pembangunan adalah tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita (Income per-capita) atau GNP per kapita, tingkat kemajuan struktur produksi dan penyerapan tenaga kerja (employment) yang diupayakan secara terencana.
Contoh indikator sosial adalah tingkat melek huruf, tingkat pendidikan, kondisi dan kualitas pelayanan kesehatan, kecukupan kebutuhan akan perumahan, dsb.

Tiga Nilai Inti Pembangunan
Ketiga nilai inti tersebut adalah kecukupan (sustenance), harga diri (self-esteem) serta kebebasan (freedom).
Kecukupan ialah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan, kesehatan, dan keamanan). Harga diri adalah menjadi manusia seutuhnya (kepribadian, sosok utuh, identitas, penghargaan, penghormatan, pengakuan, dsb). Kebebasan ialah kemampuan untuk memilih segala sesuatu atas dasar keyakinan, pikiran sehat, dan hati nurani kita sendiri.

Tujuan Inti Pembangunan
Tiga tujuan inti pembangunan:
1. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan hidup yang pokok seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan perlindungan keamanan.
2. Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan, tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan kerja,perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan, yang semuanya itu tidak hanya untuk memperbaiki kesejahteraan materiil, melainkan juga menumbuhkan harga diri pada pribadi dan bangsa bersangkutan.
3. Perluasan pilihan-pilihan ekonomi dan sosial bagi setiap individu serta bangsa keseluruhan.

Baca :   Aspek Penunjang Pembangunan Pertanian Materi Pengantar Ekonomi Pertanian

 BAB II
Keragaman Struktur dan Kemiripan Karakteristik
Negara-negara Berkembang

Mendeskripsikan Negara-Negara Berkembang
Cara yang paling umum digunakan untuk mendeskripsikan negara berkembang adalah dengan menggunakan pendapatan perkapita.
Secara umum yang termasuk negara-negara berkembang adalah negara-negara yang memiliki tingkat pendapatan rendah, menengah bawah dan menengah atas.

Keragaman Struktural Negara-Negara Dunia Ketiga
Ada delapan komponen pokok dalam pemahaman penggambaran diversitas atau keragaman struktural negara-negara berkembang:
1. Ukuran negara (luas geografis, jumlah penduduk, tingkat pendapatan).
two. Latar belakang sejarah dan kolonial.
3. Persediaan sumber daya fisik atau alam dan manusia.
4. Komposisi etnik dan agama.
5. Arti penting relatif atas sektor pemerintah dan sektor swasta.
half-dozen. Sifat dasar struktur industri.
vii. Kadar ketergantungan terhadap kekuatan-kekuatan poltik dan ekonomi luar negeri (asing).
8. Pembagian kekuasaan, kelembagaan, dan struktur politik didalam negeri.

Karakteristik Umum Negara-Negara Berkembang
Secara singkat dan sederhana, ciri-ciri umum dari setiap negara berkembang dalam diklasifikasikan menjadi 6 kategori utama, sbb:
1. Standar hidup yang relatif rendah, ditunjukkan oleh tingkat pendapatan yang rendah, ketimpangan pendapatan yang parah, kondisi kesehatan yang buruk, dan kurang memadainya sistem pendidikan.
ii. Tingkat produktifitas yang rendah.
3. Tingkat pertumbuhan penduduk serta beban ketergantungan yang tinggi.
4. Ketergantungan pendapatan yang sangat besar kepada produksi sektor pertanian serta ekspor produk-produk primier (bahan-bahan mentah).
5. Pasar yang tidak sempurna dan terbatasnya informasi yang tersedia.
vi. Dominasi, ketergantungan, kerapuhan yang parah, pada hampir semua aspek hubungan internasional.

Pengukuran Holistis atas Tingkat Kehidupan: Indeks Pembangunan Manusia
Indeks pembangunan manusia atau human development indeks (HDI) mencoba untuk memeringkat semua negara dari skala 0 (tingkat pembangunan manusia yang paling rendah hingga 1 (tingkat pembangunan manusia yang teringgi) berdasarkan tiga tujuan atau produk akhir pembangunan yakni:

i. Masa hidup (longevity) yang diukur dengan usia harapan hidup.
2. Pengetahuan (knowledge) yang diukur dengan kemampuan baca tulis orang dewasa secara tertimbang (2/3) dan rata-rata bersekolah (1/3).
three. Standar kehidupan (standard of living) dan diukur dengan pendapatan riil perkapita, disesuaikan dengan paritas daya beli (purchasing power parity atau PPP) dari mata uang setiap negara untuk mencerminkan biaya hidup dan untuk memenuhi asumsi rutinitas marginal yang semakin menurun dari pendapatan.
Salah satu keuntungan terbesar dari HDI adalah ini mengungkapkan bahwa sebuah negara dapat berbuat jauh lebih baik pada tingkat pendapatan yang rendah, bahwa kenaikan pendapatan yang besar dapat berperan relatif kecil dalam pembangunan manusia.
Lebih jauh, HDI menunjukkan dengan jelas bahwa kesenjangan dalam pendapatan lebih besar daripada kesenjangan dalam indikator pembangunan. HDI juga mengingatkan kita bahwa pembangunan, yang kita maksudkan adalah pembangunan manusia dalam arti luas, bukan hanya dalam bentuk pendapatan yang lebih tinggi. Banyak negara, seperti sejumlah negara penghasil minyak yang berpendapatan tinggi. Kita tidak akan berpendapat bahwa negara yang mempunyai penduduk berpendapatan tinggi, namun tidak terdidik dan mempunyai masalah kesehatan yang berat sehingga usia harapan hidupnya lebih singkat daripada negara yang lain di seluruh dunia. Indikator kesenjangan pembangunan dan peringkatan yang baik harus memasukan variabel kesehatan dan pendidikan.
Terdapat titik dan kelemahan potensial dari HDI, salah satunya adalah masa bersekolah bruto di banyak kasus terlalu melebihkan jumlah tahun bersekolah, karena di banyak negara seorang siswa akan dihitung bersekolah di sekolah dasar jika ia memulai sekolah, terlepas apakah ia nanti akan putus sekolah atau tidak pada tingkatan tertentu. Bobot yang sama diberikan untuk ketiga komponen, yang seharusnya mempunyai semacam penjelasan di baliknya, namun penjelasan itu sulit diperoleh.
Salah satu inovasi besar dalam HDI selama beberapa tahun terakhir ini adalah pemecahan HDI keseluruhan suatu negara menjadi beberapa komponen terpisah untuk membedakan antara pria dan wanita, kelas sosial yang berbeda yang mencerminkan distribusi pendapatan yang berlekuk, serta kawasan dan kelompok etnis yang berbeda.
Meskipun terdapat kritik yang agak sahih, terdapat fakta yang jelas bahwa HDI ketika digunakan bersama-sama dengan ukuran pembangunan ekonomi yang tradisional. Yang lebih penting, dengan mengkaji masing-masing dari ketiga komponen besar HDI-pendapatan perkapita riil ya m disesuaikan, usia harapan hidup, serta ukuran kemampuan baca tulis dan masa bersekolah. Kita sekarang dapat mengidentifikasikan tidak hanya apakah suatu negara melakukan pembangunan atau tidak.

Baca :   Ilmu Ekonomi Dan Studi Pembangunan Ipb

Produktifitas yang Rendah
Di samping standar hidup yang rendah dan kurangnya peningkatan kualitas sumber daya menusia, negara-negara berkembang juga menghadapi masalah rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja. Untuk mempelajari hal itu, terlebih dahulu kita perlu mengetahui konsep fungsi produksi, yakni sesuatu konsep yang secara sistematis menghubungkan output dengan bermacam-macam kombinasi input.
Tadi sudah disebutkan bahwa tingkat produktivitas tenaga kerja di hampir semua negara-negara berkembang masih rendah, apalagi jika dibandingkan dengan yang ada di negara-negara maju.
Salah satu di antara sekian banyak konsep dasar ekonomi tersebut adalah prinsip produktivitas marjinal yang semakin menurun. Menurut prinsip ini, jika terdapat peningkatan jumlah, salah satu faktor variabel, sedangkan kuantitas faktor lainnya tidak berubah (contohnya, faktor-faktor modal, tanah dan bahan baku). Atas dasar prinsip ini, kita dapat menebak bahwa rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja di negara-negara dunia ketiga disebabkan oleh kurangnya faktor-faktor atau input.
Berdasarkan argumentasi tersebut, maka kita dapat menduga bahwa tingkat produktivitas dapat dinaikkan dengan cara memobilisasi tabungan domestik dan penarikan bantuan modal asing guna meningkatkan investasi baru.
Hal penting lainnya yang perlu pula diperhitungkan adalah dampak dari sikap-sikap kaum pekerja dan pihak manajemen atau para pemilik perusahaan itu sendiri terhadap usaha-usaha memperbaiki diri khususnya yang berkenaan dengan tingkat kesigapan dalam bekerja.
Rendahnya produktifitas di kebanyakan negara berkembang juga bersumber dari lemahnya kekuatan kesehatan fisik para pekerja yang merupakan akibat dari rendahnya tingkat pendapatan.

Sampai di sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa rendahnya tingkat produktifitas maupun standar hidup di negara-negara dunia ketiga merupakan suatu fenomena sosial sekaligu fenomena ekonomi. Kedua hal tersebut merupakan kontributor (sebab) dan sekaligus manifestasi (akibat) dari keterbelakangan.

Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Beban Ketergantungan yang Tinggi
Tingkat kelahiran kasar (cerude birthrate) yakni jumlah bayi yang lahir pertahun dan hidup setiap seribu penduduk. Tingkat kematian (deathrate) yakni junlah orang yang meninggal setiap seribu penduduk pertahun. Kedua hal tersebut merupakan cara yang baik untuk membedakan antara negara berkembang dan negara maju.
Penduduk yang berusia lanjut maupun yang masih anak-anak secara ekonomis beban ketergantungan (dependency burden). Artinya mereka merupakan anggota masyarakat yang tidak produktif sehingga menjadi beban tanggungan angkatan kerja yang produktif (biasanya berusia antara fifteen-64 tahun).
Kesimpulannya negara-negara dunia ke 3 tidak hanya dibebani oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi,tetapi juga haru menanggung beban ketergantungan yang lebih berat dari pada negara-negara kaya.

Baca :   Bab Pembahasan Pembangunan Ekonomi Di Negara Indonesia

Pasar yang Tidak Sempurna dan Informasi yang Tidak Memadai
Di banyak negara yang berkembang, perangkat hukum atau legal dan institusionalnya, walaupun ada, masih sangat lemah guna mendukung beroperasinya mekanisme pasar secara efektif dan efisien. Tanpa adanya sistem hukum yang mapan, misalnya segala kontrak dan bisnis hanya akan tinggal diatas kertas, hak cipta hanya sekedar buah bibir, dan kurs mata uang-pun bisa berubah kapan saja. Dalam situasi di mana kepastian hukum begitu minim, jelaslah bisnis tidak akan dapat diharapkan berkembang dengan baik. Sarana infrastruktur adalah masalah berikutnya.

Terlepas dari apakah tidak kesempurnaan pasar dan ketidaklengkapan informasi ini perlu diimbangi dengan peningkatan peran pemerintah, yang juga merupakan menyebab dari ketidaklengkapan dan tidak kesempurnaan informasi, yang jelas kedua hal tersebut merupakan ciri menonjol di banyak negara berkembang dan merupakan sumber penting dari keterbelakangan mereka.

Dominasi, Ketergantungan, dan Kerapuhan dalam Hubungan Internasional
Bagi negara-negara berkembang pada umumnya, salah faktor utama yang mengakibatkan rendahnya standar hidup masyarakat mereka, meningkatnya pengangguran serta kian mencoloknya ketimpangan distribusi pendapatan internasional adalah distribusi kekuatan politik dan ekonomi yang sangat tidak merata antara negara-negara kaya dan miskin.
Di samping itu, masih ada aspek-aspek penting lainnya dalam proses transfer internasional yang turut mempersulit usaha-usaha pembangunan negara-negara miskin. Ada satu faktor yang tidak kentara, tatapi sangat penting, yang turut menyebabkan berlarut-berlarutnya keterbelakangan negara-negara dunia ketiga, yakni transfer nilai-nilai, sikap kelembangaan, dan standar-standar perilaku dari negara-negara dunia pertama dan kedua ke negara-negara dunia ketiga.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah munculnya pengaruh standar sosial dan ekonomi negara-negara maju terhadap skala gaji, gaya kehidupan elit dan sikap individuallistis untuk menumpuk harta kekayaan dinegara-negara berkembang.
Semua itu seringkali mendorong kelas elit yang berkuasa untuk melakukan aneka tindakan korupsi dan memonopoli barang-barang ekonomi bernilai tinggi, terlepas dari apakah mereka menganut sistem pasar bebas atau terpusat. Pada akhirnya penetrasi sikap-sikap, nilai-nilai, dan standar-standar negara khas negara kaya itu juga menyebabkan timbulnya suatu masalah yang dikenal dengan istilah pengurasan intelektual antar negara, yakni migrasi atau perpindahana tenaga-tenaga profesional, dan kaum cendikiawan dari negara-negara dunia ketiga kenegara-negara maju.
Akibat akhir dari faktor-faktor tersebut adalah meningkatnya kerapuhan negara-negara dunia ketiga terhadap ancaman dan tekanan kekuatan-kekuatan luar yang memang sangat berpengaruh atau bahkan bisa menentukan tingkat kesejahteraan ekonomi dan sosial mereka.

Diresume Oleh: Ismi Salimah,
Mahasisiwi Manajemen UNY.

Resume Dari Buku Ekonomi Sumber Daya Manusia Dalam Perspektif Pembangunan

Source: https://sharkmckinnest.blogspot.com/2011/02/resume-ku-ekonomi-pembangunan-bab-1-2.html

Check Also

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat

Contoh Makalah Tentang Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi Sumatera Barat Papua Irian Jaya[a] Mamta[1]—Saireri Provinsi otonom …