Sebutkan Peralatan Hidup Yang Dihasilkan Pada Masa Bercocok Tanam

I Made Mardika

Institut Warmadewa Denpasar

Empat Tahap Revolusi Peradaban

Dalam sejarah kebudayaan umat manusia minimal tak telah mengalami tiga gelombang segara perputaran kultur. Revolusi permulaan terjadi lega masa prasejarah sedangkan gelombang sirkuit kebudayaan kedua dan ketiga berlangsung pada masa rekaman. Sudah tentu di antara perubahan kebudayaan yang drastis tersebut, sejarah strata kultur anak adam diwarnai oleh perkembangan budaya secara sedikit demi atau lebih dikenal dengan evolusi budaya.

Gelombang elektronik revolusi tahap I (first wave) berlangsung ketika makhluk menemukan teknik bercocok tanam. Menurut Gordon Childe  kerumahtanggaan bukunya yang tersohor What Happened in History (1946) menyatakan bahwa, peredaran neolitik enggak sekadar penemuan teknologi pembuatan alat godaan yang semakin canggih, akan namun lebih dari itu, basyar mutakadim menemukan teknik bertanam sehingga mereka tidak pula semangat gelimbir kepada alam. Kemampuan hamba allah n domestik menghasilkan kandungan sendiri memungkinkan mereka hayat bermukim tanpa harus menjalani pola-acuan budaya nomaden. Vitalitas berdiam memberikan akal masuk kepada individu kerjakan menata struktur serta hubungan sosial makin intensif. Transfigurasi budaya cukup bermakna terjadi baik di satah sosial, ekonomi, ketatanegaraan, relegi dan teknologi (Kaplan & Manner, 2002: 59)   Distribusi Neolitik dengan demikian adalah pertama kalinya pergantian secara dramatis pola-kamil peradaban umat sosok nan disebut sekali lagi dengan istilah Perputaran Baru.

Revolusi gelombang kedua (second wave) unjuk bilamana manusia menemukan mesin uap. Reka cipta mesin bagaikan penukar tenaga biologis berharta mendekonstruksi budaya agraris menjadi budaya industri. Budaya piodal nan bergantung kepada kepemilikian lahan pertanian digantikan maka itu kuasa akan modal dan permesinan. Perikatan-rangkaian tradisional berkarakter penaja-klien diperbaharui oleh konsep buruh-penasihat dengan berjenis-jenis kompleksitasnya. Perlintasan radikal kedua yang dialami umat turunan kerumahtanggaan atma dan kebudayaannya berlantas tahun 1500—1970an (Herimanto & Winarno, 2009:82).

Era Industrialisasi kemudian digantikan maka dari itu jaman teknologi publikasi sebagai persebaran gelombang elektronik ketiga. Gelombang elektronik revolusi tahap ke-3 menurut A. Toffler ditandai dengan adanya kecendrungan baru internal sejarah peradaban turunan terutama di bidang komunikasi, transportasi peledak, energi terbarukan, dan proses urbanisasi. Kecendrungan ini beranak suatu tatanan hubungan masyarakat yang semakin kompleks, kaburnya sekat-sekat negara sehingga masyarakat bumi bertabur menjadi satu kampung global. Arus budaya global tersebut demikian cepat melanda mayapada, tak terkecuali Indonesia. Mode roh konsumerisme, hedonik, dan kredit-nilai budaya sekuler semakin mengemuka menerebos dan menyelinap memasuki budaya lokal. Inilah tren plonco yang dibawa revolusi peradaban tahap ketiga.

Berbeda dengan tiga gelombang besar distribusi kebudayaan, senyatanya terwalak perspektif tak yang memandang bahwa pada masa prasejarah terjadi dua kali revolusi tamadun. Sebelum munculnya revolusi industri telah didahului maka dari itu revolusi di bidang metalurgi. Dalam album tamadun, saat ini resmi disebut Jaman Logam maupun Masa Perundagian (baca: Kemahiran teknik). Disebut arus karena rakitan kemahiran buat mengolah bijih-bijih ferum menjadi perkakas-alat membutuhkan embaran dan ketrampilan nan tergolong “high technology” baik menyangkut pemilihan bijih logam duaja, pengecoran, pencetakan, hingga penempaannya. Reka cipta ini mengakibatkan perubahan kebudayaan yang signifikan terutama munculnya pola-eksemplar vitalitas kota (necropolis Gilimanuk misalnya), diversifikasi di parasan tiang penghidupan dengan adanya kelompok-gerombolan pandai dalam mahajana (undagi) dan tumbuh suburnya tradisi megalitik yang berintikan pemuliaan kepada semangat nenek moyang. Dengan lain congor, perubahan budaya nan radikal pada masa perundagian mengindikasikan orang mutakadim mengalami revolusi kebudayaan tahap ke-2.

Patut disimak bahwa dinamika arus kultur dalam empat tahap tersebut Bali menunjukan fenomena yang menghela. Terdapat dua catatan penting yang perlu diberikan. Mula-mula, berbeda dengan kewedanan lain di Indonesia, Bali mengalami transmutasi dari budaya agraris langsung ke budaya jasa (pariwisata) tanpa melalui tinggi budaya pabrik (Mardika, 2016). Lompatan budaya ini memunculkan karakteristik partikular terhadap wujud kebudayaan Bali. Kedua, pada dimensi aliran metalurgi masa perundagian Bali menampakan posisi yang bermakna baik di aras kebangsaan atau regional. Data artefaktual yang kontekstual mengindikasikan Bali menjadi salah suatu kawasan siasat perababan plong era perunggu-besi. Alasan lestari yang boleh diberikan, tertentang dari produksi barang perunggu Bali yang menunjukkan varian lokal dan bahkan terindikasi dibuat sendiri, bukan dagangan impor (Ardika, 1995).

Baca :   Lirik Lagu Kasih Jangan Kau Pergi Yoda

Tulisan ini lebih bersandarkan pada kecendrungan pandangan kedua tersebut. Secara khusus, akan dipaparkan adapun konstalasi posisi tamadun Perunggu Bali dalam konteks revolusi budaya pada intiha masa prasejarah. Selanjutnya, ditunjukan sejumlah argumentasi bahwa hari perundagian yakni puncak kebudayaan Bali lega periode prehistory. Implikasinya adalah lampau masuk akal sekiranya urut-urutan kebudayaan periode perundagian bisa dirujuk umpama akar susu-akar tunggang kebudayaan Bali yang berkembang sebatas sekarang ini.

Bali, Resep Perkembangan Kebudayaan Perunggu

Narasi besar berpandangan bahwa teknologi kemahiran menuang perunggu pecah dari tamadun Tiongkok. Tekologi hijau ini kemudian berkembang di Asia Tenggara yang berpusat di Dongson, Vietnam Utara (sesuai cap penemu permulaan merupakan Dong So’kaki langit). Berusul Dongson, kepakaran membuat benda perunggu menyebar ke Indonesia termasuk Bali. Reka cipta beragam jenis benda-benda kangsa di wilayah Vietnam Paksina menjadikan situs Dongson dianggap umpama kunci peradaban kebudayan perunggu di kawasan Asia Tenggara, yang berkembang pada musim 500—300 sebelum masehi (Heekeren, 1955: 69—72).

Grand kisah tentang sentral kebudayan perunggu di Vietnam Lor mulai digugat dengan adanya diskursus baru ‘kisahan kecil’ yang mengarak pluralisme budaya. Studi terhadap tinggalan artefak kuningan di berbagai pecahan mayapada menunjukkan adanya rangka-bentuk variasi domestik yang menyimpang dengan versi kebudayaan Dongson. Satu diantaranya ialah tinggalan benda belek yang ditemukan di Bali. Dari beragam wujud arefak perunggu yang ditemukan tersebar di kewedanan Bali terwalak bentuk-bentuk tempatan sebagaimana genderang kaleng tipe Pejeng (Bintarti, 1996) dan heterogen versi pisau caluk belek yang khas Bali (Mardika, 1990). Indikator ini menjadi ‘pintu masuk’ kemungkinan pusat-pusat kebudayan perunggu tak belaka satu, akan sekadar menyebar. Keagamaan tersebut diperkuat oleh bilang temuan organ pereka cipta benda perunggu seperti perangkat cetak genderang di Jala-jala Puseh Manuaba dan di Sembiran, organ cetak tajak perunggu di situs Pacung dan Sembiran (Ardika, dkk.2017: 14—16). Temuan ini menempatkan Bali sebagai salah satu pusat produksi seni tuang logam lega perian perundagian (Aziz dan Sudiarti, 1996: 2). Bagaimana dua pandangan dikotomis itu dapat dijelaskan? Nada-nadanya berkaitan dekat dengan pergeseran teoritik dari mazab diffusi cenderung ke jihat ekologi budaya.

Sirkulasi diffusionis memandang kebudayaan manusia bersumber dari suatu wadah asal sebagai pusatnya, yang kemudian menyerak ke ajang-tempat bukan melintasi migrasi dari pendukung budaya tersebut. Ideal ini memunculkan perspektif universalisme budaya, nan menyatakan bahwa setiap kultur berasal dari satu bekas, kemudian akan rembet secara bertahap di bervariasi tempat. Pandangan yang monosentris ini memungkirkan fenomena partikularisme budaya yang diusung makanya aliran ilmu lingkungan budaya. Teori ekologi budaya menganggap budaya nan diciptakan manusia tidak bisa dilepaskan dari proses aklimatisasi terhadap lingkungan. Faktor standard dan mileu dimana manusia spirit menjadi kata sentral bagaimana wujud budaya nan diciptakannya (Kaplan & Manners, 2002:101—118).

Konsekuensi makul pernalaran ekologis adalah relativisme budaya, bahwa setiap kebudayaan adalah unik searah persepsi manusia privat menyingkapi lingkungannya. Penalaran teori relativisme budaya menujukan pandangan kita kepada unsur kerumahtanggaan bersumber sentral suatu kebudayaan. Pusat kebudayaan enggak mesti bersumber dari satu asal alias dari luar, melainkan bisa tetapi bersumber dari kerumahtanggaan dan berwatak plural (Kaplan & Manners, 2002:128—130). Hal ini bertepatan memberi ruang terhadap kearifan lokal yang tersebar di berbagai komunitas masyarakat bak respon terhadap kondisi lingkungan bekas suporter budaya itu kehidupan.

Mengacu kepada paradigma budaya tersendiri, dapat terterima jika pusat tamadun perunggu Bali tidak mesti dicari ke luar. Rukyat ilmu lingkungan budaya bersama-sama meneguhkan bahwa cikal bakal budaya domestik tersebut menjadi akar tunjang budaya yang berkembang selanjutnya. Dengan prolog lain, kebudayaan perunggu bagaikan akar tunjang budaya nan hidup dan berkembang intern peradaban Bali tidak harus dicari di tempat tak yang jauh, karena engkau tumbuh sebagai bagian dari adaptasi terhadap mileu sekitarnya. Kalau demikian adanya, pertanyaan selanjutnya yakni partikel-unsur budaya barang apa cuma yang dapat dipandang sebagai akar susu kebudayaan Bali? Uraian berikut berupaya untuk memasrahkan perspektif tentang panca bentuk budaya Bali yang bermula dari periode perundagian.

Perian Perundagian Sebagai Puncak Kebudayaan Bali

Kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu mengalami proses urut-urutan panjang sebagai kontinuitas semangat masa prasejarah. Brandes  dan Krom paling kecil sedikit telah mengenali sepuluh wujud kebudayaan asli Indonesia yang sudah ada sebelum masuknya kontrol Hinduisme. Buram kebudayaan prahindu tersebut meliputi: (1) kenyataan astronomi sehingga nenek moyang mewah menjadi pelaut yang ulung dengan perahu bercadik, (2) sistem pertanian,  (3) seni wayang, (4) pakaian dan pertenunan, (5) sistem perdagangan, (6) pandai logam, (7) membuat gerabah, (8) kosmologi dualisme, (9) organisasi sosial dan (10) sistem kepercayaan khususnya pengultusan terhadap roh karuhun. Ulah unsur-unsur budaya lugu Indonesia tersebut sudah pasti berasal berasal jaman prasejarah. Akan tetapi, kurang jelas disebutkan berusul waktu yang mana semata-mata bentuk kultur itu berasal.

Baca :   Taman Bunga Sederhana Di Depan Rumah

Berikut ini penulis berupaya mendedahkan unsur-unsur kebudayaan pra hindu  yang bersumber dari masa perundagian Bali. Paling adv minim terdapat panca lembaga tamadun terbit perian perundagian yang menjadi pangkal kontinuitas budaya pada ketika ini. Wujud tamadun dimaksud mencaplok: (1) teknologi penciptaan barang-barang mulai sejak perunggu, (2) teknologi pengelolaan pertanian/subak, (3) sistem penguburan dengan wadah / ngaben, (4) seni pahat / ukir, dan (5) bangunan suci tahta batu / pelinggih Padmasana.

Teknik kemahiran kerumahtanggaan membentuk barang-produk dari bahan perunggu dibuktikan dengan temuan alat cetak kerjakan membuat genderang di Pura Puseh Manuaba, Tegalalang. Temuan tersebut menunjukan kesesuaian dengan kelakuan hias kobah pejeng, belaka belaka n domestik pahatan bertambah kecil. Demikian pun perabot cetak kapak perunggu mutakadim ditemukan sreg penyelidikan purbakala di Situs Sembiran dan Pacung.  Bukti-bukti arkeologis tersebut mengindikasikan bahwa pada periode perundagian Bali sudah berpunya memproduksi benda-benda gangsa. Tesa ini diperkuat dengan adanya pusaka benda kangsa yang memadai banyak ditemukan dan tersebar di berbagai kewedanan di Bali. Spesies tinggalan nan ditemukan antara lain berupa alat perhiasan dan senjata, gelang, anting-anting, cincin, kebat pinggang, pisau caluk kangsa, netra pancing, lempengan pentagonal dan tabuh kangsa (Kompiang Gede, 1977: 44). Tabuh perunggu misalnya, ditemukan tersebar hampir di seluruh kabupaten/ii kabupaten di Bali sebagai halnya di Desa Pejeng (Gianyar), Peguyangan (Denpasar), Carangsari (Badung), Basang Be (Tabanan), Pacung (Buleleng), Ban (Karangasem), dan Manikliyu (Bangli). Selain tersebar, temuan aneka varian pisau penebang kangsa di situs Gilimanuk menunjukkan varietas yang khas Bali (Mardika, 1990).

Kobah Pejeng, bukti aneksasi teknologi metalurgi masa perundagian Bali ( mata air : student. unud.ac.id)

Kemampuan di latar pembuatan barang-barang mulai sejak kuningan pada masa perundagian Bali ternyata kontinu hingga saat ini. Model pembuatan benda gangsa dengan teknik ‘a cire perdue’ cetak liling hilang bisa disaksikan pada pembuatan arca belek maupun genta di Desa Budaga Klungkung. Seperti itu pula berusul investigasi etnoarkeologi terhadap cara pembuatan canang di Desa Tihingan, Klungkung mirip dengan teknik bivalve yang diterapkan dalam pembuatan nekara tin. Siapa kerajinan argentum yang mercu dilakukan oleh para perajin galuh di Desa Celuk, Gianyar merupakan kelanjutan dari kemahiran teknik metalurgi dari hari perundagian.

Bersamaan dengan kesuksesan di satah kemahiran teknik pembuatan barang-barang perunggu – besi, sistem tani padi kembali turut berkembang. Ardika (1987) telah membuktikan bahwa keahlian privat penciptaan benda-benda perunggu diikuti dengan terwujudnya organisasi masyarakat peladang gabah. Hal ini cukup berbukti jika dilihat dari dua hal. Pertama, periode perundagian ditandai oleh terbentuknya kelompok-keramaian profesional dalam masyarakat. Satu diantaranya adalah komunitas di parasan pengerjaan sawah pertanian. Kedua, kemampuan penciptaan radas-alat berbunga logam lampau mendukung proses yang berkaitan dengan pengerjaan sawah. Terwujudnya kelompok-kerumunan undagi pada masyarakat, ditunjang maka itu peralatan nan memadai, tak menutup kemungkinan terbentuknya sistem pengelolaan irigasi yang kemudian disebut subak. Sistem subak sebagai bagian dari budaya perladangan (agriculture) adalah landasan kebudayaan Bali yang berkembang hingga dewasa ini.

Selain di bidang pertanaman sawah, tradisi megalitik yang dimulai pada hari bercocok tanam berkembang subur puas waktu perundagian. Nan bermakna ditinjau dari tradisi megalitik pada masa perundagian adalah menyangkut sistem penguburan dengan sarkofagus dan pembuatan tahta batu ialah bangunan tulus bagi memuliakan arwah leluhur. Temuan alat kubur sarkofagus dengan beraneka ragam ukuran dan ragam hias merefleksikan dua hal. Pertama, penguburan dengan sarkofagus lazim diperuntukan bagi kelompok elit internal awam sebagai media ‘kendarahan sukma’ memusat jiwa baru di tunggul fana. Penyertaan pelepas kubur, dan kemungkinan sebagai hipotetis penguburan kedua, ditambah dengan besarnya kuantitas kooperasi orang-orang nan dibutuhkan saat seremoni menjadikan sistem penguburan sarkofagus terkesan ‘instimewa’. Analogi dengan awam yang masih melaksanakan sistem penguburan memakai sarkofagus menyerahkan gambaran bahwa seremoni ini mirip dengan prosesi ngaben. Kedua, arketipe-pola ragam hias yang terdapat plong sarkofagus mengindikasikan adanya kelompok masyarakat yang ahli di permukaan seni pahat. Hasil penelaahan Sutaba (1996) terhadap bentuk-susuk ragam rias yang ada di Sarkofagus setakat pada konklusi bahwa asal-usul seni ukir rayuan cadas mutakadim muncul pada periode perundagian. Demikian halnya ketrampilan untuk memahat gambar pada bidang nekara berlanjut plong generasi waktu ini nan ahli internal pembuatan seni kerajinan dari bahan-incaran metal.

Baca :   Bolehkah Ibu Hamil Makan Lontong Sayur

Sarkofagus koleksi Museum Ilmu purbakala Gedong Arca Gianyar dengan ragam hias kepala kura-kura (mata air: https://paketbalimurah. wordpress.com).

Tahta gangguan sebagai salah satu unsur tradisi megalitik dalam rangka pemujaan kepada roh kakek moyang dipandang andai prototype gedung padmasana yang berkembang masa klasik Hindu (Sutaba, 1995). Dua argumen yang bisa dijadikan indikasi adalah segi rangka dan fungsi tahta batu. Ditinjau dari segi rajah dapat dikatakan tahta batu merupakan wujud padmasana dalam bentuk yang masih polos/primitif. Dilihat terbit kebaikan, baik tahta batu alias padmasana merupakan bangunan tahir. Intern hal ini keyakinan masyarakat tahun perundagian tertuju kepada pendewaan terhadap leluhur, sementara padmasana adalah bangunan suci kekuasaan Hindu buat memuja Yang mahakuasa. Kendatipun berbeda, keyakinan tersebut merupakan suatu kesinambungan dari masa prasejarah hingga memori. Tahta batu waktu prasejarah berlanjut dan berkembang menjadi bangunan suci padmasana masa sejarah.

Perbandingan kerangka Tahta Batu dengan Pelinggih Padmasana (sumber: https://www.google.co.id)

Penutup

Enggak perlu disangsikan lagi bahwa Bali adalah keseleo suatu ki akal produksi benda-benda belek sreg perian perundagian. Banyaknya jumlah dan kanekaragaman tinggalan artefak perunggu, tipe-tipe hasil budaya materi yang bercorak lokal, serta temuan radas-alat cetak penggubah produk kuningan mengindikasikan Bali sudah mampu memintasi teknologi metalurgi secara mandiri. Bahkan kultur Perunggu Bali merupakan tonggak dan akar tunggang-akar kebudayaan nan berkembang pada hari selanjutnya. Lima unsur budaya yang tumbuh bakir pada masa kemahiran teknik mencakup teknologi penciptaan karya seni berpokok logam, budaya pertanian padi, sistem penguburan, seni ukir, dan pendirian bangunan suci bakal vitalitas karuhun adalah kerangka-tulang beragangan kultur Bali yang menonjol sampai sekarang. Oleh karena itu, sepan beralasan jika dikatakan kebudayan perunggu yaitu puncak peradaban Bali sreg masa prasejarah. Pondasi Agama Hindu laksana usia kultur Bali nada-nadanya berawal mulai sejak peradaban Masa Perundagian.

Daftar pustaka

Ardika, I Wayan. 1987. Bronze Artifact and The Rice of Complex Society in Bali. Tesis Temperatur of Arts. The Australian National University.

Ardika, I Wayan; I Ketut Setiawan; I Wayan Srijaya; Rochtri Agung Bawono. 2017. Stratifikasi Sosial puas Masa Prasejarah di Bali. Denpasar: Udayana University Press.

Aziz, Fadhila Arifin dan Sudiarti. 1996. “Alamat Protokoler Tin pada Tadinya Masehi di Bali, Tinjauan berpangkal Sudut Analisa Ilmu pisah” dalam PIA VIII, Cipanas, tanggal 12—16 Maret 1996.

Herimanto dan Winarno. 2009. Mantra Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: PT. Manjapada Aksara.

Kaplan, David dan Robert A. Manners, 2002. Teori Budaya. Edisi ke-3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kompiang Gede, I Dewa. 1977. “Kobah seumpama Wadah Kubur Situs Manikliyu, Kintamani” dalam Dinamika Awam Desa Manikliyu – Bali Menjelang Datangnya Supremsi Hindu-Budha”, Forum Arkeologi Edisi Distingtif No.II/1997-1998 November 1997.Hal. 39—53.

Mardika, I Made. 1990. Kapak Kuningan di Bali. Skripsi. Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar

———————-. 2016. Dekonstruksi Relasi Kuasa Perajin Patung Kayu di Desa Kemenuh Sukawati Gianyar Bali. Disertasi. Program Kajian Budaya Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar.

Sutaba, I Made. 1995. Tahta Batu Prasejarah di Bali: Telaah tentang Rencana dan Fungsinya. Disertasi. Fakultas Ilmu Budaya Perguruan tinggi Gajah Mada Yogyakarta.

——————–   1996. “Berburu Dasar-Usul Seni Pahat di Bali” internal PIA VIII, Cipanas, rontok 12—16 Maret 1996

Video yang gandeng

Sebutkan Peralatan Hidup Yang Dihasilkan Pada Masa Bercocok Tanam

Source: https://toptenid.com/benda-benda-dari-perunggu-pada-zaman-prasejarah-di-bawah-oleh-masyarakat-dongson-yang-berasal-dari

Check Also

Potongan Perbulan Bri Simpedes

Potongan Perbulan Bri Simpedes JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi Dia nan bermaksud mengungkapkan tabungan BRI, utama …